Sabtu, 12 Juni 2010

MALAM PANJANG DI MINA...

Tahun kedua di Tarim, Alhamdulillah...Allah mengizinkan aku melaksanakan rukun islam yang kelima setelah kepulangan kakakku ke tanah air dan aku kemudian menetap di asrama Daruz Zahra bersama pelajar-pelajar yang lain, keluargaku menyarankan aku berangkat haji dari Yaman.

”Pasti lebih murah....Udah dekat kan?”kata mereka

Dan ini adalah sepenggal kisah indah yang tersisa....

Tanggal 8 Dzulhijjah kala itu ketika kami beberapa orang pelajar putri Daruz Zahra berangkat naik bus bersama rombongan dari tempat kami tinggal selama di Makkah menuju Mina unutk mengerjakan sunnah haji, menginap di Mina pada malam Arafah.

Tenda yang kami tempati selama di Mina ternyata sangat besar dan mewah hingga 200-an orang bisa tertampung didalamnya. Tak ada orang Indonesia selain kami. Mereka yang di tenda itu adalah warga Mekkah, Madinah, Yaman, Mesir, Oman, Kuwait dan negara-negara arab lainnya. Beruntung bahasa arabku kala itu sudah cukup baik hingga aku bisa berkomunikasi dengan tetangga-tetangga baruku di kemah tersebut.

Dan beliau adalah tetangga yang bersebelahan tempat tidurnya denganku. Seorang wanita berusia diatas enam puluhan tahun. Khadijah namanya, jujur sebenarnya aku tidak tahu apa-apa tentangnya dan tidak terlalu peduli dengannya. Namun ketika nyaris semua orang Mekkah, Madinah dan sekitarnya selalu mengelilingi beliau, mulai dar sekedar curhat, minta didoakan, hingga mereka meminta tangan Hubabah Khadijah –begitu mereka memanggil beliau- untuk diletakkan di dada mereka sambil berdoa. Tahulah aku bahwa beliau tentu bukan sembarang orang, dan akupun merasa bangga menjadi tetangganya meski hanya untuk beberapa malam saja. Bukankah tetangga punya hak lebih dari yang lainnya? Jika mereka mendapat jatah doa dari beliau, aku seharusnya mendapat lebih dari mereka semua. Maka aku mempersiapkan diri untuk mendapatkannya...

Keesokan harinya, rangkaian ibadah haji ynag di mulai yang di mulai dengan Wukuf di Arafah, Thowaf, Sa’i hingga melempar jumroh yang berturut-turut, membuatku berada di titik terendah kekuatan fisikku.

Maka, ketika kembali pulang ke Mina untuk Mabit di tiga hari Tasyrik, aku tak peduli apa-apa lagi. Selepas tahallul dan mandi, kelelahan membuatku tertidur lelap sekali.

Pendekatanku pada beliau di mulai hari Tasyrik pertama, usai melempar jumroh di sore hari aku menghampiri beliau dan ku katakan padanya tentang adanya hak tetangga untuk mendapatkan jatah doa dan nasihat darinya. Beliau tersenyum dan bukan mendoakan malah mengajakku mengunjungi seseorang yang sakit di tenda itu, kepalanya terkena lemparan batu saat melempar jumroh pagi tadi.

“Sebagai tetangga yang baik, mari kita kunjungi tetangga kita yang sedang terkena musibah” katanya menggodaku sembari menarik tanganku.

Aku menemani beliau saat adzan Maghrib terdengar berkumandang dari tenda lelaki di samping kami. Usahaku ternyata belum membuahkan hasil.

Selepas sholat, makan malam, dan mendengarkan ceramah dari guru kami Alhabib Umar bin Hafidz yang suaranya di perdengarkan lewat pengeras suara ke tenda wanita, aku kembali mendekati beliau. Kali ini lengkap dengan berbekal air mineral untuk beliau bacakan doa. Aku memang di besarkan dari keluarga yang percaya hal-hal semacam ini. Jika seseorang dalam keluarga kami sakit, ayahku biasa membacakan doa, dzikir, ayat Al Qur’an dan sholawat pada air yang kemudian di minumkan pada yang sakit. Aku yakini hal-hal semacam ini, meski penemuan tentang hidupnya air dan reaksinya yang menjadi energi positif ketika di ucapkan kata-kata yanag baik baru ku tahu 7 tahun kemudian dari sebuah buku karya seorang profesor besar di Jepang.

Aku ajukan air itu pada beliau, namun beliau berkata :
“wudhuku batal, bagaimana jika saya wudhu terlebih dahulu, tertangga kecilku...?” katanya.

Aku mengangguk tanda setuju.

Selepas wudhu beliau langsung mengerjakan sholat yang ku tahu itu pastilah sholat sunnah wudhu. Begitu ia salam dari sholatnya aku menyodorkan kembali air itu. Beliau mengambilnya lalu meletakkannya di samping tempat tidur seraya berkata : “Bagaimana jika saya sholat sunnah Witir dulu barang dua rokaat?”

Aku tentu tak mungkin mencegahnya. Aku cuma bisa mengangguk pasrah. Dan memilih untuk menunggu beliau selesai sholat sambil duduk di atas tempat tidurku sendiri.

Sholatnya ternyata lama sekali. Aku mulai tak sabar menunggu. Dan mungkin karena kelelahan setelah mengerjakan ibadah haji kemarin, mataku mulai nanar tak jelas memandang, pertanda kantuk mulai menyerang.

Aku beringsut membaringkan tubuhku, dan sampai menjelang aku tertidur aku masih melihat beliau belum selesai dari 2 rakaat witirnya yang entah surat apa yang di baca.

Aku terbangun dan melihat kemah sudah gelap temaram pertanda sudah lewat pukul 12 malam dan ternyata aku dapati Hubabah Khodijah masih mengerjakan sholatnya. Aku memandangnya takjub tanpa beranjak dair tempat tidurku. Sekilas dari cahaya remang-remang ku saksikan matanya yang sembab dan air mata mengalir membasahi pipinya yang mulai keriput. Aku terus memandanginya sampai mataku tak bisa lagi berkompromi. Aku kebali tak sadarkan diri, tertidur pulas sekali.

Aku terbangun lagi dan segeera ku lihat jam yang ku taruh di bawah bantalku, jam 2 dini hari. Tenda masih gelap, tak ada suara, begitu sunyi saenyap, semua orang sepertingya telah tertidur lelap.

Namun Subhanallah...

Hubabah Khadijah ku lihat masih berdiri dalam sholatnya entah di rokaatnya yang ke berapa?

Aku memandangnya denagn iri kali ini, dan bukan air mata di pipinya yang ku saksikan dalam keremangan cahaya tapi justru seulas senyum terpancar dari wajahnya dan ku lihat tak ada tanda kelelahan di sana.

Aku hanya bisa memandanginya, dan sungguh baru sekedar memananginya karena untuk bangun dan melaksanakan sholat bersamanya, rasanya badan ini begitu malas dan penat luar biasa. Kubiarkan diriku tertidur lagi.

Aku terjaga kembali dan kali ini lampu tenda sudah menyala, terlihat beberapa orang tengah mengerjakan sholat tahajjud di sela-sela tempat tidur. Terdengar pula suara dzikir dibacakan dari kemah sebelah. Aku memaksakan diri untuk bangun berdiri dan mengambil wudhu. Namun sebeum aku benar-benar berdiri, baru ku sadari Hubabah Khodijah tengah sujud dalam sholatnya. Aku terkesima dan takjub luar biasa. Sungguh, seumur hidup baru kali ini aku menyaksikan denagn mata kepalaku sendiri barangkali aku tak pernah percaya bahwa di zaman sekarang ini masih ada seseorang melakukannya...

Aku ambil air mineralku yang semalam beliau letakkan di samping sajadahnya, menutupnya dan tak lagi merengek padanya untuk membacakan doa tersebut.. Pemberian Allah pada beliau semalaman dalam sholat pastilah cukup membuat air ini bernilai luar biasa.

Terngiang ucapan AlHabib Umar di suatu sore saat memberi pelajaran di majlis rauhahnya ;
“Akan selalau ada di muka bumi ini hamba-hamba kekasih Allah yang hidup mereka telah di wakafkan untuk-Nya. Siang mereka adalah berbuat baik kepada sesama dan malam mereka bersimpuh di mihrab, mendekatkan diri padda Allah dengan ruku’, sujud dan berdiri menghadap-Nya tanpa kenal lelah...mereka adalah hamba-hamba Allah yang terbaik, Allah memberi rahmat kepada kita semua, hamba-hamba-Nya”

Wahai...
Menemukanmu adalah semburat fajar
Kala pekat malam ku kira takkan usai

Wahai....
Mendapatimu adalah guyuran hujan
Kala kebun jiwa kurasa mengering perlahan

Maka, Wahai...
Ku mohon jangan berpaling
Sebab ku pinta kau jadi cahaya
Hingga tak sesat aku mengeja langkag
Tuk telusuri jalan gelap menuju-Nya
Atau ku harap engkau membentang sayap
Mengantar aku ke puncak surga
Kala ruhku merindu Sang Pencipta

Ali Zainal Abidin putra Husein RA setiap kali selepasn berwudhu terlihat gemetar dan pucat pasi. Kala ditanyakan padanya beliau menjawab: “ Tahukah kalian kepada siapa aku akan menghadap dan bermunajat...???”