wahai saudari ku MUSLIMAH..!!
untuk SIAPA sebenarnya ENGKAU BERHIAS,
untuk SIAPA sebenarnya ENGKAU PAMERKAN AURAT mu???
jika kalian Jawab: "AKU memamerkannya agar ORANG-ORANG MENGETAHUI bahwa AKU CANTIK, AKU MANIZ, AKU MENARIK, AKU SEKSI, dan KELEBiHAN pada diriku!...!"
MAKA KAMI KEMBALI BERTANYA: ..??
"APAKAH KAMU RELA, KECANTIKANMU itu dinikmati oleh ORANG-ORANG yg DEKAT dan JAUH darimu, RELAKAH dirimu MENJADI BARANG DAGANGAN yang MURAH bagi semua orang atau MENJADi BARANG PAJANGAN yg semua orang dapat melihatnya, baik yg jahat maupun yg terhormat?
BAGAIMANA engkau bisa menyelamatkan dirimu dari MATA SERIGALA yg berwujud MANUSIA?? Maukah dirimu dihargai serendah itu???
ATAU MEMANG RASA MALU ITU TIDAK ADA LAGI DALAM DIRIMU???
Wahai UKHTI MUSLIMAH yang DIRAHMATI ALLAH...
JADI LAH kalian BARANG yg MAHAL, seperti "MUTIARA" bukankah mutiara itu mahal, DIJAGA & DIRAWAT, DISIMPAN BAIK-BAIK serta DIRAWAT, tidak ditaruh DISEMBARANGAN TEMPAT, kecuali tempat yg benar-benar AMAN dan TERJAGA. Jangan menjadi BARANG MURAHAN..
INGATLAH ketika ANDA atau ORANG LAIN HENDAK BERBELANJA :
Ingatlah waktu seorang pembeli ingin membeli sebuah barang dagangan yangg dipajang, bagaimana mereka membolak-balikkan barang tersebut, jika tak tertarik dia tinggalkan, mencari yg lain lagi, kemudian membolak-balikkan lagi, setelah ketemu dan mau mau dibelinya, dia akan meminta pada seorang petugas untuk mencarikan barang yang sejenis dan masih terbungkus rapi yang belum disentuh oleh tangan yg lain,
[moga dipahami maksudnya]
ya akhi.. kewajiban seorang suami menjaga dan memelihara kehormatan keluarganya dari bermaksiat kepada ALLAH. Moga ana (insyaallah nantinya) dan antum tidak memperoleh "SUAMI yang DAYYUTS" yakni "SUAMI yang membiarkan KEMAKSIATAN kepada ALLAH Ta'ala di dalam bahtera RUMAH TANGGA"
--> contohnya: membiarkan istri dan anak perempuan tidak berhijab/jilbab sesuai syari'at, membiarkan anak kita berpacaran, membiarkan tontonan-tontonan yang merusak akidah, akhlaq, dll
[na'udzubillah tsuma na'udzubillahi mindzalika]...
barrokallahufikum..
Kamis, 24 Juni 2010
Senin, 14 Juni 2010
sebuah Koin Penyok
oleh : Gusblero
Lelaki itu keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok sandang dan pangan keluarganya.
Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Lelali itu sudah tak tahan dengan kondisi seperti ini, pun ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, mendapat pekerjaan memperoleh penghasilan.
Ketika lelaki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu kerna gusar, kecewa, dan panik akan tuntutan kehidupannya, ia membawa koin itu ke sebuah bank.
“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 300 ribu rupiah.
Begitu senangnya lelaki itu, ia lalu mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia merasa bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 300 ribu, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel yang sudah terlatih melihat kayu bagus melihat apa yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, kualitasnya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 1.000.000 rupiah kepada lelaki itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 2.000.000 rupiah. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 2.500.000 rupiah. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.
Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 2.500.000 rupiah. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Ahaaaaa....BILA KITA SADAR KITA TAK PERNAH MEMILIKI APAPUN, KENAPA HARUS TENGGELAM DALAM KEPEDIHAN YANG BERLEBIHAN?
Note: kisah ini diadaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns
Lelaki itu keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok sandang dan pangan keluarganya.
Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Lelali itu sudah tak tahan dengan kondisi seperti ini, pun ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, mendapat pekerjaan memperoleh penghasilan.
Ketika lelaki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu kerna gusar, kecewa, dan panik akan tuntutan kehidupannya, ia membawa koin itu ke sebuah bank.
“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 300 ribu rupiah.
Begitu senangnya lelaki itu, ia lalu mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia merasa bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 300 ribu, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel yang sudah terlatih melihat kayu bagus melihat apa yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, kualitasnya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 1.000.000 rupiah kepada lelaki itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 2.000.000 rupiah. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 2.500.000 rupiah. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.
Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 2.500.000 rupiah. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Ahaaaaa....BILA KITA SADAR KITA TAK PERNAH MEMILIKI APAPUN, KENAPA HARUS TENGGELAM DALAM KEPEDIHAN YANG BERLEBIHAN?
Note: kisah ini diadaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns
Minggu, 13 Juni 2010
Sabtu, 12 Juni 2010
MALAM PANJANG DI MINA...
Tahun kedua di Tarim, Alhamdulillah...Allah mengizinkan aku melaksanakan rukun islam yang kelima setelah kepulangan kakakku ke tanah air dan aku kemudian menetap di asrama Daruz Zahra bersama pelajar-pelajar yang lain, keluargaku menyarankan aku berangkat haji dari Yaman.
”Pasti lebih murah....Udah dekat kan?”kata mereka
Dan ini adalah sepenggal kisah indah yang tersisa....
Tanggal 8 Dzulhijjah kala itu ketika kami beberapa orang pelajar putri Daruz Zahra berangkat naik bus bersama rombongan dari tempat kami tinggal selama di Makkah menuju Mina unutk mengerjakan sunnah haji, menginap di Mina pada malam Arafah.
Tenda yang kami tempati selama di Mina ternyata sangat besar dan mewah hingga 200-an orang bisa tertampung didalamnya. Tak ada orang Indonesia selain kami. Mereka yang di tenda itu adalah warga Mekkah, Madinah, Yaman, Mesir, Oman, Kuwait dan negara-negara arab lainnya. Beruntung bahasa arabku kala itu sudah cukup baik hingga aku bisa berkomunikasi dengan tetangga-tetangga baruku di kemah tersebut.
Dan beliau adalah tetangga yang bersebelahan tempat tidurnya denganku. Seorang wanita berusia diatas enam puluhan tahun. Khadijah namanya, jujur sebenarnya aku tidak tahu apa-apa tentangnya dan tidak terlalu peduli dengannya. Namun ketika nyaris semua orang Mekkah, Madinah dan sekitarnya selalu mengelilingi beliau, mulai dar sekedar curhat, minta didoakan, hingga mereka meminta tangan Hubabah Khadijah –begitu mereka memanggil beliau- untuk diletakkan di dada mereka sambil berdoa. Tahulah aku bahwa beliau tentu bukan sembarang orang, dan akupun merasa bangga menjadi tetangganya meski hanya untuk beberapa malam saja. Bukankah tetangga punya hak lebih dari yang lainnya? Jika mereka mendapat jatah doa dari beliau, aku seharusnya mendapat lebih dari mereka semua. Maka aku mempersiapkan diri untuk mendapatkannya...
Keesokan harinya, rangkaian ibadah haji ynag di mulai yang di mulai dengan Wukuf di Arafah, Thowaf, Sa’i hingga melempar jumroh yang berturut-turut, membuatku berada di titik terendah kekuatan fisikku.
Maka, ketika kembali pulang ke Mina untuk Mabit di tiga hari Tasyrik, aku tak peduli apa-apa lagi. Selepas tahallul dan mandi, kelelahan membuatku tertidur lelap sekali.
Pendekatanku pada beliau di mulai hari Tasyrik pertama, usai melempar jumroh di sore hari aku menghampiri beliau dan ku katakan padanya tentang adanya hak tetangga untuk mendapatkan jatah doa dan nasihat darinya. Beliau tersenyum dan bukan mendoakan malah mengajakku mengunjungi seseorang yang sakit di tenda itu, kepalanya terkena lemparan batu saat melempar jumroh pagi tadi.
“Sebagai tetangga yang baik, mari kita kunjungi tetangga kita yang sedang terkena musibah” katanya menggodaku sembari menarik tanganku.
Aku menemani beliau saat adzan Maghrib terdengar berkumandang dari tenda lelaki di samping kami. Usahaku ternyata belum membuahkan hasil.
Selepas sholat, makan malam, dan mendengarkan ceramah dari guru kami Alhabib Umar bin Hafidz yang suaranya di perdengarkan lewat pengeras suara ke tenda wanita, aku kembali mendekati beliau. Kali ini lengkap dengan berbekal air mineral untuk beliau bacakan doa. Aku memang di besarkan dari keluarga yang percaya hal-hal semacam ini. Jika seseorang dalam keluarga kami sakit, ayahku biasa membacakan doa, dzikir, ayat Al Qur’an dan sholawat pada air yang kemudian di minumkan pada yang sakit. Aku yakini hal-hal semacam ini, meski penemuan tentang hidupnya air dan reaksinya yang menjadi energi positif ketika di ucapkan kata-kata yanag baik baru ku tahu 7 tahun kemudian dari sebuah buku karya seorang profesor besar di Jepang.
Aku ajukan air itu pada beliau, namun beliau berkata :
“wudhuku batal, bagaimana jika saya wudhu terlebih dahulu, tertangga kecilku...?” katanya.
Aku mengangguk tanda setuju.
Selepas wudhu beliau langsung mengerjakan sholat yang ku tahu itu pastilah sholat sunnah wudhu. Begitu ia salam dari sholatnya aku menyodorkan kembali air itu. Beliau mengambilnya lalu meletakkannya di samping tempat tidur seraya berkata : “Bagaimana jika saya sholat sunnah Witir dulu barang dua rokaat?”
Aku tentu tak mungkin mencegahnya. Aku cuma bisa mengangguk pasrah. Dan memilih untuk menunggu beliau selesai sholat sambil duduk di atas tempat tidurku sendiri.
Sholatnya ternyata lama sekali. Aku mulai tak sabar menunggu. Dan mungkin karena kelelahan setelah mengerjakan ibadah haji kemarin, mataku mulai nanar tak jelas memandang, pertanda kantuk mulai menyerang.
Aku beringsut membaringkan tubuhku, dan sampai menjelang aku tertidur aku masih melihat beliau belum selesai dari 2 rakaat witirnya yang entah surat apa yang di baca.
Aku terbangun dan melihat kemah sudah gelap temaram pertanda sudah lewat pukul 12 malam dan ternyata aku dapati Hubabah Khodijah masih mengerjakan sholatnya. Aku memandangnya takjub tanpa beranjak dair tempat tidurku. Sekilas dari cahaya remang-remang ku saksikan matanya yang sembab dan air mata mengalir membasahi pipinya yang mulai keriput. Aku terus memandanginya sampai mataku tak bisa lagi berkompromi. Aku kebali tak sadarkan diri, tertidur pulas sekali.
Aku terbangun lagi dan segeera ku lihat jam yang ku taruh di bawah bantalku, jam 2 dini hari. Tenda masih gelap, tak ada suara, begitu sunyi saenyap, semua orang sepertingya telah tertidur lelap.
Namun Subhanallah...
Hubabah Khadijah ku lihat masih berdiri dalam sholatnya entah di rokaatnya yang ke berapa?
Aku memandangnya denagn iri kali ini, dan bukan air mata di pipinya yang ku saksikan dalam keremangan cahaya tapi justru seulas senyum terpancar dari wajahnya dan ku lihat tak ada tanda kelelahan di sana.
Aku hanya bisa memandanginya, dan sungguh baru sekedar memananginya karena untuk bangun dan melaksanakan sholat bersamanya, rasanya badan ini begitu malas dan penat luar biasa. Kubiarkan diriku tertidur lagi.
Aku terjaga kembali dan kali ini lampu tenda sudah menyala, terlihat beberapa orang tengah mengerjakan sholat tahajjud di sela-sela tempat tidur. Terdengar pula suara dzikir dibacakan dari kemah sebelah. Aku memaksakan diri untuk bangun berdiri dan mengambil wudhu. Namun sebeum aku benar-benar berdiri, baru ku sadari Hubabah Khodijah tengah sujud dalam sholatnya. Aku terkesima dan takjub luar biasa. Sungguh, seumur hidup baru kali ini aku menyaksikan denagn mata kepalaku sendiri barangkali aku tak pernah percaya bahwa di zaman sekarang ini masih ada seseorang melakukannya...
Aku ambil air mineralku yang semalam beliau letakkan di samping sajadahnya, menutupnya dan tak lagi merengek padanya untuk membacakan doa tersebut.. Pemberian Allah pada beliau semalaman dalam sholat pastilah cukup membuat air ini bernilai luar biasa.
Terngiang ucapan AlHabib Umar di suatu sore saat memberi pelajaran di majlis rauhahnya ;
“Akan selalau ada di muka bumi ini hamba-hamba kekasih Allah yang hidup mereka telah di wakafkan untuk-Nya. Siang mereka adalah berbuat baik kepada sesama dan malam mereka bersimpuh di mihrab, mendekatkan diri padda Allah dengan ruku’, sujud dan berdiri menghadap-Nya tanpa kenal lelah...mereka adalah hamba-hamba Allah yang terbaik, Allah memberi rahmat kepada kita semua, hamba-hamba-Nya”
Wahai...
Menemukanmu adalah semburat fajar
Kala pekat malam ku kira takkan usai
Wahai....
Mendapatimu adalah guyuran hujan
Kala kebun jiwa kurasa mengering perlahan
Maka, Wahai...
Ku mohon jangan berpaling
Sebab ku pinta kau jadi cahaya
Hingga tak sesat aku mengeja langkag
Tuk telusuri jalan gelap menuju-Nya
Atau ku harap engkau membentang sayap
Mengantar aku ke puncak surga
Kala ruhku merindu Sang Pencipta
Ali Zainal Abidin putra Husein RA setiap kali selepasn berwudhu terlihat gemetar dan pucat pasi. Kala ditanyakan padanya beliau menjawab: “ Tahukah kalian kepada siapa aku akan menghadap dan bermunajat...???”
”Pasti lebih murah....Udah dekat kan?”kata mereka
Dan ini adalah sepenggal kisah indah yang tersisa....
Tanggal 8 Dzulhijjah kala itu ketika kami beberapa orang pelajar putri Daruz Zahra berangkat naik bus bersama rombongan dari tempat kami tinggal selama di Makkah menuju Mina unutk mengerjakan sunnah haji, menginap di Mina pada malam Arafah.
Tenda yang kami tempati selama di Mina ternyata sangat besar dan mewah hingga 200-an orang bisa tertampung didalamnya. Tak ada orang Indonesia selain kami. Mereka yang di tenda itu adalah warga Mekkah, Madinah, Yaman, Mesir, Oman, Kuwait dan negara-negara arab lainnya. Beruntung bahasa arabku kala itu sudah cukup baik hingga aku bisa berkomunikasi dengan tetangga-tetangga baruku di kemah tersebut.
Dan beliau adalah tetangga yang bersebelahan tempat tidurnya denganku. Seorang wanita berusia diatas enam puluhan tahun. Khadijah namanya, jujur sebenarnya aku tidak tahu apa-apa tentangnya dan tidak terlalu peduli dengannya. Namun ketika nyaris semua orang Mekkah, Madinah dan sekitarnya selalu mengelilingi beliau, mulai dar sekedar curhat, minta didoakan, hingga mereka meminta tangan Hubabah Khadijah –begitu mereka memanggil beliau- untuk diletakkan di dada mereka sambil berdoa. Tahulah aku bahwa beliau tentu bukan sembarang orang, dan akupun merasa bangga menjadi tetangganya meski hanya untuk beberapa malam saja. Bukankah tetangga punya hak lebih dari yang lainnya? Jika mereka mendapat jatah doa dari beliau, aku seharusnya mendapat lebih dari mereka semua. Maka aku mempersiapkan diri untuk mendapatkannya...
Keesokan harinya, rangkaian ibadah haji ynag di mulai yang di mulai dengan Wukuf di Arafah, Thowaf, Sa’i hingga melempar jumroh yang berturut-turut, membuatku berada di titik terendah kekuatan fisikku.
Maka, ketika kembali pulang ke Mina untuk Mabit di tiga hari Tasyrik, aku tak peduli apa-apa lagi. Selepas tahallul dan mandi, kelelahan membuatku tertidur lelap sekali.
Pendekatanku pada beliau di mulai hari Tasyrik pertama, usai melempar jumroh di sore hari aku menghampiri beliau dan ku katakan padanya tentang adanya hak tetangga untuk mendapatkan jatah doa dan nasihat darinya. Beliau tersenyum dan bukan mendoakan malah mengajakku mengunjungi seseorang yang sakit di tenda itu, kepalanya terkena lemparan batu saat melempar jumroh pagi tadi.
“Sebagai tetangga yang baik, mari kita kunjungi tetangga kita yang sedang terkena musibah” katanya menggodaku sembari menarik tanganku.
Aku menemani beliau saat adzan Maghrib terdengar berkumandang dari tenda lelaki di samping kami. Usahaku ternyata belum membuahkan hasil.
Selepas sholat, makan malam, dan mendengarkan ceramah dari guru kami Alhabib Umar bin Hafidz yang suaranya di perdengarkan lewat pengeras suara ke tenda wanita, aku kembali mendekati beliau. Kali ini lengkap dengan berbekal air mineral untuk beliau bacakan doa. Aku memang di besarkan dari keluarga yang percaya hal-hal semacam ini. Jika seseorang dalam keluarga kami sakit, ayahku biasa membacakan doa, dzikir, ayat Al Qur’an dan sholawat pada air yang kemudian di minumkan pada yang sakit. Aku yakini hal-hal semacam ini, meski penemuan tentang hidupnya air dan reaksinya yang menjadi energi positif ketika di ucapkan kata-kata yanag baik baru ku tahu 7 tahun kemudian dari sebuah buku karya seorang profesor besar di Jepang.
Aku ajukan air itu pada beliau, namun beliau berkata :
“wudhuku batal, bagaimana jika saya wudhu terlebih dahulu, tertangga kecilku...?” katanya.
Aku mengangguk tanda setuju.
Selepas wudhu beliau langsung mengerjakan sholat yang ku tahu itu pastilah sholat sunnah wudhu. Begitu ia salam dari sholatnya aku menyodorkan kembali air itu. Beliau mengambilnya lalu meletakkannya di samping tempat tidur seraya berkata : “Bagaimana jika saya sholat sunnah Witir dulu barang dua rokaat?”
Aku tentu tak mungkin mencegahnya. Aku cuma bisa mengangguk pasrah. Dan memilih untuk menunggu beliau selesai sholat sambil duduk di atas tempat tidurku sendiri.
Sholatnya ternyata lama sekali. Aku mulai tak sabar menunggu. Dan mungkin karena kelelahan setelah mengerjakan ibadah haji kemarin, mataku mulai nanar tak jelas memandang, pertanda kantuk mulai menyerang.
Aku beringsut membaringkan tubuhku, dan sampai menjelang aku tertidur aku masih melihat beliau belum selesai dari 2 rakaat witirnya yang entah surat apa yang di baca.
Aku terbangun dan melihat kemah sudah gelap temaram pertanda sudah lewat pukul 12 malam dan ternyata aku dapati Hubabah Khodijah masih mengerjakan sholatnya. Aku memandangnya takjub tanpa beranjak dair tempat tidurku. Sekilas dari cahaya remang-remang ku saksikan matanya yang sembab dan air mata mengalir membasahi pipinya yang mulai keriput. Aku terus memandanginya sampai mataku tak bisa lagi berkompromi. Aku kebali tak sadarkan diri, tertidur pulas sekali.
Aku terbangun lagi dan segeera ku lihat jam yang ku taruh di bawah bantalku, jam 2 dini hari. Tenda masih gelap, tak ada suara, begitu sunyi saenyap, semua orang sepertingya telah tertidur lelap.
Namun Subhanallah...
Hubabah Khadijah ku lihat masih berdiri dalam sholatnya entah di rokaatnya yang ke berapa?
Aku memandangnya denagn iri kali ini, dan bukan air mata di pipinya yang ku saksikan dalam keremangan cahaya tapi justru seulas senyum terpancar dari wajahnya dan ku lihat tak ada tanda kelelahan di sana.
Aku hanya bisa memandanginya, dan sungguh baru sekedar memananginya karena untuk bangun dan melaksanakan sholat bersamanya, rasanya badan ini begitu malas dan penat luar biasa. Kubiarkan diriku tertidur lagi.
Aku terjaga kembali dan kali ini lampu tenda sudah menyala, terlihat beberapa orang tengah mengerjakan sholat tahajjud di sela-sela tempat tidur. Terdengar pula suara dzikir dibacakan dari kemah sebelah. Aku memaksakan diri untuk bangun berdiri dan mengambil wudhu. Namun sebeum aku benar-benar berdiri, baru ku sadari Hubabah Khodijah tengah sujud dalam sholatnya. Aku terkesima dan takjub luar biasa. Sungguh, seumur hidup baru kali ini aku menyaksikan denagn mata kepalaku sendiri barangkali aku tak pernah percaya bahwa di zaman sekarang ini masih ada seseorang melakukannya...
Aku ambil air mineralku yang semalam beliau letakkan di samping sajadahnya, menutupnya dan tak lagi merengek padanya untuk membacakan doa tersebut.. Pemberian Allah pada beliau semalaman dalam sholat pastilah cukup membuat air ini bernilai luar biasa.
Terngiang ucapan AlHabib Umar di suatu sore saat memberi pelajaran di majlis rauhahnya ;
“Akan selalau ada di muka bumi ini hamba-hamba kekasih Allah yang hidup mereka telah di wakafkan untuk-Nya. Siang mereka adalah berbuat baik kepada sesama dan malam mereka bersimpuh di mihrab, mendekatkan diri padda Allah dengan ruku’, sujud dan berdiri menghadap-Nya tanpa kenal lelah...mereka adalah hamba-hamba Allah yang terbaik, Allah memberi rahmat kepada kita semua, hamba-hamba-Nya”
Wahai...
Menemukanmu adalah semburat fajar
Kala pekat malam ku kira takkan usai
Wahai....
Mendapatimu adalah guyuran hujan
Kala kebun jiwa kurasa mengering perlahan
Maka, Wahai...
Ku mohon jangan berpaling
Sebab ku pinta kau jadi cahaya
Hingga tak sesat aku mengeja langkag
Tuk telusuri jalan gelap menuju-Nya
Atau ku harap engkau membentang sayap
Mengantar aku ke puncak surga
Kala ruhku merindu Sang Pencipta
Ali Zainal Abidin putra Husein RA setiap kali selepasn berwudhu terlihat gemetar dan pucat pasi. Kala ditanyakan padanya beliau menjawab: “ Tahukah kalian kepada siapa aku akan menghadap dan bermunajat...???”
Sepi...
Oleh : Alyna
Kau biarkan sepi mengurung diri
Kau biarkan seribu tanya tanpa ada jawabnya
Kau biarkan serangga malam iringi langkahmu
Mengapa tak lakukan sesuatu,
Untuk tak biarkan itu semua?
Mengapa tak hadirkanku bebaskan sepimu?
Mengapa tak memintaku jawab seribu tanyamu?
Mengapa tak jadikanku teman setiamu?
Tak perlu kau pinta tuk hadirkanmu dalam tiap lamunanku
Untuk usir kesepianku
Karena bagiku dirimulah lamunan itu
Namun,
Sepi sudah menjadi bagian hidupku
Dan lagi-lagi aku kembali sendiri
Tapi justru yang kuharap bisa mengusir sepiku
Hanya mampu mengurung diri dalam sepi
Hanya mampu berprasangka dalam seribu tanya
Hanya mampu mengadu pada serangga malam
Hanya mampu bermimpi dalam kesepian
" Aku ingin kau tahu, aku tak mau sendiri "
Kau biarkan sepi mengurung diri
Kau biarkan seribu tanya tanpa ada jawabnya
Kau biarkan serangga malam iringi langkahmu
Mengapa tak lakukan sesuatu,
Untuk tak biarkan itu semua?
Mengapa tak hadirkanku bebaskan sepimu?
Mengapa tak memintaku jawab seribu tanyamu?
Mengapa tak jadikanku teman setiamu?
Tak perlu kau pinta tuk hadirkanmu dalam tiap lamunanku
Untuk usir kesepianku
Karena bagiku dirimulah lamunan itu
Namun,
Sepi sudah menjadi bagian hidupku
Dan lagi-lagi aku kembali sendiri
Tapi justru yang kuharap bisa mengusir sepiku
Hanya mampu mengurung diri dalam sepi
Hanya mampu berprasangka dalam seribu tanya
Hanya mampu mengadu pada serangga malam
Hanya mampu bermimpi dalam kesepian
" Aku ingin kau tahu, aku tak mau sendiri "
Langganan:
Postingan (Atom)
