Jumat, 05 November 2010

~ DOA TERINDAH DARI SAHABAT ~ Ya Allah ya Tuhanku.. Diatas sajadah ini Hamba sujud seraya memohon dgn segenap hati dan jiwaku.. Berikanlah segala kemudahan bagi saudara/i dan sahabat-sahabatku sebagaimana Engkau berikan kemudahan bagi orang-orang yg sholeh sebelumnya..... Luaskan rezekinya sebagaimana Engkau luaskan bumi beserta isinya... Percantiklah akhlaknya dgn ketaqwaan... Indahkan lisannya dgn kesantunan.. Lisan yg selalu basah menyebut nama-MU ya Allah.. Kuatkan badannya dgn kesehatan... Jagalah hati serta jiwanya agar senantiasa terhindar dari segala kesalahan... Peliharalah ia dari siksa dunia dan akhirat-MU ya Allah.. Anugrahkanlah ia sifat pemaaf kpd orang-orang yg pernah menyakitinya... Golongkanlah ia ke dalam golongan orang-orang yg sholeh agar bisa mempersembahkan yg terbaik untuk-MU ya Allah Jauhkanlah ia dari sifat lalai dalam mengingat-MU... Berikanlah rasa kesabaran dalam dirinya... Dan jadikan pula ia orang yg pandai bersyukur atas segala ni'mat-MU ya Allah... Karuniakanlah kepadanya hati yang jauh lebih indah dari seindah apapun penampilannya.. Hati yang jauh lebih kaya dari sebanyak apapun harta yang dimilikinya... Lembutkanlah hatinya ya Allah... Duhai Yang Maha Menatap lagi Maha Mendengar.. Sungguh... Rahmat-MU tiada terbatas... Kasih sayang-MU tiada bertepi... Cinta-MU seluas langit dan bumi... Ampunan-MU menutupi murka-MU... Maka berikanlah semua itu padanya ya Allah... Ampunilah dosa-dosanya... Ampunilah kesalahannya... Ampunilah atas kealpaannya... Rabb... Jika ada kata-kata lebih dari sekedar permohonan.. Jika ada kata-kata lebih dari sekedar pertobatan... Pasti ku akan menyebutnya untuk-MU ya Allah... Ya Allah ya Tuhanku... Yang Maha Pemurah lagi Maha Pengasih... Sungguh... Jika bukan Engkau yang kutuju... Dan jika bukan Engkau yang mengabulkan do'aku.. Maka siapa lagi yang dapat mengabulkannya selain Engkau Maka kabulkanlah ya Allah..do'aku untuknya... ...amin..ya Rabbal alamin... By : Sahabat Yang Indah Bagoes Bengkel Hati
Nafas kian habis Kulit akan keriput Kuat pasti akan lemah Hidup kelak akan mati Sempat berganti sempit Waktu pun tak akan pendah kembali Ketika dunia ini menipu diri hinnga membawa diri ini pada hari yang penuh dengan penyesalan dalam hati Hingga diri ini tak sanggup la...gi berdalih, tapi hanya linangan air mata yang sia-sia yang tercucur tanpa henti,air mata pun mengering.. Mencoba hati dan diri ini tuk Ikhlas karna-Nya.. kebesaran hati jadi peraduan hati ini karna-Nya Inginkan diri ini tuk kembali lagi pada fitrah-Mu, maka Ya Ilahi Rabbi kembalikan kembalikan lagi cahaya yang memancar pada diri ini.. Senantisa ikhlas,tawakal,istiqomah,tersenyum dan bersemangat dalam menjalani takdir suci dalam mengarungi pelayaran kehidupan yang penuh dengan derasnya ombak yang akan menerpa... Rabb..hati ini,jiwa ini hanyalah milik-Mu Rabbul Izzati.. jangan biarkan hati ini lemah dan tak berdaya.. kuatkan diri dan jiwa ini Ikhlasakn hati ini karna-Mu

wanita...

Allah berfirman: “Ketika Aku menciptakan seorang wanita, ia diharuskan untuk menjadi seorang yang istimewa. Aku membuat bahunya cukup kuat untuk menopang dunia, namun, harus cukup lembut untuk memberikan kenyamanan.” “Aku memberikannya kekuatan dari dalam untuk mampu me...lahirkan anak dan menerima penolakan yang seringkali datang dari anak-anaknya.” “Aku memberinya kekerasan untuk membuatnya tetap tegar ketika orang-orang lain menyerah, dan mengasuh keluarganya dengan penderitaan dan kelelahan tanpa mengeluh.” “Aku memberinya kepekaan untuk mencintai anak-anaknya dalam setiap keadaan,bahkan ketika anaknya bersikap sangat menyakiti hatinya.” “Aku memberinya kekuatan untuk mendukung suaminya dalam kegagalannya dan melengkapi dengan tulang rusuk suaminya untuk melindungi hatinya.” “Aku memberinya kebijaksanaan untuk mengetahui bahawa seorang suami yang baik takkan pernah sakiti isterinya, tetapi kadang menguji kekuatannya dan ketetapan hatinya untuk berada disisi suaminya tanpa ragu.” “Dan akhirnya, Aku memberinya air mata untuk dititiskan. Ini adalah khusus miliknya untuk digunakan bilapun ia perlukan.” “Kecantikan seorang wanita bukanlah dari pakaian yang dikenakannya, susuk yang ia tampilkan, atau bagaimana ia menyisir rambutnya. Kecantikan seorang wanita harus dilihat dari matanya,kerana itulah hatinya,tempat dimana cinta itu ada.”

Minggu, 12 September 2010

jatuh cinta isrof...

MARIO TEGUH
Janganlah engkau merasa
telah menemukan surga duniamu,
saat engkau jatuh cinta,
...dan dia adalah jiwa seindah malaikat
yang senyum dan sapanya memabukkanmu.

Perhatikanlah,
pernikahan yang hari ini penuh pertengkaran keji
yang saling menyiksa,
dan yang kemudian berpisah dengan pahit
dan penuh kebencian,
hampir semuanya dimulai dengan jatuh cinta.

Berhati-hatilah.

Rabu, 08 September 2010

kau meninggalkanku...

ku lihat ramadhan ari kejauhan, ku dekati dan ku sapa dia, " hendak ke mana?" dengan lembut ia berkata, "aku harus pergi, mungkinjauh dan lama. tolong sampaikan pesan untuk si mukmin, Syawwal telah tiba, ajaklah sabar untuk temani hari-hari duka. peluklah istiqomah saat dia kelelahan dalam perjalanan taqwa. bersandarlah pada tawadhu' saat kesombongan menyerang. mintalah nasihat pada Al Qur'an dan As Sunnah di setiap masalah yang di hadapi. siapkan pula salam dan terima kasih bagi yang telah menyambut dengan suka cita. kelak ku berharap, dia di sambut surga dari pintu Ar Royyan"

Selasa, 24 Agustus 2010

suatu sunnatulloh ketika ada awal pasti ada akhir, ada siang pasti ada malam, semua serba berpasang-pasangan.
kita di pertemukan oleh Allah maka perpisahan inipun karena Allah. tidak ada yang sia-sia, tidak ada yang hilang, tidak ada yang kecewa karena semua milik Allah, Sang Maha Pemilik. mungkin ini menjadi salah satu cara Allah mengajarkanku untuk lebih dewasa dalam makna yang sebenarnya. tunaikan tugas dan amanah masing-masing dan bergantunglah pada yang berhak. kita harus tetap berjuang, titipkanlah semua ini pada Sang Maha Penjaga. Mari jadikan diri kita sukses dunia hattal akhirat!

Selasa, 03 Agustus 2010

kawanku...

asap masih mengepul dari reruntuhan. kayu kayu yang telah menjadi puntung hitam tak sanggup lagi menyangga atap. bau terpanggang masih jelas dikenali hidung. beberapa orang berseragam coklat masih terlihat sok serius mencatat di kertasnya. beberapa orang lagi mengelompok membincangkan sesuatu. sementara lainnya ,menatap nanar le arah tembok putih yang telah dilukis oleh jilatan api yang terlihat sama sekali tidak indah bagiku.

pagi itu seorang remaja belasan tahun terlihat lesu. di penghujung bulan yang begitu disakralkan banyak orang. sesaat kemudian dia bangkit, berusaha menghapus lelah dan sedih di wajahnya. dia bangkit..setelah sesaat terpuruk..hanya sesaat. ringan sekali pergantian mimik itu bagai aktor yang telah beberapa kali mendapatkan piala citra.raut ketabahan jelas terlihat oleh ku yang hanya berada sedepa dari nya. ah kawan..apa yang ada dalam benakmu sekarang?


kawanku..remaja laki laki belasan tahun yang telah diwariskan saeorang kakak perempuan dan tiga orang adik oleh ayahnya yang telah berpulang beberapa tahun lalu.sekarang rumah satu-satunya pun telah dipanggil oleh yang memilikinya.ibunya, perempuan separuh baya itu tanpa sengaja menjatuhkan lilin ke ceceran bensin yang sehari hari dijualnya dan menghanguskan semuanya...

aku merasa beban itu terlalu berat baginya.satu orang kakak perempuan, tiga orang adik, dan seorang perempuan separuh baya yang selalu dipanggilnya ibu yang sekarang sedang terbaring di rumah sakit dengan wajah melepuh dijilati api.bagaimanapun kawanku itu masih remaja belasan tahun yang baru saja meninggalkan masa kanak-kanaknya. bahunya belum cukup lebar menyangga beban seberat itu

beberapa hari kemudian aku menemukan diriku salah. sama sekali salah, dia bukan remaja belasan tahun, dia adalah seorang pria..yang sanggup bangkit dalam keterpurukan.kitab kitab yang telah dibacanya dan ilmu yang telah dipelajarinya bertahun tahun benar benar membantunya..saat inilah sebenar-benarnya iman.disaat terjepit..disaat lapar..disaat tak ada tempat berteduh.bukan omongan kosong diatas mimbar saat amplop menari nari dipelupuk mata.bukan wacana di gedung dewan disaat perut kenyang.

dia masih bersyukur, bahkan disaat orang awam merasa tak ada lagi yang patut disyukuri.dia masih ingat tuhan disaat orang lain merasa tuhan telah lupa padanya.aah...anak sekecil itu.telah sanggup melakukan apa yang mungkin belum sanggup aku lakukan.bahkan oleh sebagian orang yang telah lebih tua dariku.

hari itu kulihat iman sebenar benarnya.sesuatu yang sulit kujumpai pada zaman ini.iman yang kulihat bukan dari pria tua bersorban dan berkopiah haji.bukan dari gentleman yang bersafari, bukan dari pria pria tampan berjenggot dan bekas hitam didahinya, bukan dari lelaki yang selalu kudengar ocehannya setiap jumat..tapi dari seorang remaja sederhana belasan tahun..berkaus lusuh dan memakai jeans..dia kawanku..

____________________

**) tulisan ini milik salah satu sahabat baik uni ria.kata uni Ria : kemarin malam dalam keadaan lelah karena suatu keperluan saya membacanya, sangat menyentuh.. dan dia bilang ini kisah nyata....
saya jadi ingat dosa yg semakin menggunung dan iman yang entah apa kabarnya hari ini.. dan ditambah sedih kalau ramadhan telah menjelang dan saya rasanya belum menyiapkan apa-apa.. Allah, ramadhan kali ini saya tak punya banyak impian lagi, sedikit saja dan berharap itu dapat terwujud di akhir bulan nanti..

buat semuanya... selamat menunaikan ibadah-ibadah ramadhan.. mohon maaf lahir dan bathin...



oleh: Akh Hendra Ikhwan

Kamis, 24 Juni 2010

RENUNGKANLAH...

wahai saudari ku MUSLIMAH..!!
untuk SIAPA sebenarnya ENGKAU BERHIAS,
untuk SIAPA sebenarnya ENGKAU PAMERKAN AURAT mu???
jika kalian Jawab: "AKU memamerkannya agar ORANG-ORANG MENGETAHUI bahwa AKU CANTIK, AKU MANIZ, AKU MENARIK, AKU SEKSI, dan KELEBiHAN pada diriku!...!"
MAKA KAMI KEMBALI BERTANYA: ..??


"APAKAH KAMU RELA, KECANTIKANMU itu dinikmati oleh ORANG-ORANG yg DEKAT dan JAUH darimu, RELAKAH dirimu MENJADI BARANG DAGANGAN yang MURAH bagi semua orang atau MENJADi BARANG PAJANGAN yg semua orang dapat melihatnya, baik yg jahat maupun yg terhormat?

BAGAIMANA engkau bisa menyelamatkan dirimu dari MATA SERIGALA yg berwujud MANUSIA?? Maukah dirimu dihargai serendah itu???
ATAU MEMANG RASA MALU ITU TIDAK ADA LAGI DALAM DIRIMU???


Wahai UKHTI MUSLIMAH yang DIRAHMATI ALLAH...
JADI LAH kalian BARANG yg MAHAL, seperti "MUTIARA" bukankah mutiara itu mahal, DIJAGA & DIRAWAT, DISIMPAN BAIK-BAIK serta DIRAWAT, tidak ditaruh DISEMBARANGAN TEMPAT, kecuali tempat yg benar-benar AMAN dan TERJAGA. Jangan menjadi BARANG MURAHAN..


INGATLAH ketika ANDA atau ORANG LAIN HENDAK BERBELANJA :


Ingatlah waktu seorang pembeli ingin membeli sebuah barang dagangan yangg dipajang, bagaimana mereka membolak-balikkan barang tersebut, jika tak tertarik dia tinggalkan, mencari yg lain lagi, kemudian membolak-balikkan lagi, setelah ketemu dan mau mau dibelinya, dia akan meminta pada seorang petugas untuk mencarikan barang yang sejenis dan masih terbungkus rapi yang belum disentuh oleh tangan yg lain,


[moga dipahami maksudnya]


ya akhi.. kewajiban seorang suami menjaga dan memelihara kehormatan keluarganya dari bermaksiat kepada ALLAH. Moga ana (insyaallah nantinya) dan antum tidak memperoleh "SUAMI yang DAYYUTS" yakni "SUAMI yang membiarkan KEMAKSIATAN kepada ALLAH Ta'ala di dalam bahtera RUMAH TANGGA"


--> contohnya: membiarkan istri dan anak perempuan tidak berhijab/jilbab sesuai syari'at, membiarkan anak kita berpacaran, membiarkan tontonan-tontonan yang merusak akidah, akhlaq, dll
[na'udzubillah tsuma na'udzubillahi mindzalika]...


barrokallahufikum..

Senin, 14 Juni 2010

sebuah Koin Penyok

oleh : Gusblero

Lelaki itu keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok sandang dan pangan keluarganya.

Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Lelali itu sudah tak tahan dengan kondisi seperti ini, pun ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, mendapat pekerjaan memperoleh penghasilan.

Ketika lelaki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya. “Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu kerna gusar, kecewa, dan panik akan tuntutan kehidupannya, ia membawa koin itu ke sebuah bank.

“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya ke kolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 300 ribu rupiah.

Begitu senangnya lelaki itu, ia lalu mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia merasa bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 300 ribu, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata pemilik bengkel yang sudah terlatih melihat kayu bagus melihat apa yang dipanggul lelaki itu. Kayunya indah, kualitasnya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 1.000.000 rupiah kepada lelaki itu.

Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 2.000.000 rupiah. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 2.500.000 rupiah. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.

Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 2.500.000 rupiah. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.

Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”

Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.

Ahaaaaa....BILA KITA SADAR KITA TAK PERNAH MEMILIKI APAPUN, KENAPA HARUS TENGGELAM DALAM KEPEDIHAN YANG BERLEBIHAN?

Note: kisah ini diadaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns

Sabtu, 12 Juni 2010

MALAM PANJANG DI MINA...

Tahun kedua di Tarim, Alhamdulillah...Allah mengizinkan aku melaksanakan rukun islam yang kelima setelah kepulangan kakakku ke tanah air dan aku kemudian menetap di asrama Daruz Zahra bersama pelajar-pelajar yang lain, keluargaku menyarankan aku berangkat haji dari Yaman.

”Pasti lebih murah....Udah dekat kan?”kata mereka

Dan ini adalah sepenggal kisah indah yang tersisa....

Tanggal 8 Dzulhijjah kala itu ketika kami beberapa orang pelajar putri Daruz Zahra berangkat naik bus bersama rombongan dari tempat kami tinggal selama di Makkah menuju Mina unutk mengerjakan sunnah haji, menginap di Mina pada malam Arafah.

Tenda yang kami tempati selama di Mina ternyata sangat besar dan mewah hingga 200-an orang bisa tertampung didalamnya. Tak ada orang Indonesia selain kami. Mereka yang di tenda itu adalah warga Mekkah, Madinah, Yaman, Mesir, Oman, Kuwait dan negara-negara arab lainnya. Beruntung bahasa arabku kala itu sudah cukup baik hingga aku bisa berkomunikasi dengan tetangga-tetangga baruku di kemah tersebut.

Dan beliau adalah tetangga yang bersebelahan tempat tidurnya denganku. Seorang wanita berusia diatas enam puluhan tahun. Khadijah namanya, jujur sebenarnya aku tidak tahu apa-apa tentangnya dan tidak terlalu peduli dengannya. Namun ketika nyaris semua orang Mekkah, Madinah dan sekitarnya selalu mengelilingi beliau, mulai dar sekedar curhat, minta didoakan, hingga mereka meminta tangan Hubabah Khadijah –begitu mereka memanggil beliau- untuk diletakkan di dada mereka sambil berdoa. Tahulah aku bahwa beliau tentu bukan sembarang orang, dan akupun merasa bangga menjadi tetangganya meski hanya untuk beberapa malam saja. Bukankah tetangga punya hak lebih dari yang lainnya? Jika mereka mendapat jatah doa dari beliau, aku seharusnya mendapat lebih dari mereka semua. Maka aku mempersiapkan diri untuk mendapatkannya...

Keesokan harinya, rangkaian ibadah haji ynag di mulai yang di mulai dengan Wukuf di Arafah, Thowaf, Sa’i hingga melempar jumroh yang berturut-turut, membuatku berada di titik terendah kekuatan fisikku.

Maka, ketika kembali pulang ke Mina untuk Mabit di tiga hari Tasyrik, aku tak peduli apa-apa lagi. Selepas tahallul dan mandi, kelelahan membuatku tertidur lelap sekali.

Pendekatanku pada beliau di mulai hari Tasyrik pertama, usai melempar jumroh di sore hari aku menghampiri beliau dan ku katakan padanya tentang adanya hak tetangga untuk mendapatkan jatah doa dan nasihat darinya. Beliau tersenyum dan bukan mendoakan malah mengajakku mengunjungi seseorang yang sakit di tenda itu, kepalanya terkena lemparan batu saat melempar jumroh pagi tadi.

“Sebagai tetangga yang baik, mari kita kunjungi tetangga kita yang sedang terkena musibah” katanya menggodaku sembari menarik tanganku.

Aku menemani beliau saat adzan Maghrib terdengar berkumandang dari tenda lelaki di samping kami. Usahaku ternyata belum membuahkan hasil.

Selepas sholat, makan malam, dan mendengarkan ceramah dari guru kami Alhabib Umar bin Hafidz yang suaranya di perdengarkan lewat pengeras suara ke tenda wanita, aku kembali mendekati beliau. Kali ini lengkap dengan berbekal air mineral untuk beliau bacakan doa. Aku memang di besarkan dari keluarga yang percaya hal-hal semacam ini. Jika seseorang dalam keluarga kami sakit, ayahku biasa membacakan doa, dzikir, ayat Al Qur’an dan sholawat pada air yang kemudian di minumkan pada yang sakit. Aku yakini hal-hal semacam ini, meski penemuan tentang hidupnya air dan reaksinya yang menjadi energi positif ketika di ucapkan kata-kata yanag baik baru ku tahu 7 tahun kemudian dari sebuah buku karya seorang profesor besar di Jepang.

Aku ajukan air itu pada beliau, namun beliau berkata :
“wudhuku batal, bagaimana jika saya wudhu terlebih dahulu, tertangga kecilku...?” katanya.

Aku mengangguk tanda setuju.

Selepas wudhu beliau langsung mengerjakan sholat yang ku tahu itu pastilah sholat sunnah wudhu. Begitu ia salam dari sholatnya aku menyodorkan kembali air itu. Beliau mengambilnya lalu meletakkannya di samping tempat tidur seraya berkata : “Bagaimana jika saya sholat sunnah Witir dulu barang dua rokaat?”

Aku tentu tak mungkin mencegahnya. Aku cuma bisa mengangguk pasrah. Dan memilih untuk menunggu beliau selesai sholat sambil duduk di atas tempat tidurku sendiri.

Sholatnya ternyata lama sekali. Aku mulai tak sabar menunggu. Dan mungkin karena kelelahan setelah mengerjakan ibadah haji kemarin, mataku mulai nanar tak jelas memandang, pertanda kantuk mulai menyerang.

Aku beringsut membaringkan tubuhku, dan sampai menjelang aku tertidur aku masih melihat beliau belum selesai dari 2 rakaat witirnya yang entah surat apa yang di baca.

Aku terbangun dan melihat kemah sudah gelap temaram pertanda sudah lewat pukul 12 malam dan ternyata aku dapati Hubabah Khodijah masih mengerjakan sholatnya. Aku memandangnya takjub tanpa beranjak dair tempat tidurku. Sekilas dari cahaya remang-remang ku saksikan matanya yang sembab dan air mata mengalir membasahi pipinya yang mulai keriput. Aku terus memandanginya sampai mataku tak bisa lagi berkompromi. Aku kebali tak sadarkan diri, tertidur pulas sekali.

Aku terbangun lagi dan segeera ku lihat jam yang ku taruh di bawah bantalku, jam 2 dini hari. Tenda masih gelap, tak ada suara, begitu sunyi saenyap, semua orang sepertingya telah tertidur lelap.

Namun Subhanallah...

Hubabah Khadijah ku lihat masih berdiri dalam sholatnya entah di rokaatnya yang ke berapa?

Aku memandangnya denagn iri kali ini, dan bukan air mata di pipinya yang ku saksikan dalam keremangan cahaya tapi justru seulas senyum terpancar dari wajahnya dan ku lihat tak ada tanda kelelahan di sana.

Aku hanya bisa memandanginya, dan sungguh baru sekedar memananginya karena untuk bangun dan melaksanakan sholat bersamanya, rasanya badan ini begitu malas dan penat luar biasa. Kubiarkan diriku tertidur lagi.

Aku terjaga kembali dan kali ini lampu tenda sudah menyala, terlihat beberapa orang tengah mengerjakan sholat tahajjud di sela-sela tempat tidur. Terdengar pula suara dzikir dibacakan dari kemah sebelah. Aku memaksakan diri untuk bangun berdiri dan mengambil wudhu. Namun sebeum aku benar-benar berdiri, baru ku sadari Hubabah Khodijah tengah sujud dalam sholatnya. Aku terkesima dan takjub luar biasa. Sungguh, seumur hidup baru kali ini aku menyaksikan denagn mata kepalaku sendiri barangkali aku tak pernah percaya bahwa di zaman sekarang ini masih ada seseorang melakukannya...

Aku ambil air mineralku yang semalam beliau letakkan di samping sajadahnya, menutupnya dan tak lagi merengek padanya untuk membacakan doa tersebut.. Pemberian Allah pada beliau semalaman dalam sholat pastilah cukup membuat air ini bernilai luar biasa.

Terngiang ucapan AlHabib Umar di suatu sore saat memberi pelajaran di majlis rauhahnya ;
“Akan selalau ada di muka bumi ini hamba-hamba kekasih Allah yang hidup mereka telah di wakafkan untuk-Nya. Siang mereka adalah berbuat baik kepada sesama dan malam mereka bersimpuh di mihrab, mendekatkan diri padda Allah dengan ruku’, sujud dan berdiri menghadap-Nya tanpa kenal lelah...mereka adalah hamba-hamba Allah yang terbaik, Allah memberi rahmat kepada kita semua, hamba-hamba-Nya”

Wahai...
Menemukanmu adalah semburat fajar
Kala pekat malam ku kira takkan usai

Wahai....
Mendapatimu adalah guyuran hujan
Kala kebun jiwa kurasa mengering perlahan

Maka, Wahai...
Ku mohon jangan berpaling
Sebab ku pinta kau jadi cahaya
Hingga tak sesat aku mengeja langkag
Tuk telusuri jalan gelap menuju-Nya
Atau ku harap engkau membentang sayap
Mengantar aku ke puncak surga
Kala ruhku merindu Sang Pencipta

Ali Zainal Abidin putra Husein RA setiap kali selepasn berwudhu terlihat gemetar dan pucat pasi. Kala ditanyakan padanya beliau menjawab: “ Tahukah kalian kepada siapa aku akan menghadap dan bermunajat...???”

Sepi...

Oleh : Alyna

Kau biarkan sepi mengurung diri
Kau biarkan seribu tanya tanpa ada jawabnya
Kau biarkan serangga malam iringi langkahmu
Mengapa tak lakukan sesuatu,
Untuk tak biarkan itu semua?
Mengapa tak hadirkanku bebaskan sepimu?
Mengapa tak memintaku jawab seribu tanyamu?
Mengapa tak jadikanku teman setiamu?
Tak perlu kau pinta tuk hadirkanmu dalam tiap lamunanku
Untuk usir kesepianku
Karena bagiku dirimulah lamunan itu
Namun,
Sepi sudah menjadi bagian hidupku
Dan lagi-lagi aku kembali sendiri
Tapi justru yang kuharap bisa mengusir sepiku
Hanya mampu mengurung diri dalam sepi
Hanya mampu berprasangka dalam seribu tanya
Hanya mampu mengadu pada serangga malam
Hanya mampu bermimpi dalam kesepian
" Aku ingin kau tahu, aku tak mau sendiri "

Kamis, 03 Juni 2010

Alhubbu yu'mi wayushim. Cinta yang berlebihan --seperti juga Benci yang berlebihan--membuat orang sulit melihat kenyataan dan tak mendengar apa kata --bahkan-- dunia. Seperti kata hikmah: 'Mata Cinta' tak bisa melihat cacat; sebaliknya 'Mata Benci' selalu menampak aib-aib.

Rabu, 26 Mei 2010

Keadilan Cinta

Oleh : Kiai Budi


Sedulurku tercinta, ketika cinta dipahami secara holistik (penuh) dengan merangkum segenap unsur-unsurnya, maka orang akan melihat dengan jelas akan keseimbangan hidup, tidak ada yang gecol di semesta raya ini. Diri akan terasa damai sekali walau dirundung persoalan hidup yang dipahami secara adil itu, ia akan semakin membungkam mulut untuk banyak omong karena terpesona oleh keindahan keadilan, paling-paling ia akan melempar senyum, senyum yang indaaah sekali. Seandainya ia berani omong, paling-paling beraninya yang baik-baik saja, karena pandangan pesona hatinya tidak memungkinkan ada ruang bagi keburukan, tidak ada, tidak ada. Kalau diri itu merajut cinta dalam mahligai keluarga, maka akan tercipta sakinah mawaddah warrahmah. Sampai-sampai Kanjeng Nabi menyebut keluarga yang rukun itu : suasana surga yang diturunkan Tuhan di bumi. Kalau diri-diri semacam ini mengurusi kenegaraan, maka akan tercipta suatu negara yang baldatun thayyibatun warobbun ghafuur. Penduduknya akan menampilkan tarian cinta dalam bentuk saling menyapa, saling silaturrahmi, saling menolong, saling mendo'akan, saling, saling, saling. Setiap diri merasa bahwa kelengkapan hidupnya ditentukan oleh kehadiran pihak lain, bukan sebaliknya kehadiran orang lain bagian dari hal yang mengancam hidupnya, bukan. Kalau diri ini menjadi penghuni dunia maka pandangan keadilan itu membawa kepada sikap ketenangan yang luar biasa. Lihatlah atribut-atribut dunia menjadi sarana pertengkaran yang cenderung primitif, maju kebelakang. Lihatlah, banyak orang yang tidak memahami rububiyah Tuhan, mereka menjadi tuhan itu sendiri, mereka menyerang penyembah berhala, mereka menjadi berhala itu sendiri. Mereka mengutuk setan, aneh bin ajaib mereka menjadi mBahnya setan, menjadi Iblis itu sendiri. Aku tidak benci kepada atribut, karena bisa dijadikan sarana-sarana menggabungkan energi cinta, agar lebih dahsyat bentuk pelayanan sesuai dengan wilayah keluarga, organisasi apa saja, negara apa saja, agama apa saja. Setiap keberadaan pasti atas izin karunia Tuhan,kalau tidak,mengapa mereka tetap dihidupkan. Ini bebarti kita pahami teritorialnya cinta, bisa Rahman bisa Rahim. Hati-hatilah berbicara, karena sekelas Nabi Musa bisa ditegur Gusti Allah atas kelancangannya meremehkan ungkapan cinta seorang penggembala, di gurun sahara itu, apalagi kita-kita ini, kelasnya apa. Termasuk soal keadilan ini, Nabi Musa menggesa : tunjukkan keadilanMU. Maka Tuhan memerintahkan Musa duduk di pinggir kolam : Lihatlah Musa, diseberang kolam, apa yang akan terjadi. Nampaklah peristiwa terjadi, segerombolan rampok datang mabuk dengan meletakkan barang rampokan. Sejenak ada pemuda langsung mengambil barang itu. Begitu para perampok itu sadar dari kemabukannya, sejenak datang orang tua bertongkat, jalannya membungkuk-bungkuk, nampak tanpa salah. Kesimpulan perampok : karena barang rampokan tidak ada,dipuncak kemarahannya para perampok itu membunuh orang sepuh bertongkat itu. Ya Allah--gesa Nabi Musa,,aku tambah tidak faham......Kawan-kawan,akhirnya dijawab oleh Tuhan bahwa anak muda itu tidak salah karena mengambil barangnya sendiri yang dirampok, sementara perampok itu membunuh orang sepuh itu juga bukan kesalahan, karena orang bertongkat itu--dulu, beberapa puluh tahun yang lalu--yang membunuh ayahnya anak muda yang mengambil hartanya sendiri itu. Banyak orang yang bagai Nabi Musa itu : kenapa keadaan begini, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa.........Mereka belum Me-Muhammad!

Senin, 24 Mei 2010

Putaran Cinta

oleh : Kiai Budi


Sedulurku tercinta, ketika Siti Fatimah binti Rasulullah kedatangan pengemis dan sedang tidak punya apa-apa, maka sebuah kalung emas hadiah dari Kanjeng Nabi diberikan kepada pengemis itu, terserah laku berapa. Begitu ketemu pembeli, tanpa tawar menawar pembeli itu langsung minta berapa harganya kepada pengemis, lalu transaksi selesai. Cinta melampaui ranah perhitungan dagang, begitu cepat. Tidak tahunya, pembeli itulah yang memang menghadiahkan kalung emas itu kepada Kanjeng Nabi, sehingga dia bayar sesuka pengemis bilang harganya. Di tangan Kanjeng Nabi, kalung itu dihadiahkan putrinya, ya Siti Fatimah Az-Zahrah itu. Dengan merahasiakan kekagetannya kenapa kalung emas ini bisa di tangan pengemis, kalung tersebut dihadiahkan kepada Rasulullah untuk yang ke dua kali, oleh pedagang emas yang shaleh. Kanjeng Nabi lalu memanggil putrinya dan menyerahkan kalung yang sudah diserahkan pengemis itu : Ya Fatimah, ini kalungmu, dikembalikan Allah setelah berputar memenuhi kebutuhan hambaNya, bersyukurlah. Memang harta itu kalau tidak ingin tercuri, terampok, terbakar atau membusuk harus ditipkan Allah dengan cara disedekahkan. Kalau engkau butuh--pesan Allah--bilang langsunglah kepada Ku, maka akan Aku berikan kepadamu : CASH! Aku percaya janji Allah ini. Percaya sepenuhnya. Bukankah dunia ini bagai gunung, kalau kita lepaskan suara indah, maka gaungnya akan kita dengar sendiri lagi keindahannya, ke kuping kita. Orang Jawa selalu menyatakan : ngunduh wohing pakarti, ojo moyok bakal nemplok. Walau bukan sekelas sedekah kalung emas, ini ada seorang Ibu janda miskin punya anak empat masih kecil-kecil, ingin rasanya yang ragil (paling kecil) bisa merasakan manisnya jeruk yang warna kuning itu. Karena sejak ia hamil anak yang ke empat pernah nyidam jeruk yang tak terbelikan saat suaminya masih hidup. Pagi-pagi pergilah ia ke pasar dengan membawa sekor ayam jago piaraan, untuk dijual, untuk belanja makanan pokok dan sebuah jeruk impian hatinya--untuk anak ragil itu--obat nyidam. Begitu malam tiba, ketika kakak-kakaknya sedang mengaji di Mushalla kampung, dipanggillah anak ragil itu sambil berbisik dia bilang : Le (nak), tadi Ibu ke pasar disamping nempur (beli beras) dan bumbu, masih ada sisa uang lantas bu’e belikan kamu sebuah jeruk kuning ini, melihat kulitnya saja indah nak, apalagi rasa isinya, makanlah sekarang sebelum kakak-kakakmu datang. Ternyata sebuah jeruk ini di tangan anak ragil menjadi lain, hatinya menyatakan tidak mau memakannya, karena sudah pernah merasakan ketika dikasih Bu Guru di sekolahan, biar kakaknya saja yang ngicipi (makan). Begitu semua tertidur--di atas ranjang lebar bareng2--anak ragil ini tidak, lantas dibangunkanlah salah satu kakaknya : kak, tadi aku dikasih Ibu jeruk, namun aku sudah pernah merasakannya, aku rela kakak saja yang makan jeruk ini, aku sudah pernah merasakan. Kakaknya ini memiliki perasaan cinta yang sama dengan adiknya, dibangunkanlah kakaknya lagi : kak, ini ada jeruk dari adik hadiah Ibu, makan kakak saja, aku sudah pernah merasakan kok, barangkali kakak belum. Kakak ini juga sama, bilang kakak yang paling besar : kak, aku di kasih jeruk adik, tapi aku sudah pernah merasakan, barangkali kakak belum. Saling membangunkan dengan tempo yang berbeda karena menjaga perasaan saudaranya, pada jam menjelang subuh. Kakak paling besar ini membangunkan Ibunya : Mak (Ibu), aku dikasih jeruk adik, tapi aku sudah pernah merasakannya kok Mak, ini jeruk untuk Emak aja.....Kawan-kawan, sebuah jeruk berputar, pada saat tarkhim sayup-sayup terdengar dari Masjid Agung kampung, dibangunkannya anak-anak itu semua oleh Ibu, jalan satu-satunya Ibu itu bilang kepada anak-anaknya : Le (anak-anak), ayo sebuah jeruk ini kita bagi, kita makan bersama pagi ini. Sembab sudah mata Ibu ini dengan hati yang gembira tiada tara, karena merasa dihadiai anak-anak yang penuh cinta : Nak, alangkah indah akhlakmu, aku bahagia pagi ini, aku bahagia sekali, aku bahagia sekali Nak, ayo kita makan bersama.......

Bir Cinta

oleh : Kiai Budi


Sedulurku tercinta, anda tentu pernah mengenal Gus Mik, pengembara yang punya nama asli KH. Hamim Jazuli, Ploso Kediri itu. Pesantrennya, beliau bilang sendiri, Gang Dolly, orang memanggil bukan Abah pada umumnya di Pesantren tetapi orang-orang Dolly memanggil kemesraan dengan sebutan Papi. Kalau berbicara tidak pernah ditekan, malah model berbisik, selalu didahului nuwun sewu (mohon maaf ya), menunjukkan kesadaran bahwa pendapatnya bukan satu-satunya yang benar, merendah luar biasa. Tidak pernah pidato, hanya doa-doa, kalau beliau datang ke majlis, Mantap semua hadirin sampai tutup, menanti doa itu, Gus Mik juga diam lama banget, ujungnya berbisik lembut : Al-Fatihah. Puluhan ribu hadirin baru bubar setelah seharian suntuk menyimak kalamullah, ditutup beliau dngan Fatihah itu, selesai. Rokoknya Wismilak, biasa tanpa peci, apalagi udeng2 kayak ban pespaku ini, biasa pakai kaos biasa, jam tangan Rolex, celana jins, tentu alas kaki sandal biasa. Semua Ulama memasang foto beliau di rumah-rumahnya. Dalam khususon arwah, nama beliau disebut setelah ratusan kekasih Allah di-Fatihahi. Suka membagi nasi bungkus dengan jumlah ribuan untuk orang-orang terbuang di kota, lalu bersama mereka tidur dengan alas koran bekas, di emper tokonya temen2 Cina, sampai kesiangan. Tidak pernah mengritik pihak lain, apalagi meremehkan, apalagi memperolok-olok, apalagi menghina, apalagi menyalahkan, apalagi membid'ahkan, apalagi mengkhurofatkan, apalagi mentahayulkan, apalagi menyirikkan, apalagi melaknat, apalagi mengkafirkan, apalagi memunafikkan, apalagi, apalagi, apalagi. Mulut beliau hanya menebar senyum, senyum keikhlasan, ya keikhlasan. Senangnya silaturrahmi, tanpa tepi. Orang sekelas mBah Hamid Pasuruan diminta komentar kepada beliau hanya menjawab : aku belum bisa sekelas Gus Mik. Kalau ditanya soal syariat, selalu mengalihkan pada hal-hal yang non syar'i, beayanya sebaiknya untuk memasakkan anak-anakmu, menyukupi kebutuhan keluargamu, untuk membahagiakan manusia tanpa batas. Gus Dur itu manifesta adabnya. Pernah beliau bilang sama Gus Dur, nanti yang mati Kiai Sidiq dulu, lalu Gus Muk, baru Gus Dur. Ternyata benar adanya. Kalau punya duit, ia datangi pelacur, beliau tanya berapa pendapatan sehari. Kalau sudah tahu, uang beliau hitung dibagi harian itu pelacur lalu bilang : aku bisa membebaskan dirimu tidak di Dolly sekian hari. Gitu. Ketika beliau meninggal, seluruh orang--tanpa batas--melayat, kayak Gus Dur itu meninggal, persis. Setiap khoulnya, semua perusahan ambil peran, entah rokok, entah minuman, entah konsumsi, brekat, sampai melimpah ruah. Do'anya aku wiridkan dengan nada menangis lembut : Ya Allah jama'ah nyuwun gesang berkah istiqomah, panjang umur sregep ngibadah, pinaringan pejah khusnul khotimah, Ya Allah Panjenengan dandosi jama'ah niki, lahir batin sarono manah sae lan suci, Ya Allah jama'ah nyuwun langgeng emut Panjenengan, Ya Allah jama'ah nyuwun pinter nyukuri kanikmatan....Kawan-kawan, aku sendiri kalau pas mendengar jama'ah menjawab : amiiin ya Allah ya rahmanu ya rohim, antaljawadul halim wa anta nikmal mu'in, aku pasti menangis bahagia, ya bahagia tiada tara. Aku merasakan samudra hati beliau, samudra cinta. Pernah beliau trek-trekkan minuman bir sama seseorang. Orang itu merasa kalah, lalu bertanya kepada Gus Mik dalam landasan dalil-dali juga : kenapa Kiai kok minum bir yang memabukkan ini, Papi kok tidak mabuk. Gus Mik menjawab--tentu dengan berbisik lembut : aku buang ke laut, kalau kamu punya duit belikan beras saja untuk anak-anakmu. Kenapa aku minum sekian banyak kok tidak mabuk, karena aku buang ke laut untuk mengajarimu cinta, cinta seluas samudra. Ke laut bagaimana--tanya santri Dolly itu. Gus Mik dengan lembut tangannya melambai memanggil orang itu, dengan berbisik --nyuwun sewu-- di telinga orang itu : lihatlah mulutku. Begitu Gus Mik membukakan mulut beliau, dalam pandangan mata hati orang itu kerongkongan beliau ternyata laut itu....Santri itu sekarang menjadi orang saleh diantara ribuan yang pernah menemukan pengalaman agamawi seperti itu, dari Gus Mik, aku sendiri tidak menangi hidup baliau, tetapi aku temukan jejak-jejak cintanya melalui murid-murid cinta seperti yang aku kisahkan ini, dan menghadiahiku biografi orang tercinta ini....Aku tangisi orang yang tanpa cinta, telah ribuan, terusir dari cahaya karena kebencian dihatinya....

Minggu, 23 Mei 2010

Perkenankanlah Aku Mencintai-Mu Semampuku

Oleh : Azimah Rahayu

Tuhanku,
Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintai-Mu
Lembar demi lembar kitab kupelajari
Untai demi untai kata para ustadz kuresapi
Tentang cinta para nabi
Tentang kasih para sahabat
Tentang mahabbah para sufi
Tentang kerinduan para syuhada
Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam
Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan

Tapi Rabbi,
Berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, dan kemudian tahun berlalu
Aku berusaha mencintai-Mu dengan cinta yang paling utama, namun
Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untuk-Mu
Aku makin merasakan gelisahku membadai
Dalam cita yang mengawang
Sedang kakiku mengambang, tiada menjejak bumi
Hingga aku terhempas dalam jurang dan kegelapan

Wahai Ilahi,
Kemudian berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan tahun berlalu
Aku mencoba merangkak, menggapai permukaan bumi dan menegakkan jiwaku kembali
Menatap, memohon dan menghiba-Mu
Allahu Rahim, Ilahi Rabbi,
Perkenankanlah aku mencintai-Mu,semampuku
Allahu Rahman, Ilahi Rabbi,
Perkenankanlah aku mencintai-Mu
Sebisaku

Ilahi,
Aku belum sanggup mencintai-Mu
Dengan kesabaran menanggung derita
Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa, hingga Al-Musthofa
Karena itu izinkan aku mencintai-Mu
Melalui keluh kesah pengaduanku pada-Mu
Atas derita batin dan jasadku
Atas sakit dan ketakutanku

Rabbi,
Aku belum sanggup mencintai-Mu seperti Abu Bakar, yang menyedekahkan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan diri-Mu dan rasul-Mu bagi pribadi dan keluarga.
Atau layaknya Umar yang menyerahkan separo harta demi jihad.
Atau Utsman yang menyerahkan seribu ekor kuda untuk syiarkan din-Mu.
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku,
Melalui seratus dua ratus perak yang terulur pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan,
Pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di pojok-pojok jembatan.
Pada makanan-makanan sederhana yang terkirim ke handai tolan.

Ilahi,
Aku belum sanggup mencintai-Mu dengan khusyu'nya sholat salah seorang shahabat Rasul-Mu, hingga tak hirau dia pada anak panah musuh yang terhunjam di kakinya.
Karena itu Ya Allah, perkenankanlah aku tertatih menggapai cinta-Mu,
dalam sholat yang coba kudirikan terbata-bata,
meski ingatan sering melayang ke berbagai permasalahan dunia.

Rabbi,
aku belum dapat beribadah ala para sufi dan rahib, yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta dengan-Mu.
Maka izinkanlah aku untuk mencintai-Mu, dalam satu dua rokaat Lailku
Dalam satu dua sunnah nafilah-Mu
Dalam desah napas kepasrahan tidurku

Yaa, Maha Rahman,
Aku belum sanggup mencintai-Mu bagai para al hafidz dan hafidzah,
yang menuntaskan kalam-Mu dalam satu putaran malam.
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku,
melalui selembar dua lembar tilawah harianku
Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku

Allahu Karim,
Aku belum sanggup mencintai-Mu di atas segalanya,
bagai Ibrahim yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya,
dan patuhnya pemuda mengorbankan biji matanya
Maka izinkanlah aku mencintai-Mu di dalam segala
Perkenankanlah aku mencintai-Mu dengan mencintai keluargaku, dengan mencintai sahabat-sahabatku,
dengan mencintai manusia dan alam semesta...


judu; tersebut di pinjam dari judul sebuah puisi karya A. Musthofa Bisri

Kamis, 20 Mei 2010

Tak Cukup Hanya Cinta

"Sendirian aja dhek Lia? Masnya mana?", sebuah pertanyaan tiba-tiba mengejutkan aku yang
sedang mencari-cari sandal sepulang kajian tafsir Qur'an di Mesjid komplek perumahanku sore ini.
Rupanya Mbak Artha tetangga satu blok yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Dia rajin datang ke
majelis taklim di komplek ini bahkan beliaulah orang pertama yang aku kenal disini, Mbak Artha
juga yang memperkenalkanku dengan majelis taklim khusus Ibu-ibu dikomplek ini. Hanya saja
kesibukan kami masing-membuat kami jarang bertemu, hanya seminggu sekali saat ngaji seperti ini atau saat ada acara-acara di mesjid. Mungkin karena sama-sama perantau asal Jawa, kami jadi lebih cepat akrab.
"Kebetulan Mas Adi sedang dinas keluar kota mbak, Jadi Saya pergi sendiri", jawabku sambil
memakai sandal yang baru saja kutemukan diantara tumpukan sandal-sendal yang lain. "Seneng ya dhek bisa datang ke pengajian bareng suami, kadang mbak kepingin banget ditemenin Mas Bimo menghadiri majelis-majelis taklim", raut muka Mbak Artha tampak sedikit berubah seperti orang yang kecewa. Dia mulai bersemangat bercerita, mungkin lebih tepatnya mengeluarkan uneg-uneg.
Sebenarnya aku sedikit risih juga karena semua yang Mbak Artha ceritakan menyangkut kehidupan rumahtangganya bersama Mas Bimo.
Tapi ndak papa aku dengerin aja, masak orang mau curhat kok dilarang, semoga saja aku bisa
memetik pelajaran dari apa yang dituturkan Mbak Artha padaku. Aku dan Mas Adi kan menikah
belum genap setahun, baru 10 bulan, jadi harus banyak belajar dari pengalaman pasangan lain yang sudah mengecap asam manis pernikahan termasuk Mbak Artha yang katanya sudah menikah dengan Mas Bimo hampir 6 tahun lamanya.
"Dhek Lia, ndak buru-buru kan? Ndak keberatan kalo kita ngobrol-ngobrol dulu", tiba-tiba mbak
Artha mengagetkanku. " Nggak papa mbak, kebetulan saya juga lagi free nih, lagian kan kita dah
lama nggak ngobrol-ngobrol" , jawabku sambil menuju salah satu bangku di halaman TPA yang
masih satu komplek dengan Mesjid.
Dengan suara yang pelan namun tegas mbak Artha mulai bercerita. Tentang kehidupan rumah
tangganya yang dilalui hampir 6 tahun bersama Mas Bimo yang smakin lama makin hambar dan
kehilangan arah.
"Aku dan mas Bimo kenal sejak kuliah bahkan menjalani proses pacaran selama hampir 3 tahun
sebelum memutuskan untuk menikah. Kami sama-sama berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja dalam hal agama", mbak Artha mulai bertutur. "Bahkan, boleh dibilang sangat longgar. Kami pun juga tidak termasuk mahasiswa yang agamis. Bahasa kerennya, kami adalah mahasiswa gaul, tapi cukup berprestasi. Walaupun demikian kami berusaha sebisa mungkin tidak meninggalkan sholat.
Intinya ibadah-ibadah yang wajib pasti kami jalankan, ya mungkin sekedar gugur kewajiban saja. Mas Bimo orang yang sabar, pengertian, bisa ngemong dan yang penting dia begitu mencintaiku, Proses pacaran yang kami jalani mulai tidak sehat, banyak bisikan-bisikan syetan yang mengarah ke perbuatan zina. Nggak ada pilihan lain, aku dan mas Bimo harus segera menikah karena dorongan syahwat itu begitu besar.
Berdasar inilah akhirnya aku menerima ajakan mas Bimo untuk menikah".
"Mbak nggak minta petunjuk Alloh melalui shalat istikharah?" , tanyaku penasaran. "Itulah dhek,
mungkin aku ini hamba yang sombong,untuk urusan besar seperti nikah ini aku sama sekali tidak
melibatkan Alloh. Jadi kalo emang akhirnya menjadi seperti ini itu semua memang akibat
perbuatanku sendiri"
menikah menggapai sakinah dan mawaddah baru
aku sadari setelah rajin mengikuti kajian-kajian guna meng upgrade diri. Sejujurnya aku akui, sama sekali tidak ada kreteria agama saat memilih mas Bimo dulu. Yang penting mas Bimo orang yang
baik, udah mapan, sabar dan sangat mencintaiku. Soal agama, yang penting menjalankan sholat dan
puasa itu sudah cukup. Toh nanti bisa dipelajari bersama-sama itu pikirku dulu. Lagian aku kan juga
bukan akhwat dhek, aku
Cuma wanita biasa, mana mungkin pasang target untuk mendapatkan ikhwan atau laki-laki yang
pemahaman agamanya baik", papar mbak Artha sambil tersenyum getir.
Aku perbaiki posisi dudukku, aku pikir ini pengalaman yang menarik. Rasa penasaran dan sedikit
nggak percaya karena Mbak Artha yang aku kenal sekarang adalah tipikal wanita sholehah, berhijab
rapi, tutur kata lembut, tilawahnya bagus dan smangatnya luar biasa. Benar-benar jauh dari profil
yang di ceritakan tadi. Ternyata benar kata pepatah, bahwa pengalaman adalah guru yang paling
berharga. Mungkin bertolak dari minimnya pengetahuan agama, akhirnya mbak Artha berusaha
keras untuk meng-up grade diri. Dan subahanalloh hasilnya sungguh menakjubkan. Mbak Artha
mekar laksana bunga yang sedang tumbuh di musim semi, tapi siapa sangka ternyata indahnya
bunga itu tak lain karena kotoran-kotoran hewan yang menjadi pupuk disepanjang kehidupannya.
Rupanya harapan mbak Artha untuk bisa menimba ilmu agama bersama-sama sang suami tinggal
impian. Mas Bimo yang diharapkan bisa menjadi katalisator dan penyemangat ternyata hanya jalan
ditempat. Hapalan Juz Amma nya belum bertambah, tilawah Al Qur'an-nya masih belum ada
perbaikan masih belum
lancar. Sementara kesibukannya sebagai Brand Manager di salah satu perusahaan Telco milik asing,
makin menyita waktu dan perhatiannya. Masih syukur bisa mengahabiskan weekend bersama Mbak
Artha dan Raihan anak semata wayang mereka, kadang weekend pun mas Bimo harus ke kantor
atau meeting dan lain-lain. Tidak ada waktu untuk menghadiri majelis taklim, tadarus bersama
bahkan sholat berjama'ah pun nyaris tidak pernah mereka lakukan.
Aku jadi teringat khutbah pernikahanku dengan Mas Adi, waktu itu sang ustad berkata "Rumah
tangga yang didalamnnya ditegakkan sholat berjam'ah antara anggota keluarga serta sering
dikumandangkan ayat-ayat Allloh akan didapati kedamaian dan ketenangan didalamnya"
"Dhek....", suara mbak Artha membuyarkan lamunanku. "Iya mbak, saya masih denger kok. Saya
hanya berpikir ini semua bisa menjadi ladang amal buat mbak Artha", jawabku sigap supaya nggak
terlihat kalau emang lagi ngelamun. "Pada awalnya aku juga berpikir seperti itu dhek. Aku berharap
Mas Bimo
juga memiliki keinginan yang sama dengan ku untuk memperdalam pengetahuan kami terhadap
Islam. Aku cukup gembira ketika mas Bimo menyambut ajakanku untuk sama-sama belajar. Namun
dalam perjalanannya, smangat yang kami miliki berbeda. Mas Bimo seolah jalan ditempat. Sempat
miris hati ini
ketika suatu saat aku meminta beliau menjadi imam dalam sholat magrib. Bacaan suratnya masih
yang itu-itu juga dan masih terbata-bata. Aku baru tau bahwa dia belum pernah khatam Qur'an.
Harusnya kan suami itu imam dalam keluarga ya dhek?", mata mbak Artha mulai berkaca-kaca.
"Apa harapanku terlalu tinggi terhadap suamiku? Bukankah harusnya suami itu adalah Qowwam,
pemimpin bagi istrinya. Lalu bagaimana jika sang pemimpin saja belum memiliki bekal yang cukup
untuk menjadi seorang pemimpin?", suara mbak Artha mulai bergetar.
"Terkadang aku ingin sekali tadarus bersama suami, tapi itu semua nggak mungkin terjadi selama
suamiku tidak mau belajar lagi membaca Al-qur'an. Aku juga merindukan sholat berjama'ah dimana
suami menjadi imannya sementara kami istri dan anak menjadi makmumnya. Apa keinginanku ini
berlebihan dhek?", tampak bulir bening mulai mengalir dipipi mbak Artha.
"Berbagai cara sudah ku coba, supaya Mas Bimo bersemangat memperbaiki diri terutama dalam hal
ibadah. Tentunya dengan sangat hati-hati supaya tidak menyinggung perasaannya dan supaya tidak
berkesan menggurui. Aku mulai rajin mengikuti kajian-kajian keislaman, mencoba sekuat tenaga
untuk
sholat 5 waktu tepat pada waktunya dan tilawah qur'an setelah sholat subuh. Bahkan berusaha
bangun malam menunaikan tahajud serta menjalankan sholat dhuha dipagi hari. Semuanya itu
kulakukan, dengan harapan mas Bimo pun akan menirunya. Aku berharap sekali dia terpacu dan
semangat, melihat
istrinya bersemangat" , papar mbak Artha dengan suara yang agak tinggi.
"Tapi sampai detik ini semuanya belum membuahkan hasil. Aku seperti orang yang berjalan
sendiriian. Tertatih, jatuh bangun berusaha menggapai cinta Alloh. Aku butuh orang yang bisa
membimbingku menuju surga. Dan harusnya orang itu adalah Mas Bimo, suami ku"
Kurangkul pundaknya, sambil berbisik "sabar ya mbak, mudah-mudahan semuai harapanmu akan
segera terwujud". Mbak Artha tampak agak tenang dan mulai melanjutkan ceritanya.
"Dari segi materi materi apa yang Mas Bimo berikan sudah lebih dari cukup, overall Mas Bimo
suami yang baik dan bertanggung jawab. Bahtera rumah tangga kami belum pernah diterpa badai
besar, semuanya berjalan lancar. Sampai disuatu saat mbak mulai menyadari sepertinya bahtera
kami telah kehilangan arah dan tujuan. Kami hanya mengikuti arus kehidupan yang smakin lama
smakin membawa kami kearah yang tidak jelas. Kami sibuk dengan aktifitas kami masing-masing.
Kehangatan, kemesraan, ungkapan sayang yang dulu paling aku kagumi dari Mas Bimo sedikit
demi sedikit terkikis di telan waktu dan kesibukannya. Dan yang lebih parahnya lagi, unsur religi
sama sekali tak pernah di sentuh Mas Bimo sebagai kepala keluarga. Fungsi Qowam sebagai
pemimpin dalam menggapai cinta hakiki dari Sang Pemilik Cinta, terabaikan. Mungkin karena
memang bekalnya yang kurang. Sunguh, harapan menggapai sakinah dan mawaddah serta rahmah
semakin hari kian jauh dari pandangan. Rumah tangga kami bagai tanpa ruh dan kering", suara
mbak Artha mulai bergetar kembali.
Aku jadi speachless nggak tau musti berkata apa lagi. Ternyata ketenangan rumah tangga mbak
Artha, menyimpan suatu bara yang setiap saat bisa membakar hangus semuanya. Hanya karena satu
hal, yaitu alpanya sentuhan spritual dalam berumahtangga. Atau mungkin juga adanya
ketidaksamaan visi atau tujuan
saat awal menikah dulu. Bukankan tujuan kita menikah adalah ibadah untuk menyempurnakan
setengah agama. Idealnya, setelah menikah keimanan, ibadah kita makin meningkat. Karena ada
suami yang akan menjadi murobbi atau mentor bagi istri, atau kalaupun sebaliknya jika istri yang
lebih berilmu tidaklah masalah jika istri yang menjadi mentor bagi suami. Yang penting tujuan
menyempurnakan dien guna menggapai sakinah dan mawaddah melalui cinta dan rahmah makin
hari makin terwujud. Mungkin itulah sebabnya mengapa kreteria agama lebih diutamakan daripada
fisik, harta dan keturunan.
Ternyata cinta saja tak cukup untuk bekal menikah, begitupun dengan harta. Pernikahan merupakan
hubungan secara emosional yang harus ditumbuhkan dengan sangat hati-hati, penuh kepedulian dan
saling mengisi.Bahkan puncak kenikmatan sebuah pernikahan bukanlah dicapai melalui penyatuan fisik saja melainkan melalui penyatuan emosional dan spiritual. Pernikahan adalah sarana pembelajaran yang terus menerus. Baik untuk mempelajari karakter pasangan ataupun untuk meng upgrade diri masing-masing.
"Dhek Lia....", Mbak Artha membuyarkan lamunanku. "Makasih ya dhek dah mau jadi kuping buat
mbak", mbak Artha menggenggam tanganku sambil tersenyum. "Mbak yakin dhek Lia bisa
dipercaya, do'akan supaya aku diberikan jalan yang terbaik sama Alloh".
Aku pun tersenyum, "Insyaalloh mbak, maksih juga dah mau sharing masalah ini dengan saya.
Banyak hikmah yang bisa saya dapat dari cerita mbak. Saya masih harus banyak belajar soal
kehidupan berumah tangga mbak. Jazakillah".
Tak terasa hampir 2 jam kami ngobrol di teras TPA. Kumandang adzan dhuhur, mengakhiri obrolan kami. Sambil menuju tempat wudhu mesjid untuk sholat dhuhur berja'maah kusempatkam
mengirim sms ke mas Adi. "Mas aku kangen, kangen sholat bareng, kangen tadarus bareng cepet
pulang ya Mas. Uhibbukafillahi Ta'ala :)

Hanif... hanif...

oleh : Sakti Wibowo
Hanif, sehanif namanya. Teman saya ini seorang yang sederhana, nyaris di segala sikap dan tutur kata.
Apakah engkau tahu pandangannya tentang pernikahan?
“itu adalah sesuatu yang akan didatangkan Allah pada saat diperlukan.”
begitu sederhana, lebih tepat sebagai sikap pasrah. Oleh karena itulah saya bertanya, “tidak
merencanakan?Tidak memilih akhwat mana yang akan kau jadikan ibu dari anak-anakmu?”
Dia hanya tersenyum, “Allah akan mendatangkan berikut segala perangkat yang diperlukan hamba-Nya.”
saya selalu tertegun setiap melihat betapa kehanifan begitu nyata pada dirinya, begitu lurus, begitu tawadu’. Caranya memandang hidup selalu dengan mara yang berbinar-binar, kepercayaan yang
tinggi bahwa Allah punya skenario yang jelas atas hidup seoran gmanusia.
Hanif nyaris tak pernah mengeluh. Saat ia begitu kesulitan mencari pekerjaan, ia tak perlu resah.
Ia selalu bergerak dan itu yang diyakininya bahwa Allah yang akan mendatangkan rizki, di amana
dan kapan pun manusia berada. Rezeki telah jelas alamatnya, tetap dan tepat, tidak akan berkurang
sesuai yang telah dijatahkan, akan didatangkan sesuai dengan waktunya, serta sesuai dengan
keperluannya.
Saya tak berlebihan menyebutnya tak pernah mengeluh. Selepas SMA, Hanif yang satu tingat di
atas saya itu tak mau pergi merantau sebagaimana teman-temannya yang lain, mencari pekerjaan ke
kota.
“aku lebih bermanfaat di sini, Wie! Di kota sudah banyak ustadz, sudah banyak orang yang concern
terhadap dakwah. Sementara di sini, siapa yang akan melakukannya? Lihatlah adik-adik TPA, siapa
yang akan membimbing mereka jika semua pergi.”
Saya mengangguk-anggukan kepala. Saat itu saya tersindir karena saya adalah salah satu dari yang
'pergi'.
“bukahkan engkau juga perlu dunia , Mas?”
“Tentu saja. Tapi, apakah di sini tidak ada dunia?”
“Pekerjaan?Gaji Besar?”
“Di sini aku bekerja. Gaji besar?Kaupikir gajimu lebih besar dari gajiku?”
“Maksudku gaji dalam bentuk uang, Mas, bukan gaji di akhirat. Berdakwah memang perlu dan
penting. Tapi jika aktivis dakwah tidak bekerja, dia akan menjadi beban orang tua, mungkin beban
masyarakat.”
“Aku tidak akan menjadi beban orang tua, apalagi masyarakat”
* * *
hanif memang menbuktikan ucapannya. Dia keluar dari rumah orang tuanya selepas SMA, memilih
ngontrak di sebuah kampung tak seberapa jauh dari rumahnya sendiri. Ia tak pernah mengandalkan harta orangtuanya. Ia bekerja apa saja, berjualan apa saja, sembari terus melebarkan aktivitas dakwahnya.
“Jadilah pohon yang besar, menjadi sarang bagi burung-burung, menjadi tempat berteduh yang
menenangkan, menjadi tempat bergantung, dan bahkan menampung resapan air untuk kemudian
menjadi sumber mata air.”
saya selalu kagum dengan falsafahnya itu. Bukankah memang demikian yang dilakukan Hanif?
Hartanya memang tak seberapa, tepi berapa banyak orang yang bergantung padanya?Berapa banyak orang yang selalu menanti uluran tangannya?
Ia masih tetap ngontrak, satu kamar kecil di sebuah perkampungan sederhana. Ia bergitu dicintai
oleh pemilik kontrakkan – yang beberapa tahun kemudian membebaskannya dari uang kontrak
karena telah menganggapnya sebagai anak.
Hidupnya begitu sederhana – seperi umar – ia terbiasa makan hanya dengan kerupuk dan sambal.
Namun, rumahnya nyaris tak pernah sepi pengunjung.
Telah berapa banyak orang yang di tolongnya memperoleh pekerjaan. Sebagian bahkan menuai
sukses menjadi hartawan. Telah berapa banyak orang diantarkannya meraih kesuksesan? Mereka
yang pernah turun semangatnya kembali meruyak meneladani carnya memandang hidup dengan
berbinar-binar.
“Jangan menjadi buah,” katanya. “Memang selalu buah yang dinanti orang, tetapi setelah dipetik, ia tak lagi bisa berbuat apa-apa.”
dia memang telah menjadi pohon rindang dan rranting tempat bergantung bermacam buah rabum.
Maka, sekali ini, saya kembali bertanya padanya tentang menikah sebab umurnya telah terbilang
cukup. Bahkan, saya yang notabene adik kelasnya telah lebih dulu membina rumah tangga.
:Dia akan didatangkan pada saat yang tepat,” Jawabnya,tetap sederhana.
“Tapi bukankah Allah tidak mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu tudak berusaha
mengubahnya?Manusia tidak boleh sekedar menunggu. Ibadah adalah dalam bentuk ikhtiar itu dan menyerahkan hasilnya setelah berusaha dengan cukup.”
“usahaku adalah dengan memperbaiki diriku sebab yang selalu kuyakini adalah bahwa lelaki yang
baik untuk wanita yang baik>”
“Dalam bentuk amal nyata engkau harus mencarinya.”
“Aku mencarinmya dengan dakwah. Jika suatu saat menikah, aku ingin menikah dengan alasan
dakwah, bukan hanya karena aku tertarik kepada wanita itu.”
* * *
Memang begitulah adanya. Boleh jadi, saya tak sependapat dengan dirinya. Namun tak pelak, saya
harus mengagumi caranya memahami konsep kanaah, menerima apa adanya. Baginya memang
dakwah itu berada di atas segala-galanya.
Tahun 1998, tersebutlah... seorang akhwat menyatakan keinginannya untuk dilamar hanif. Saya
mengetahuinya karena terlibat dalam proses itu. Tada ada syak sedikit pun bahwa Hanif akan
menolaknya sebab dengan alasan apa lagikah seoran gikhwan akan menolak wanita ini? Tak ada
yang bisa dicela darinya. Pun, mengingat prinsip Hanif akan dakwah yang demikian,
memparalelkan dengan aktivitas dakwah sang akhwat, sunggh sebuah sinergi dua kekuatan dakwah
yang luar biasa.
Sayang, di akhir proses itu, Hanif menggeleng.
“Kenapa?” Tanya saya, lebih mewakili pertanyaan orang-orang yang mengetahui kelanjutan proses
ini. Ya. Kenapa?
Hanif hanya sedikit memejamkan matanya. “Belum ada kecondongan itu. Belum ada kebulatan
dalam hatiku sebagaimana azamku sebelumnya. Pun, dalam istikharah panjang, belum juga ada
pertanda, apalagi kemantapan yang didatangkan-Nya.”
Kecewalah saya. Kecewalah kami. Kecewalah semua. Namun, kami harus menghargai keputusan
hanif.
* * *
Tahun 1999, setelah melewati diskusi panjang, Hanif memutuskan untuk pindah dari tempat
kontrakannya. Kali ini, bukan lagi kota kami tempat ia berdiam. Saya masih rasakan pancaran
semangat dakwah itu tak surut dari parasnya, dari setiap tindakan yang ia ambil.
Kali ini, alasan kepindahannya adalah proses 'murtadisasi' yang marak di kawasan pesisir selatan.
Daerah bergunung-gunung, yang -menurut mitos- dikutuk dengan kekeringan. Entah, berapa ribu
korban berjatuhan. Mereka yang menggadaikan iman demi satu atau dua tanki air bersih.
Ke sanalah kini Hanif menuju.
“Banyak yang ingin saya sampaikan dari Rasulullah, Wie,”
katanya, “Sebab bukankah Rasul sering menghadapi kekeringan? Ada banyak teladan kisah dalam
menyikapi kekeringan, cara menghemat air minum namun tidak samapai jorok dan mengabaikan
kebersihan... Banyak sekali.”
saya menganggu sebab sebatas itulah saya bisa mendukung. Saya tidak berfikir apapun tentangnya
selain bagaimana ia nanti akan mencukupi kehidupannya. Tinggal di sana, ia akan bekerja apa untuk
menafkahi hidupnya?Berjualan makanan lagi seperti saat di sini, saya merasa tak yakin itu sebuah
solusi cerdas sebab saya bisa menakar tingkat daya beli orang-orang pesisir ini.
Namun, kekhawatiran saya tak terbukti. Hanif jauh lebih cerdas dari saya yang saya sempat
bayangkan. Dengan 'kemahirannya' memikat hati, ia bisa diterima masyarakat yang kini mayoritas
bukan lagi beragama islam. Kepiawaiannya bergabung dengan kelompok mana pun membuat
'tenaganya' laku dan banyak yang menawar. Banyak pekerjaan-pekerjaan kecil yang diamanahkan
kepadanya dan darinya ia memperoleh upah yang -kendati kecil- bisa dipakainya menutup semua
pengeluaran.
Sama seperti sebelumnya, di sini ia ngontrak di sebuah rumash sederhana. Tak sampai menunggu
tahun, ia telah dibebaskan dari uang kontrak sebab pemilik rumah telah menganggapnya sebagai
anak sendiri.
Hal yang menakjubkan adalah... ketika sang pemilik rumah – yang semula adalah korban
murtadisasi itu- menyatakan keinginannya untuk kembali pada islam. Lelaki sepuh itu bahkan di
kemudian hari menjadi salah satu pembelanya. Ya, fitnah untuk Hanif merebak dan membuat orangorang
kampung meradang, naris menggelandangnya ke tanah lapang, laksana maling ayam yang
ditangkap massa.
Saat itu, dengan tegar dan tangan terentang, sang lelaki sepuh berusaha menenangkan massa,
menjadi saksi sekaligus pembela bahwa Hanif tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan. Sebuah
pembelaan yang mahal ia tebus, yakni kebencian orang-orang kampung.
Tibalah waktunya, kabar dari Hanif itu membuat saya terlengak.
“Menikah?”
“Ya. Bukankah aku telah cukup umur untuk menikah, Wie?”
“Tapi...” Tak sempat saya menyelesaikan kalimat. Saya melihat seoran gadis yang ia perkenalkan.
Wanita inikah yang ia pilih?
Saya nyaris tak bisa menerima, lebih tepatnya kecewa. Seorang gadis dengan baju lengan pendek
yang dipadu dengan celana jeans, tanpa penutup kepala, berdiri di sampingnya.
Sungguh, saya tak bisa menerima kalau keputusan ini yang diambil Hanif. Oleh karena itu saya
memburunya ke tempatnya tinggal, menuntut pertanggungjawaban atas pilihan itu.
“Bukankah telah aku katakan, jika suatu saat aku memutuskan untuk menikah, aku ingin menikah
karena dakwah, bukan karena aku tertarik dengan wanita tersebut.”
panjang lebarlah ia bercerita, tentang sang lelaki sepuh yang beberapa kali datang kepadanya,
memintanya untuk menikahi salah seorang putrinya. Sebuah harapan yang luar biasa dari orang tua
yang menginginkan hidayah kembali datang kepada anak-anaknya.
Awalnya saya menyangkal niat itu, dalam sebuah pertaruhan yang saya bilang konyol. Saya bilang
konyol sebab tak ada jaminan apa pun wanita itu akan masuk islam dan berkafah di dalamnya.
“Banyaklah istri Rasulullah yang beliau nikahi dalam keadaan yahudi,” jawab Hanif. “Saya hanya
ingin mengajakmu berpikir sebaliknya janganlah bertanya tentang apa yang akan saya dapatkan jika
saya menikahinya. Namun, bertanyalah apa yang akan islam dapat jika saya tidak menikahinya.”
Allahu Rabbuna...!
memanglah seperti yang ia katakan. Akan sangat banyak akses yang terjadi jika ia menolak
pinangan itu. Efek yang berpengaruh langsung pada Islam itu sendiri.
Ya, memang sekaranglah saat yang tepat baginya untuk menikah, dengan atau tanpa belitan
masalah. Sebab baginya, dakwah adalah di atas segala-galanya.

Saya Lebih Suka Kehilanga

oleh : Sakti Wibowo

“Tahukah, seberapa luas ruang dalam hatiku yang kusediakan untukmu dan seberapa luas ruang
yang kusediakan untuknya?” tanyaRusdi, kepada Eka.
Tengah malam telah usai ketika itu dan waktu berenang menuju shubuh.
Sepi sudah lama merasuk. Dalam hening yang dihiasi tak-tik jarum jam atau dengus serangga
malam di kejauhan, napas pun jelas terdengar helanya.
Gugup, mata Eka berusaha menyembunyikan gejolak dalam perasaannya sendiri.
“Ruang untuknya begitu luas,” lanjut Rusdi, kali ini dengan binar mata yang redup. “jauh lebih luas
dari ruang yang kusediakan untukmu.” Ia kembali menghela nafas sejenak. “Hanya saja, engkau
harus tahu bahwa ruang yang kecil ini telah berpenghuni. Engkau telah berdiam di dalamnya.
Sementara ruang yang luas itu... Masih menunggu penghuninya datang, berdiam, ataukah malah
sebaliknya, terbang tak tahu kemana tujuannya.”
Saya berada diantara dua karib ini. Keduanya adalah orang yang begitu dekat dengan saya, kendati belum begitu lama saya mengenalnya. Namun, sungguh, dari keduanya, saya belajar begitu banyak makna persaudaraan; kata yang begitu mudah untuk diucapkan, tatapi amat sulit direalisasikan.
Eka, tak begitu banyak yang bisa saya ceritakan darinya, memiliki senyum yang sangat bersahabat. Dalam setiap kesempatan ia tak pernah melupakan 'bahasa' universal itu untuk memanjakan orangorang di sekitarnya dengan 'persaudaraan'.
Bahkan, saya pun, yang belum genap dua bulan mendapat 'jatah' senyum 'menentramkan' miliknya, tak bisa menyangkal bahwa ia memiliki karakter yang cool dan friendly, menawarkan rasa nyaman.
Sementara Rusdi, apa yanghendak saya bincangkan tentangnya?Ia seorang kawan yang cukup uzur didera problem-problem kehidupan. Jika boleh dibilang, parasnya kuyu, lelah dengan cobaan. Rimpuh nian. Empat tahun lalu pernikahan yang ia bina kandas di tengah jalan, meyisakan sakit dan keluh yang begitu panjang. Terkadang, relung luka itu terlihat vegitu menggua di wajahnya, sorot mata, dan tutur katanya.
Hingga, akhirnya... saya menemukan binar itu. Pada suatu pagi, sapaan surya sungguh senada
dengan rekah senyum Rusdi.
“Apakah saya jatuh cinta?” tanyanya seperti tak yakin.
Gembira saya menyadari ada yang kembali 'tumbuh' dalam hatinya yang sekian lama mati.
Memang, boleh dibilang demikian. Kekecewaannya pada kegagalan pernikahan lalu membuat ia
membatasi diri. Bahkan ia cenderung tertutup, tak mau ikut dalam pusaran perbincangan atau
anjuran untuk membina keluarga baru. Saat itu, ia selalu berkata dengan nada pesimis,”Adakah
menikah lagi untuk saya setelahbegitu banyak hal terjadi?Saya takingin mengatakan saya trauma,
hanya saja saya berpikir ada baiknya saya merenungi makna kesendirian. Barangkali itu takdir saya. Toh, saya pernah menikah dan darinya saya diberi-Nya keturunan.”
Telah begitu banyak yang menganjurkannya untuk menikah lagi, tetapi semua itu seperti menembus dinding yang tebal dan menbal. “Dengan menikah lagi, mungkin engkau akan lebih mudah melupakan sakit hati atas pengkhianatan itu,”anjur saya, berulang-ulang kepadanya, di masa-masa lalu. Selama itu pula saya hanya mendapat gelengan. “Entahlah, aku tak yakin apakah aku akan menikah lagi atau tidak. Aku tak ingin dibilang cengeng. Aku juga tidak mengharamkan pernikahan. Tidak, tentu saja, sebab menikah adalah sunah Rasul. Hanya saja, aku harus berpikir seribu kali untuk memutuskannya, sebab aku tak siap untuk mengulangi kegagalan.”
Entah berapa waktu yang ia perlukan untuk berpikir seribu kali itu. Yang saya lihat bahwa ia telah
melewati bilangan tahun keempat percerainnya yang menyakitkan.
“Aku masih menikmati kesendirian semacam ini, Wie!”
katanya. “Memang, terkadang tumbuh rasa sakit setiap mengingat anakku tidak bisa kuambil untuk
kurawat. Namun, paling tidak, aku bisa tumbuhkan sugesti bahwa suatu saat nanti aku akan
memiliki kesempatan berdekatan dengan si Kecil. Ia akan mengerti bahwa aku mencintainya, lewat
surat cinta yang selalu kukirimkan padanya bersama angin, bersama doa, bersama mimpi-mimpi.”
Hingga, akhirnya perubahan yang selalu saya harapkan itu pun datanglah. Saya mendapatinya telah
terpinang cinta. Cinta sering membuat kita menjelma kanak-kanak. Binar itu, adalah binar pemuda
yang jatuh cinta. Manik-manik di matanya berpadu dengan gelisah yang mematri di nyaris segala
sikap.
“Aku tidak menyangkan akan segelisah ini, Wie!,” katanya.
“adakah yang berubah?”
Dan... ia menyebut sebuah nama.
“Kharismanya sungguh luar biasa. Kedewasaan yang terpancar, kebijakan dan kewibawaan dalam
setiap kata yang diucapkannya,” pujinya bulat-bulat.
Ratih, nama gadis itu. Seorang akhwat yang mengagumkan, bukan oleh kecantikan atau
kecerdasan-kendati dua hal itu memang ada padanya- melainkan kesederhanaan dan kedewasaan
yang begitu alami. Saya pun mengakui bahwa Ratih nyaris memiliki segala hal yang mungkin
membuat lelaki manapun jatuh cinta.
“Kenapa tidak meminangnya segera?” tanya saya, lebih bersifat anjuran yang bersifat memaksa.
Kerlingnya, sebelum menjawab, “Aku ingin mengumpulkan keberanian terlebih dahulu.”
Saya berharap, sungguh, agar Rusdi secepatnya mampu menyusun keping-keping hatinya. Saya
ingin secepat mungkin bangkit dari puing-puing duka masa lalu sebab saya tahu hidupnya masih
harus terus berlanjut.
Ada banyak mashlahat yang bisaia raih dengan berkeluarga.
Ada banyak potensi dalam dirinya yang akan berkembang jika ia memiliki pendamping yang tepat.
Seperti selalu saya yakini, menikah adalah sebuah sinergi dakwah. Menikah akan memunculkan
sebuah kekuatan baru lii'laikalimatillah!.
Itulah yang sering kami bincangkan bertiga: saya, Rusdi, dan Eka.
Hingga... tanpa kami duga, sebuah pesan pendek malam itu menguakkan sebuah rahasia. Sebuah
peristiwa haru yang membuat saya terpekur lama, diam-diam menghela napas, mengagumi betapa
sungguh saya diperkenalkan-Nya dengan orang-orang yang berjiwa besar.
Terlengak saya. Saat itu, dengan terbata-bata dan berusaha mengendalikan kegugupannya, Eka
meminta handphone-nya dari tangan saya. Memang, saking dekatnya hubungan kami bertiga, nyaris
tak ada yang kami sembunyikan dari masing-masing. Oleh karenanya pula, kami nyaris tak
mempermasalahkan pesan-pesan singkat dalam handphone kami akan dibaca siapa.
Sayalah yang membuka pesan saat dering handphone Eka mengabarkan pesan baru masuik. Dari
sanalah saya tahu bahwa Eka tengah menjalani masa ta'aruf dengan seorang akhwat, melalui
seorang perantara. Dan ... akhwat itu tiada lain adalah Ratih.
Nyaris tiada kata yang bisa saya ucap. Terbata-bata saya berusaha menyelamatkan kepanikan di
wajah saya, serta berberapa kata yang sempat terlontaar, sehingga cukup nyata didengar Rusdi.
Rusdi? Bagaimana reaksinya?
“Jadi...,” suaranya cekat, “selama ini engkau sedang berproses dengannya?”
Gugup yang sama.
“I-iya...!” Eka berusaha menjawabnya. Cukup lama sunyi menyelingin kata-katanya. “T-tapi saya
lebih suka untuk membatalkan proses ini demi seorang saudara saya.”
tanpa saya duga, Rusdi segera meraih tangan Eka, menggenggamnya erat, dan berkata dengan suara
yang dipenuhi getar. “Alangkah bodohnya saya, alangkah butanya saya, dan... alangkah tidak-tahudirinya
saya jika itu saya lakukan. Sungguh, saya akan berhenti dengan perasaan saya.”
“Tidak! Tidak boleh! Dia sangat berarti bagimu! Tidak demikian dengan saya.” Malam yang begitu
dramatis. Keduanya berpelukan dalam suasana haru.
“Biarkan saya mengalah!” tegas Rusdi. “saya akan mundur dan saya sudah mentap dengan
keputusan saya. Saya hanya butuh waktu untuk mengendalikan perasaan.”
lantas dengan denggan, Eka menjawab, “Saya tidak mau jika engkau mundur hanya karena saya.”
Mata Rusdi mencari wajah Eka. “Apa salahnya? Bukankah Abu Bakar dan Utsman pernah menahan
diri dari Hafshah karena keduanya mendengar Rasulullah pernah menyebut nama putri Umar bin
Khathab itu?”
Alangkah...
saya bersyukur menjadi saksi dari peristiwa menyentuh ini. Sungguh, betapa sulit saya dapati di
masa kini, persaudaraan yang begini erat! Kedekatan memang tidak mutlak dibentuk oleh lamanya
orang saling mengenal-sebabyang saya tahu, Eka dan Rusdi belum genap satu bulan saling
mengenal- tetapi oleh kualitas semangat ukhuwah islamiyah di dalamnya.
Lantas, dalam konsep ukhuwah, tradisi itsar begitu ditekankan oleh sang qudwah, Muhammad.
Inilah itsar itu...

DOKTER HATI

Jika rasa benci atau cinta yang berlebihan tanpa sebab yang jelas adalah salah satu penyakit yang harus diobati, itu sudah ku tahu dari dulu. Tapi kalau di obatinya adalah dengan cara dadamu di usap, kepalamu di pegang sembari di doakan agar kebencian di hatimu terhadap seseorang bisa hilang, seumur hidup baru kali ini ku rasakan.

Aneh memang...

Bagaimana rasa benci terhadap salah satu pelajar yang aku mengajar di kelasnya bisa datang begitu tiba-tiba, tanpa ada sebab bahkan tanpa aba-aba. Aku tiba-tiba tidak ingin memandang wajahya, pusing mendengar suaranya. Bahkan sungguh baru ku tahu bahwa aku bisa benar-benar muntah tatkala secara tidak sengaja melihat wajahnya.

Lebih anehnya lagi dia termasuk pelajar terbaik di kelasnya, cerdas, aktif, penurut dan yang jelas dia tidak pernah bermasalah apapun denganku. Dia pasti bertanya-tanya dan bingung ketika kemudian aku memintanya untuk duduk di barisan belakang dan tidak tepat dihadapanku. Karena aku bahkan tidak bisa berkonsentrasi sama sekali dalam kondisi seperti ini. Dia dan juga teman-teman sekelasnya pasti bingung ketika aku memintanya untuk menuliskan saja pertanyaan yang akan dia lontarkan agar tidak mendengar suaranya yang bisa membuat isi perutku naik ke dada dan mernyebabkan mual secara mendadak begitu saja.

Jangan kau kira aku tak ada usaha apa-apa ntuk menghilangkannya. Berulang kali aku merenung, berperang dengan diri sendiri dan mencoba menenangkan hati saat kebencian itu memanas-manasi. Usahaku tidakmembuahkan hasil.

Doa dan dzikir selalu kubaca setiap kali terpikir bahwa ini merupakan salah satu ujian untukku. Namun semuanya belum cukup untuk emenghilangkan rasa itu.

Setengah mati kucoba sembunyikan kebencian ini darinya, namun sepertinya dia mulai merasakannya juga. Dia lebih banyak diam disepanjang mata pelajaranku. Duduk paling belakang dan tak lagi terlihat tersenyum seperti biasanya.

Ya Allah...aku telah melukai hatinya, aku telah menyakiti perasaannya.

Teman sekamarku yang juga seorang ustadzah mulai merasakan ketidaknyamanan ini, ku ceritakan padanya keanehan yang terjadi lengkap dengan pembelaan bahwa rasa itu muncul tiba-tiba dan tanpa sebab apa-apa.

Dan entah apa yang ada di dalam benaknya, hingga suatu siang sepulang dari masjid selepa sholat Dhuhur ia memintaku berkemas dan kemudian kami berdua bergegas pergi menemui seorang wanita berusia 60-an tahun, temanku ini memanggilnya dengan panggilan Hubabah Umairoh.

Kami menunggu cukup lama di ruang tamu karena beliau masih menemui tamu yang lain sebelum kami kemudian di persilahkan menemui beliau di ruang tengah rumahnya.

“Therapis?Dokter jiwa?psikolog?atau bahkan dukun?”aku menerka-nerka.

Namun bayangan itu hilang seketika saat aku melihat sosoknya. Beliau adalah seoarang wanita dengan wajah keibuan, bicaranya lembut, dan penuh senyuman. Di hadapannya aku merasa seolah bertemu dengan seseorang yang telah lama aku kenal.

Siang itu masih dengan memakai mukena selepas sholat Dhuhur, beliau menyambut kami dengan hangat lalu menanyakan kabar Alhabib Umar bin Hafidz guru kami. Kemudian dengan penuh perhatian beliau, mendengarkan apa yang di tuturkan temanku mengenai diriku tentang rasa benci yang tiba-tiba kurasakan sebagai sesuatu yang tidak wajar, mengingat aku sebelumnya tidak pernah membenci seseorang tanpa sebab yang jelas.

Beliau lalu berdiri menghampiriku, memegang kepalaku sembari menggumamkan doa-doa dan dzikir, tak lama kemudian beliau duduk di hadapanku, mengusap dadaku sambil tidak berhenti berdoa. Dan beliau mengakhiri bacaan-bacaannya dengan meminta kami semua membaca surat Al Fatihah bersama.

“Ada 2 orang yang paling banyak di dengki oleh orang lain di atas muka bumi ini “ kata beliau sembari menuangkan teh di cangkir kecil dan menghidangkannya di hadapan kami.

“Orang yang berharta dan orang yang berilmu” lanjut beliau.

“Jika kamu jadi salah seorang dari mereka, pandai-pandailah menjaga sikap saat bergaul dan berurusan dengan orang lain. Pandai-pandai pulalah menyimpan rasa. Karena bahkan orang yang terlihat di cintai oleh kedua orang inipun akan menimbulkan iri dengki dari yang lainnya. Sepertinya itulah yang terjadi padamu” katanya bijak.

Kami pulang setelah memperoleh anjuran beliau untuk membaca beberapa dzikir saat suasana hati sedang tidak menentu.

Dan Subhanallah...

Apa yang kemudian terjadi sesampainya di asrama sungguh luar biasa. Di pintu masuk aku berjumpa dengan pelajar yang pagi tadi perasaanku padanya masih di penuhi dengan kebencian. Aku pandang wajahnya dan dia menunduk takut, ku cari kebencian yang seminggu ini menyiksaku dan menyiksanya tentu saja, namun rasa itu sungguh-sungguh tak lagi bersisa, sudah hilang entah ke mana.

Aku langsung menyalami dan memeluknya, sementara dia kebingungan, tak mengerti apa yang terjadi

“Maafkan aku...” kataku

“ada apa Ustadzah?” tanyanya kebingungan

“Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi yang pasti aku minta maaf padamu atas semua kesalahanku yang kamu tahu atuapun tidak” jawabku lirih sambil melepaskan pelukanku darinya.

7 tahun berlalu sejak kejadian itu...

Salah satu agenda kegiatan kunjungan kami ke Hadhromaut adalah berziarah kepada para sesepuh yang masih ada. Selain meminta nasihat, kami gunakan kesempatan yang berharga ini untu memohon agar mereka berkenan mendoakan kami. Dan nama Hubabah Umairoh aku masukkan dalm daftar kunjungan tersebut.

Alhamdulilah, sekembalinya aku ke tanah air, aku mendapat kepercayaan setahun sekali dari sebuah biro perjalanan haji dan umrah untuk membimbing jamaah mereka yang hendak menunaikan ibadah umrah. Rombongan yang terdiri dari kurang lebih 30-an orang itu aku pimpin menunaikan ibadah umrah sekaligus berziarah ke negeri Hadhramaut tempat aku dulu pernah menuntut ilmu.

Kami duduk di hadapan Hubabah Umairoh dan meminta beliau mendoakan kami. Belia terlihat jauh lebih tua dari saat ku temui beberapa tahun silam. Keriput di wajahnya semakin dalam, hanya semangat dan kepercayaan dirinya terhadap Allah yang ku lihat tetap sama.

Aku berusaha menterjemahkan percakapan rombonganku kepada beliau dan percakapan beliau kepada mereka. Dan ketika semuanya usai, aku berkata berkata beliau:

“Sekarang giliranku, Hubabah” kataku sambil mendekat

“Doakan agar Allah berkenan mengaruniakan aku keturunan. Hampir 4 tahun aku menikah belum juga di karuniai anak.”

Beliau mendengarkan dengan seksama lalu berujar dengan santai;

“Halimah...

Tidaklah kamu merasa hidup ini sudah begitu sibuk?ada banyak hal di dunia ini menyibukkan kita dari ibadah kepada Allah. Dari 24 jam sehari semalam yang Allah berikan hanya beberapa jam yang tersisa kita gunakan untuk-Nya. Apakah engkau masih ingin menambah kesibukanmu pula dengan urusan anak?”

Aku tercenung mendengar ucapannya yang tidak ku sangka...

Beliau lalu melanjutkan;

“Aku menikah, dan dari sejak awal pernikahanku, aku selalu berharap jika dengan kehadiran anak-anak akan menyibukkanku dari-Nya, maka tanpa karunia anakpun, aku tak apa-apa...aku tak ingin di tersibukkan dengan selain-Nya.”

“Tapi bukankah mereka akan jadi penerus amal kebaikan kita tatkala kita mati nantinya?”kataku membela diri

‘Tak adakah hal lain yang bisa menggantikannya? Ilmu yang kita ajarkan dan di amalkan bahkan oleh generasi mendatrang setelah kita, doa oang banyak yang kita pernah berbuat baik padanya, amal jariyah yang kita lakukan dan kemanfaatannya terus di rasakan?”

Aku terdiam dan berpikir panjang...

Hubabah Umairoh tak menyisakan argumen untukku menjawab ucapannya.

“Tapi...tapi aku masih menginginkannya...walau mungkin hanya untuk sekedar kesempurnaan menjadi seorang wanita”kataku setengah terbata-bata

“Benar Anakku, aku memahamimu...karenanya aku akan tetap mendoakanmu..,namun yakin dan selalu percayalah, bahwa apapun yang Dia pilihkan untukmu itu merupakan hal terbaik yang Dia karuniakan. Dia mengetahui segalanya...dan kita tidak mengetahui apapun sesungguhnya...”

Kata-kata bijaknya selalu ku kenang sampai saat ini, dan sampai saat ini pula aku selalu berdoa kiranya allah berkenan memanjangkan umurnya agar masih banyak orang-orang sepertiku yang bisa memetik pelejaran darinya. Tentang tujuan hidup sesungguhnya..tentang tawakkal, tentang keikhlasan...tentang segala hal...meski entah, apakah orang seperti beliau berharap masih ingin lebih lama hidup di muka bumi ini atau justru sudah merindukan kematian sebagai jembatan pertemuannya dengan Sang Pencipta.

Pentingkah...?
Bila hidup adalah sebuah danau yang tenang
Atau suatu bak air yang keruh ?
Ia tak abadi
Jutaan bintang hidup tanpa cemas
Merpati tak tahu,
Apakah ia makan nati malam?
Tetapi ia tetap bersenandung
Dari gajah sampai unggas
Semua adalah hasil ciptaan tuhan
Dan bergantung kepadaNya
Pemberi rizki yang Maha Agung
(Jalaluddin Ar Rumi)


Anakku...
Bahagiamu letaknya di sini...
Di hatimu sendiri
Bukan pada indah pemandangan
Di tatap mata
Bukan pada sanjungan merdu
Di dengar telinga
Bukan pada kelembutan
Yang dapat kau raba
Ia tak bisa di deteksi panca indra

Sebaliknya, anakku...
Kala hatimu bahagia
Gurun-gurun pasir tak ubah taman bunga
Cacian dan makian serasa senandung belaka
Semua yang kau sentuh terasa bak sutra

Bahagiamu dekat saja, Nak...
Di hatimu sendiri
Tak perlu kau cari ia
Jauh-jauh di sana...

Hubabah tiflah, ajarkan aku berdoa sepertimu...

Hubabah tiflah, ajarkan aku berdoa sepertimu...

Allah berfirman :
Seruanmu memanggil namaKu
Adalah jawabanKu.

Kerinduanmu padaKu
Adalah pesanKu untukmu

Segala upayamu
untuk menggapaiKu
pada hakikatnya adalah
upayaKU menggapaimu

ketakutan dan cintamu
adalah simpul untuk
mendapati Aku

dalam keheningan
yang mengelilingi setiap seruan :
” Allah ”
Menanti seribu jawaban :
” disinilah Aku ”

Lebaran pertamaku di perantauan tanpa ketupat, tanpa opor, tanpa sambal goreng kesukaan, tanpa kue-kue kering makanan khas lebaran. Tanpa orangtua, tanpa saudara, tanpa teman-teman sepermainan. Tanpa siapapun yang sebelumnya ku kenal kecuali kakak laki-lakiku yang memang bersamanya aku merantau ke negeri orang.

Dengan baju baru yang dibelikan kakak semalam, aku berjalan keluar rumah sendirian. Kakakku sudah lebih dulu keluar, ada acara uwadh semacam open house, silaturahim antara ’ulama dan masyarakat.

” khusus laki-laki” jawabnya ketika ku utarakan niatku ikut bersamanya.

Maka, akupun berjalan sendirian. Takbir Idul Fitri sudah tidak lagi terdengar, karena selepas sholat Ied pagi tadi masjid-masjid sudah berhenti mengumandangkan takbir. Dari kejauhan tampak deretan pohon kurma yang tidak sedang berbuah. Sekarang, musim dingin dan pohon-pohon kurma baru akan berbuah pada musim panas. Kabarnya angin panas padang pair yang bisa di sebut Samum (nama angin yang mengeluarkan hawa panas) itulah yang membuat masak buah kurma. Pantas saja pohon kurma tak berbuah di negeri Indonesia. Angin di sana tidak panas malah sejuk menerpa wajah.

Jalanan terlihat lengang hanya sesekali saja kulihat mobil-mobil pribadi yang mungkin membawa penumpangnyza bersilaturahim saling berkunjung pada lebaran seperti ini.

Ku ketuk pintu rumah Ustadzah Zainab Al Khotib. Seorang ustadzah dari Taiz, sebuah kota pertanian didaerah Yaman Selatan yang kini menetap di Tarim dan menajar di Daruz Zahra ( nama lembaga pendidikan agama semacam pesantren putri ) Ma’had di mana aku bersekolah di sana. Suaminya seorang ustadz dan pengurus Darul Musthofa, yayasan yang membawahi Daruz Zahra. Kebetulan kemarin disaat berjumpa dengannya di masjid, sewaktu sama-sama sholat Tarawih terakhir, beliau mengajakku -mungkin karena kasihan terhadap anak baru yang berlebaran sendirian- berkunjung ke beberapa orangtua di negeri ini.

Senyum Muhammad putra ustadzah segera menyambutku kala ia membukakan pintu.

” kamu Halimah dari Indonesia ya?” tanyanya dengan dialek arab yang fasih. Usianya ku taksir sekitar 7 tahun.

Aku mengangguk mengiyakan dan diapun segera berlari kedalam memberi tahukan ibunya setelah sebelumnya mempersilahkan aku masuk dan duduk di ruang tamu. Sebuah ruangan tanpa kursi khas negeri arab hanya bantal-bantal tebal tersusun sebagai sandaran.

Tak lama Ustadzah Zainab menemuiku dengan sebaki nampan penuh makanan. Ada berbagai jenis Halawa ( kue manis biasanya terbuat dari wijen), kacang-kacangan, gela (sejenis kwaci) dan secangkir kecil teh dengan ni’na ( daun mint) minuman khas daerah ini.

Setelah berbasa-basi sebentar menanyakan keadan dan aku menjawabnya dengan bahasa arab ala kadarnya kerena baru kurang lebih sebulan aku tinggal di negeri ini, Ustadzah Zainab menerangkan padaku siapa yang akan kami kunjungi hari ini.

”Kita biasa memanggilnya Hubabah Tiflah” katanya.

” Seorang perempuan tua, ahli ibadah yang lisannya tak pernah berhenti berdzikir. Orang-orang biasa memanggilnya dengan nama itu (dalam bahasa arab artinya bayi) mungkin karena beliau sampai di masa tuanya masih tetap seperti bayi, tak pernah menyakiti siapapun.”

Rumah itu sangat sederhana kalau tidak malah bisa dibilang miskin papa. Tak ada permadani tebal atau sandaran-sandaran empuk layaknya rumah-rumah yang lain pada umumnya. Hanya karpet tipis yang mulai lapuk menutupi tanah tak bersemen di bawahnya. Dindingnya hanya separoh yang di cat. Selebihnya berwarna coklat asli tanah yang di laburkan begitu saja. Ada tumpukan bantal dan selimut usang di sudut ruang. Kurasa di ruangan itu pula mereka bisa tidur di malam hari. Sungguh keadaan yang memprihatinkan. Sangat tidak sesuai dengan raut wajah mereka yang menyambut kami kala masuk rumah tadi. Senyum mereka begitu lepas tanpa beban, tawa ceria anak-anak kecilpun tetap terdengar, sambutan berupa pelukan dan dibarengi ucapan ahlan wa sahlan terdengar berulang-ulang seolah kami adalah kerabat dekat yang selalu dinanti bertandang. Sungguh....Aku jadi betul-betul menyadari memang benar bahwa kebahagiaan tak selalau di ukur dengan materi.

Sekilas ku dengar Ustadzah Zainab memperkenalkan aku kepada keluarga itu sebelum akhirnya menarik tanganku menemui seorang wanita tua yang duduk bersandar di sudut ruangan.

Wanita itu segera tersenyum demi menyadari keberadaan kami. Aku berpikir ini pasti Hubabah Tiflah yang di ceritakan Ustadzah Zainab di rumahnya tadi. Usianya ku taksir diatas tujuh puluhan. Kulitnya sawo matang berkeriput.

Dan Ya Allah...
Ternyata beliau buta...
Pantas saja beliau tidak ikut berdiri bersama yang lain kala menyambut kadatangan kami. Aku perhatikan raut wajahnya. Dia tidak cantik, namun dari wajahnya terlihat seolah tak pernah ada beban atau masalah apapun dalam hidupnya. Beliau betul-betul seperti bayi. Aku diam di hadapannya, tak tahu harus berbuat apa. Hingga tatkala ku lihat Ustadzah Zainab duduk dan mencium tangan wanita itu, akupun cuma mengikuti saja di belakangnya dan sambil kupegangi tangannya, aku memperkenalkan diri.

”Halimah dari Indonesia” kataku dengan lahjah (dialek) yang ketara bukan orang arab tentunya.

Dia balas memegang erat tanganku lama sekali hingga ku rasa hangat tangannya menjalari tanganku. Lalu dia meraba-raba wajahku dengan kedua tangannya. Mungkin untuk mempermudah beliau membayangkan rupaku.

Kemudian diletakkannya tangan kanannya di dadaku, dan lalu ia mendoakanku. Dia terus berdoa dan tak henti-hentinya berdoa untukku. Seolah saat itu tidak ada yang lebih penting baginya kecuali aku. Perempuan asing yang bahkan baru ia kenal beberapa menit yang lalu. Ia masih saja berdoa dengan satu kalimat sederhana. Ya, ia berdoa dengan satu kalimat saja. Satu kalimat doa yang tak akan pernah ku lupa. Apalagi tatkala kemudian di iringinya doa tersebut dengan linangan air mata. Sungguh membuat aku terpana, lemas tak mampu bahkan untuk mengangkat tanganku mengaminkan doanya...

”Semoga Allah takkan pernah tega menyengsarakanmu, Anakku...” Doa itu terus di ulangnya berkali-kali dengan cucuran air mata...

Ya Allah, sampai kapanpun, dimanapun, jangan pernah tega untuk menyengsarakan hidupnya... ” katanya lagi dan lagi dengan air mata yang membanjiri wajah tuanya. Membuatku tak kuasa membendung luapan air mata dan akupun ikut menangis terguguk di lantai itu juga.

”Ya Allah...kabulkan doanya.” teriakku dalam hati. Jangan pernah tega menyengsarakan aku sekarang, nanti dan selamanya, disini dan di sana. Di dunia ini ataupun hari setelahnya.

Tangisku tumpah ruah. Ku kutuki diri dan dosa-dosa yang cukup membuat Allah murka dan berkemungkinan membuatku sengsara. Aku malu atas gunung-gunung dosa yang ku timbun tak habis-habisnya.

”Ya Allah, dan maafkan aku hanya tak mengerti bagaimana berdoa pada-Mu. Maafkan aku yang jika untuk keselamatan diriku harus ada orang lain yang memohonkan dengan linangan air mata. Sesuatu yang bahkan tak ku ingat pernah ku lakukan ”

”Dan terimakasih Ya Allah...Kau perkenalkan aku pada wanita ini yang berdoa untukku ribuan kali lebih baik dariku.”

”Terimakasih unruk airmata kesungguhannya yang mungkin tak ku dapat dari orang-orang yang mengaku mencintaiku sekalipun.”

”Terimakasih pula telah Kau bawa aku ke rumah ini. Rumah yang aku yakini di mata malaikat-malaikat-Mu lebih indah dari rumah bermarmer mewah namun penghuninya tak pandai mensyukuri nikmat-Mu.”

”Terimakasih Ya Allah untk sebuah pelajaran berharga”

”Doamu untuk sesama adalah hadiah terindah yag dapat kau berikan padanya.”

SYARIFAH HALIMAH ALAYDRUS

SYARIFAH HALIMAH ALAYDRUS

Halimah alaydrus, wanita kelahiran Indramayu Jawa Barat 30 tahun lalu ini, sejak kecil memutuskan untuk mempelajari ilmu agama di beberapa pesantren daripada menyelesaikan pendidikan formalnya. Darullughoh Wadda’wah di Bangil-Pasuruan Jawa Timur adalah pesantren pertamanya, kemudian At Tauhidiyah Tegal dan Al Anwar Sarang Rembang Jawa Tengah. Pendidikan terakhirnya di Daruz Zahra Tarim-Hadhramaut Yaman. Di sana selain mengikuti proses belajar, juga di percaya untuk mengajar.

Saat ini dengan dukungan suami, keluarga dan sahabat-sahabatnya, selain aktif dan sibuk mengajar diberbagai majlis ta’lim di DKI Jakarta dan sekitarnya, juga melakukan Rihlah Da’wah dan Ilmiah di berbagai propinsi di Indonesia, Singapura, Malasyia dan Oman.

“Bidadari Bumi” adalah buku pertama yang di tulis disela-sela kesibukannya mengajar dan berdakwah.

Tentang bidadari bumi

Oleh Syarifah Halimah Alaydrus

Jika dalam hidup ini ada kebahagiaan yang harus saya bagi pada sesama, maka mungkin inilah saat yang tepat bagi saya untuk mencoba.

Perjumpaan dengan wanita-wanita mulia disela-sela masa belajar saya di Tarim, sebuah kota kecil di propinsi Hadhramaut, merupakan satu anugrah Allah yang tak terkira dari sekian banyak anugrah-Nya yang membahagiakan hati saya. Rasanya seperti mimpi indah yang menjadi nyata. Sebab ternyata wanita-wanita mulia itu ada, mereka hidup di masa saya dan saya berjumpa dengan mereka, menerima banyak mutiara-mutiara berharga dai pelajaran dan perjalanan hidup mereka…
Ya, mereka bukan wanita-wanita dari negeri dongeng, bukan bidadari yang ada di surga sana, mereka ada di sini. Di bumi ini…

Mereka adalah para bidadari bumi.

Memang sejak kecil hingga remaja, saya saya selalu kesulitan untuk mencari sosok wanita idola untuk saya teladani dalam mengarungi kehidupan ini. Benar, bahwa saya-seperti juga yang lain tentunya-sudah di kenalkan dengan semisal Sayyidah Khodijah istri Nabi atau Sayyyidah Fatimah puteri Nabi yang bukan hanya sekedar wanita mulia bahkan mereka adalah pemimpin para wanita surga. Tapi bukankah zaman mereka berbeda…? Sementara saya membutuhkan contoh yang lebih dekat dan nyata dengan kehidupan zaman sekarang ini. Saya membutuhkan Khodijah dan Fatimah abad 20 begitulah kira-kiranya…

Maka ketika pada akhirnya saya berjumpa satu demi satu dengan wanita-wanita yang saya ceritakan nanti, ada keinginan dalam hati saya untuk berbagi cerita tentang pengalaman saya ini agar tatkala ada anak yang kesulitan mencari idola seperti halnya saya di masa lalu, maupun remaja atau perempuan di usia berapapun yang saat ini sibuk mengekor kepada wanita yang kurang tepat karena tak punya pilihan idola yang seharusnya, maka cerita-cerita tentang mereka ini semoga bisa memberi inspirasi dan penyemangat bahwa di zaman sekarang ini saat maksiat dan dosa menjadi sesuatu yang lumrah dan merajalela di mana-mana ternyata masih banyak wanita-wanita bak mutiara berkilau yang begitu indah menjalani kehidupannya. Dan tentu saja jika mereka bisa melakukanya kitapun tentu bisa belajar menteladani mereka.

Saya tidak sedang mencoba menyajikan suatu hal yang muluk tentang wanita sempurna yang bisa kita jadikan teladan dalam semua aspek kehidupannya, karena bahkan diantara mereka ada yang tidak benar-benar saya ketahui seluruh hidupnya. Namun sekelumit dari kisah yang saya ceritakan ini paling tidak memberi gambaran tentang satu potret kehidupan nyata yang akan bisa kita praktekkan dalam satu sisi kehidupan kita.

Bagi saya, pribadi mereka adalah orang-orang yang mengerti tentang makna dan tujuan hidup yang Allah anugrahkan bagi mereka. Mereka berupaya menjadikan dunia ini sebagai ladang amal untuk menuai hasilnya di masa yang akan datang, di masa setelah kematian. Setidaknya, itu menurut saya, namun seperti apapun penilaian anda tentang mereka, mari kita sama-sama membaca dan kemudian berkaca agar hidup kita menjadi lebih bermakna dan tidak lagi menyia-nyiakan karunia hidup yang telah Allah anugrahkan kepada kita.

Mari menjadi hamba Allah yang mulia.

Mahabbah dengan Sederhana...

Ust. Anismata

"De'... de'... Selamat Ulang Tahun..." bisik seraut wajah tampan tepat di hadapanku. "Hmm..." aku
yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak
ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.
Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima bulan
yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black
forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke kamar
mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia
mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa,
padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti putri
hari ini cuma memandangku.
Alat shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipan. ku memejamkan mata,menghibur diri, dan mengucapkan. Happy Birthday to Me... Happy Birthday to Me.... Bisik hatiku
perih. Tiba-tiba aku terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resort di malam dan hari ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku.
"De... Ade kenapa?" tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir.
Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku..Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku.
"Selamat ulang tahun ya De'..." bisiknya lirih. "Sebenernya aku mau bangunin kamu semalam, dan
ngasih kado ini... tapi kamu capek banget ya? Ucapnya takut-takut.
Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu. Dari mana dia
belajar membukus kado seperti ini?! Batinku sedikit terhibur.. Aku buka perlahan bungkusnya
sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang.
"Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini. nnnng... Nggak bagus ya de?" ucapnya terbata. Matanya
dihujamkan ke lantai.
Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan ungu warna favoritku. Sebuah tas
selempang abu-abu bergambar Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya
nafkah yang diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba aku malu, betapa tak bersyukurnya
aku.
"Jelek ya de'? Maaf ya de'... aku nggak bisa ngasih apa-apa.... Aku belum bisa nafkahin kamu
sepenuhnya. Maafin aku ya de'..." desahnya.
Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku
meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku. Masih dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi... mengapa sepicik itu pikiranku? Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku pertanyakan.
"A' lihat aku...," pintaku padanya. Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan itu. "Tahu nggak... kamu ngasih aku banyaaaak banget," bisikku di antara isakan. "Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya.. Kamu ngasih aku dede'," senyumku sambil mengelus perutku. "Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama...." bisikku dalam cekat.
Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku
sendiri. "Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang
selalu telepon setiap siang," isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang di pelukanku.
Rabbana... mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa
ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi mimpiku akan sebuah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas .Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa
keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru
menikah... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... .