Rabu, 26 Mei 2010

Keadilan Cinta

Oleh : Kiai Budi


Sedulurku tercinta, ketika cinta dipahami secara holistik (penuh) dengan merangkum segenap unsur-unsurnya, maka orang akan melihat dengan jelas akan keseimbangan hidup, tidak ada yang gecol di semesta raya ini. Diri akan terasa damai sekali walau dirundung persoalan hidup yang dipahami secara adil itu, ia akan semakin membungkam mulut untuk banyak omong karena terpesona oleh keindahan keadilan, paling-paling ia akan melempar senyum, senyum yang indaaah sekali. Seandainya ia berani omong, paling-paling beraninya yang baik-baik saja, karena pandangan pesona hatinya tidak memungkinkan ada ruang bagi keburukan, tidak ada, tidak ada. Kalau diri itu merajut cinta dalam mahligai keluarga, maka akan tercipta sakinah mawaddah warrahmah. Sampai-sampai Kanjeng Nabi menyebut keluarga yang rukun itu : suasana surga yang diturunkan Tuhan di bumi. Kalau diri-diri semacam ini mengurusi kenegaraan, maka akan tercipta suatu negara yang baldatun thayyibatun warobbun ghafuur. Penduduknya akan menampilkan tarian cinta dalam bentuk saling menyapa, saling silaturrahmi, saling menolong, saling mendo'akan, saling, saling, saling. Setiap diri merasa bahwa kelengkapan hidupnya ditentukan oleh kehadiran pihak lain, bukan sebaliknya kehadiran orang lain bagian dari hal yang mengancam hidupnya, bukan. Kalau diri ini menjadi penghuni dunia maka pandangan keadilan itu membawa kepada sikap ketenangan yang luar biasa. Lihatlah atribut-atribut dunia menjadi sarana pertengkaran yang cenderung primitif, maju kebelakang. Lihatlah, banyak orang yang tidak memahami rububiyah Tuhan, mereka menjadi tuhan itu sendiri, mereka menyerang penyembah berhala, mereka menjadi berhala itu sendiri. Mereka mengutuk setan, aneh bin ajaib mereka menjadi mBahnya setan, menjadi Iblis itu sendiri. Aku tidak benci kepada atribut, karena bisa dijadikan sarana-sarana menggabungkan energi cinta, agar lebih dahsyat bentuk pelayanan sesuai dengan wilayah keluarga, organisasi apa saja, negara apa saja, agama apa saja. Setiap keberadaan pasti atas izin karunia Tuhan,kalau tidak,mengapa mereka tetap dihidupkan. Ini bebarti kita pahami teritorialnya cinta, bisa Rahman bisa Rahim. Hati-hatilah berbicara, karena sekelas Nabi Musa bisa ditegur Gusti Allah atas kelancangannya meremehkan ungkapan cinta seorang penggembala, di gurun sahara itu, apalagi kita-kita ini, kelasnya apa. Termasuk soal keadilan ini, Nabi Musa menggesa : tunjukkan keadilanMU. Maka Tuhan memerintahkan Musa duduk di pinggir kolam : Lihatlah Musa, diseberang kolam, apa yang akan terjadi. Nampaklah peristiwa terjadi, segerombolan rampok datang mabuk dengan meletakkan barang rampokan. Sejenak ada pemuda langsung mengambil barang itu. Begitu para perampok itu sadar dari kemabukannya, sejenak datang orang tua bertongkat, jalannya membungkuk-bungkuk, nampak tanpa salah. Kesimpulan perampok : karena barang rampokan tidak ada,dipuncak kemarahannya para perampok itu membunuh orang sepuh bertongkat itu. Ya Allah--gesa Nabi Musa,,aku tambah tidak faham......Kawan-kawan,akhirnya dijawab oleh Tuhan bahwa anak muda itu tidak salah karena mengambil barangnya sendiri yang dirampok, sementara perampok itu membunuh orang sepuh itu juga bukan kesalahan, karena orang bertongkat itu--dulu, beberapa puluh tahun yang lalu--yang membunuh ayahnya anak muda yang mengambil hartanya sendiri itu. Banyak orang yang bagai Nabi Musa itu : kenapa keadaan begini, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa, kenapa.........Mereka belum Me-Muhammad!

Senin, 24 Mei 2010

Putaran Cinta

oleh : Kiai Budi


Sedulurku tercinta, ketika Siti Fatimah binti Rasulullah kedatangan pengemis dan sedang tidak punya apa-apa, maka sebuah kalung emas hadiah dari Kanjeng Nabi diberikan kepada pengemis itu, terserah laku berapa. Begitu ketemu pembeli, tanpa tawar menawar pembeli itu langsung minta berapa harganya kepada pengemis, lalu transaksi selesai. Cinta melampaui ranah perhitungan dagang, begitu cepat. Tidak tahunya, pembeli itulah yang memang menghadiahkan kalung emas itu kepada Kanjeng Nabi, sehingga dia bayar sesuka pengemis bilang harganya. Di tangan Kanjeng Nabi, kalung itu dihadiahkan putrinya, ya Siti Fatimah Az-Zahrah itu. Dengan merahasiakan kekagetannya kenapa kalung emas ini bisa di tangan pengemis, kalung tersebut dihadiahkan kepada Rasulullah untuk yang ke dua kali, oleh pedagang emas yang shaleh. Kanjeng Nabi lalu memanggil putrinya dan menyerahkan kalung yang sudah diserahkan pengemis itu : Ya Fatimah, ini kalungmu, dikembalikan Allah setelah berputar memenuhi kebutuhan hambaNya, bersyukurlah. Memang harta itu kalau tidak ingin tercuri, terampok, terbakar atau membusuk harus ditipkan Allah dengan cara disedekahkan. Kalau engkau butuh--pesan Allah--bilang langsunglah kepada Ku, maka akan Aku berikan kepadamu : CASH! Aku percaya janji Allah ini. Percaya sepenuhnya. Bukankah dunia ini bagai gunung, kalau kita lepaskan suara indah, maka gaungnya akan kita dengar sendiri lagi keindahannya, ke kuping kita. Orang Jawa selalu menyatakan : ngunduh wohing pakarti, ojo moyok bakal nemplok. Walau bukan sekelas sedekah kalung emas, ini ada seorang Ibu janda miskin punya anak empat masih kecil-kecil, ingin rasanya yang ragil (paling kecil) bisa merasakan manisnya jeruk yang warna kuning itu. Karena sejak ia hamil anak yang ke empat pernah nyidam jeruk yang tak terbelikan saat suaminya masih hidup. Pagi-pagi pergilah ia ke pasar dengan membawa sekor ayam jago piaraan, untuk dijual, untuk belanja makanan pokok dan sebuah jeruk impian hatinya--untuk anak ragil itu--obat nyidam. Begitu malam tiba, ketika kakak-kakaknya sedang mengaji di Mushalla kampung, dipanggillah anak ragil itu sambil berbisik dia bilang : Le (nak), tadi Ibu ke pasar disamping nempur (beli beras) dan bumbu, masih ada sisa uang lantas bu’e belikan kamu sebuah jeruk kuning ini, melihat kulitnya saja indah nak, apalagi rasa isinya, makanlah sekarang sebelum kakak-kakakmu datang. Ternyata sebuah jeruk ini di tangan anak ragil menjadi lain, hatinya menyatakan tidak mau memakannya, karena sudah pernah merasakan ketika dikasih Bu Guru di sekolahan, biar kakaknya saja yang ngicipi (makan). Begitu semua tertidur--di atas ranjang lebar bareng2--anak ragil ini tidak, lantas dibangunkanlah salah satu kakaknya : kak, tadi aku dikasih Ibu jeruk, namun aku sudah pernah merasakannya, aku rela kakak saja yang makan jeruk ini, aku sudah pernah merasakan. Kakaknya ini memiliki perasaan cinta yang sama dengan adiknya, dibangunkanlah kakaknya lagi : kak, ini ada jeruk dari adik hadiah Ibu, makan kakak saja, aku sudah pernah merasakan kok, barangkali kakak belum. Kakak ini juga sama, bilang kakak yang paling besar : kak, aku di kasih jeruk adik, tapi aku sudah pernah merasakan, barangkali kakak belum. Saling membangunkan dengan tempo yang berbeda karena menjaga perasaan saudaranya, pada jam menjelang subuh. Kakak paling besar ini membangunkan Ibunya : Mak (Ibu), aku dikasih jeruk adik, tapi aku sudah pernah merasakannya kok Mak, ini jeruk untuk Emak aja.....Kawan-kawan, sebuah jeruk berputar, pada saat tarkhim sayup-sayup terdengar dari Masjid Agung kampung, dibangunkannya anak-anak itu semua oleh Ibu, jalan satu-satunya Ibu itu bilang kepada anak-anaknya : Le (anak-anak), ayo sebuah jeruk ini kita bagi, kita makan bersama pagi ini. Sembab sudah mata Ibu ini dengan hati yang gembira tiada tara, karena merasa dihadiai anak-anak yang penuh cinta : Nak, alangkah indah akhlakmu, aku bahagia pagi ini, aku bahagia sekali, aku bahagia sekali Nak, ayo kita makan bersama.......

Bir Cinta

oleh : Kiai Budi


Sedulurku tercinta, anda tentu pernah mengenal Gus Mik, pengembara yang punya nama asli KH. Hamim Jazuli, Ploso Kediri itu. Pesantrennya, beliau bilang sendiri, Gang Dolly, orang memanggil bukan Abah pada umumnya di Pesantren tetapi orang-orang Dolly memanggil kemesraan dengan sebutan Papi. Kalau berbicara tidak pernah ditekan, malah model berbisik, selalu didahului nuwun sewu (mohon maaf ya), menunjukkan kesadaran bahwa pendapatnya bukan satu-satunya yang benar, merendah luar biasa. Tidak pernah pidato, hanya doa-doa, kalau beliau datang ke majlis, Mantap semua hadirin sampai tutup, menanti doa itu, Gus Mik juga diam lama banget, ujungnya berbisik lembut : Al-Fatihah. Puluhan ribu hadirin baru bubar setelah seharian suntuk menyimak kalamullah, ditutup beliau dngan Fatihah itu, selesai. Rokoknya Wismilak, biasa tanpa peci, apalagi udeng2 kayak ban pespaku ini, biasa pakai kaos biasa, jam tangan Rolex, celana jins, tentu alas kaki sandal biasa. Semua Ulama memasang foto beliau di rumah-rumahnya. Dalam khususon arwah, nama beliau disebut setelah ratusan kekasih Allah di-Fatihahi. Suka membagi nasi bungkus dengan jumlah ribuan untuk orang-orang terbuang di kota, lalu bersama mereka tidur dengan alas koran bekas, di emper tokonya temen2 Cina, sampai kesiangan. Tidak pernah mengritik pihak lain, apalagi meremehkan, apalagi memperolok-olok, apalagi menghina, apalagi menyalahkan, apalagi membid'ahkan, apalagi mengkhurofatkan, apalagi mentahayulkan, apalagi menyirikkan, apalagi melaknat, apalagi mengkafirkan, apalagi memunafikkan, apalagi, apalagi, apalagi. Mulut beliau hanya menebar senyum, senyum keikhlasan, ya keikhlasan. Senangnya silaturrahmi, tanpa tepi. Orang sekelas mBah Hamid Pasuruan diminta komentar kepada beliau hanya menjawab : aku belum bisa sekelas Gus Mik. Kalau ditanya soal syariat, selalu mengalihkan pada hal-hal yang non syar'i, beayanya sebaiknya untuk memasakkan anak-anakmu, menyukupi kebutuhan keluargamu, untuk membahagiakan manusia tanpa batas. Gus Dur itu manifesta adabnya. Pernah beliau bilang sama Gus Dur, nanti yang mati Kiai Sidiq dulu, lalu Gus Muk, baru Gus Dur. Ternyata benar adanya. Kalau punya duit, ia datangi pelacur, beliau tanya berapa pendapatan sehari. Kalau sudah tahu, uang beliau hitung dibagi harian itu pelacur lalu bilang : aku bisa membebaskan dirimu tidak di Dolly sekian hari. Gitu. Ketika beliau meninggal, seluruh orang--tanpa batas--melayat, kayak Gus Dur itu meninggal, persis. Setiap khoulnya, semua perusahan ambil peran, entah rokok, entah minuman, entah konsumsi, brekat, sampai melimpah ruah. Do'anya aku wiridkan dengan nada menangis lembut : Ya Allah jama'ah nyuwun gesang berkah istiqomah, panjang umur sregep ngibadah, pinaringan pejah khusnul khotimah, Ya Allah Panjenengan dandosi jama'ah niki, lahir batin sarono manah sae lan suci, Ya Allah jama'ah nyuwun langgeng emut Panjenengan, Ya Allah jama'ah nyuwun pinter nyukuri kanikmatan....Kawan-kawan, aku sendiri kalau pas mendengar jama'ah menjawab : amiiin ya Allah ya rahmanu ya rohim, antaljawadul halim wa anta nikmal mu'in, aku pasti menangis bahagia, ya bahagia tiada tara. Aku merasakan samudra hati beliau, samudra cinta. Pernah beliau trek-trekkan minuman bir sama seseorang. Orang itu merasa kalah, lalu bertanya kepada Gus Mik dalam landasan dalil-dali juga : kenapa Kiai kok minum bir yang memabukkan ini, Papi kok tidak mabuk. Gus Mik menjawab--tentu dengan berbisik lembut : aku buang ke laut, kalau kamu punya duit belikan beras saja untuk anak-anakmu. Kenapa aku minum sekian banyak kok tidak mabuk, karena aku buang ke laut untuk mengajarimu cinta, cinta seluas samudra. Ke laut bagaimana--tanya santri Dolly itu. Gus Mik dengan lembut tangannya melambai memanggil orang itu, dengan berbisik --nyuwun sewu-- di telinga orang itu : lihatlah mulutku. Begitu Gus Mik membukakan mulut beliau, dalam pandangan mata hati orang itu kerongkongan beliau ternyata laut itu....Santri itu sekarang menjadi orang saleh diantara ribuan yang pernah menemukan pengalaman agamawi seperti itu, dari Gus Mik, aku sendiri tidak menangi hidup baliau, tetapi aku temukan jejak-jejak cintanya melalui murid-murid cinta seperti yang aku kisahkan ini, dan menghadiahiku biografi orang tercinta ini....Aku tangisi orang yang tanpa cinta, telah ribuan, terusir dari cahaya karena kebencian dihatinya....

Minggu, 23 Mei 2010

Perkenankanlah Aku Mencintai-Mu Semampuku

Oleh : Azimah Rahayu

Tuhanku,
Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintai-Mu
Lembar demi lembar kitab kupelajari
Untai demi untai kata para ustadz kuresapi
Tentang cinta para nabi
Tentang kasih para sahabat
Tentang mahabbah para sufi
Tentang kerinduan para syuhada
Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam
Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan

Tapi Rabbi,
Berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, dan kemudian tahun berlalu
Aku berusaha mencintai-Mu dengan cinta yang paling utama, namun
Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untuk-Mu
Aku makin merasakan gelisahku membadai
Dalam cita yang mengawang
Sedang kakiku mengambang, tiada menjejak bumi
Hingga aku terhempas dalam jurang dan kegelapan

Wahai Ilahi,
Kemudian berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan tahun berlalu
Aku mencoba merangkak, menggapai permukaan bumi dan menegakkan jiwaku kembali
Menatap, memohon dan menghiba-Mu
Allahu Rahim, Ilahi Rabbi,
Perkenankanlah aku mencintai-Mu,semampuku
Allahu Rahman, Ilahi Rabbi,
Perkenankanlah aku mencintai-Mu
Sebisaku

Ilahi,
Aku belum sanggup mencintai-Mu
Dengan kesabaran menanggung derita
Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa, hingga Al-Musthofa
Karena itu izinkan aku mencintai-Mu
Melalui keluh kesah pengaduanku pada-Mu
Atas derita batin dan jasadku
Atas sakit dan ketakutanku

Rabbi,
Aku belum sanggup mencintai-Mu seperti Abu Bakar, yang menyedekahkan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan diri-Mu dan rasul-Mu bagi pribadi dan keluarga.
Atau layaknya Umar yang menyerahkan separo harta demi jihad.
Atau Utsman yang menyerahkan seribu ekor kuda untuk syiarkan din-Mu.
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku,
Melalui seratus dua ratus perak yang terulur pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan,
Pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di pojok-pojok jembatan.
Pada makanan-makanan sederhana yang terkirim ke handai tolan.

Ilahi,
Aku belum sanggup mencintai-Mu dengan khusyu'nya sholat salah seorang shahabat Rasul-Mu, hingga tak hirau dia pada anak panah musuh yang terhunjam di kakinya.
Karena itu Ya Allah, perkenankanlah aku tertatih menggapai cinta-Mu,
dalam sholat yang coba kudirikan terbata-bata,
meski ingatan sering melayang ke berbagai permasalahan dunia.

Rabbi,
aku belum dapat beribadah ala para sufi dan rahib, yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta dengan-Mu.
Maka izinkanlah aku untuk mencintai-Mu, dalam satu dua rokaat Lailku
Dalam satu dua sunnah nafilah-Mu
Dalam desah napas kepasrahan tidurku

Yaa, Maha Rahman,
Aku belum sanggup mencintai-Mu bagai para al hafidz dan hafidzah,
yang menuntaskan kalam-Mu dalam satu putaran malam.
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku,
melalui selembar dua lembar tilawah harianku
Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku

Allahu Karim,
Aku belum sanggup mencintai-Mu di atas segalanya,
bagai Ibrahim yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya,
dan patuhnya pemuda mengorbankan biji matanya
Maka izinkanlah aku mencintai-Mu di dalam segala
Perkenankanlah aku mencintai-Mu dengan mencintai keluargaku, dengan mencintai sahabat-sahabatku,
dengan mencintai manusia dan alam semesta...


judu; tersebut di pinjam dari judul sebuah puisi karya A. Musthofa Bisri

Kamis, 20 Mei 2010

Tak Cukup Hanya Cinta

"Sendirian aja dhek Lia? Masnya mana?", sebuah pertanyaan tiba-tiba mengejutkan aku yang
sedang mencari-cari sandal sepulang kajian tafsir Qur'an di Mesjid komplek perumahanku sore ini.
Rupanya Mbak Artha tetangga satu blok yang tinggal tidak jauh dari rumahku. Dia rajin datang ke
majelis taklim di komplek ini bahkan beliaulah orang pertama yang aku kenal disini, Mbak Artha
juga yang memperkenalkanku dengan majelis taklim khusus Ibu-ibu dikomplek ini. Hanya saja
kesibukan kami masing-membuat kami jarang bertemu, hanya seminggu sekali saat ngaji seperti ini atau saat ada acara-acara di mesjid. Mungkin karena sama-sama perantau asal Jawa, kami jadi lebih cepat akrab.
"Kebetulan Mas Adi sedang dinas keluar kota mbak, Jadi Saya pergi sendiri", jawabku sambil
memakai sandal yang baru saja kutemukan diantara tumpukan sandal-sendal yang lain. "Seneng ya dhek bisa datang ke pengajian bareng suami, kadang mbak kepingin banget ditemenin Mas Bimo menghadiri majelis-majelis taklim", raut muka Mbak Artha tampak sedikit berubah seperti orang yang kecewa. Dia mulai bersemangat bercerita, mungkin lebih tepatnya mengeluarkan uneg-uneg.
Sebenarnya aku sedikit risih juga karena semua yang Mbak Artha ceritakan menyangkut kehidupan rumahtangganya bersama Mas Bimo.
Tapi ndak papa aku dengerin aja, masak orang mau curhat kok dilarang, semoga saja aku bisa
memetik pelajaran dari apa yang dituturkan Mbak Artha padaku. Aku dan Mas Adi kan menikah
belum genap setahun, baru 10 bulan, jadi harus banyak belajar dari pengalaman pasangan lain yang sudah mengecap asam manis pernikahan termasuk Mbak Artha yang katanya sudah menikah dengan Mas Bimo hampir 6 tahun lamanya.
"Dhek Lia, ndak buru-buru kan? Ndak keberatan kalo kita ngobrol-ngobrol dulu", tiba-tiba mbak
Artha mengagetkanku. " Nggak papa mbak, kebetulan saya juga lagi free nih, lagian kan kita dah
lama nggak ngobrol-ngobrol" , jawabku sambil menuju salah satu bangku di halaman TPA yang
masih satu komplek dengan Mesjid.
Dengan suara yang pelan namun tegas mbak Artha mulai bercerita. Tentang kehidupan rumah
tangganya yang dilalui hampir 6 tahun bersama Mas Bimo yang smakin lama makin hambar dan
kehilangan arah.
"Aku dan mas Bimo kenal sejak kuliah bahkan menjalani proses pacaran selama hampir 3 tahun
sebelum memutuskan untuk menikah. Kami sama-sama berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja dalam hal agama", mbak Artha mulai bertutur. "Bahkan, boleh dibilang sangat longgar. Kami pun juga tidak termasuk mahasiswa yang agamis. Bahasa kerennya, kami adalah mahasiswa gaul, tapi cukup berprestasi. Walaupun demikian kami berusaha sebisa mungkin tidak meninggalkan sholat.
Intinya ibadah-ibadah yang wajib pasti kami jalankan, ya mungkin sekedar gugur kewajiban saja. Mas Bimo orang yang sabar, pengertian, bisa ngemong dan yang penting dia begitu mencintaiku, Proses pacaran yang kami jalani mulai tidak sehat, banyak bisikan-bisikan syetan yang mengarah ke perbuatan zina. Nggak ada pilihan lain, aku dan mas Bimo harus segera menikah karena dorongan syahwat itu begitu besar.
Berdasar inilah akhirnya aku menerima ajakan mas Bimo untuk menikah".
"Mbak nggak minta petunjuk Alloh melalui shalat istikharah?" , tanyaku penasaran. "Itulah dhek,
mungkin aku ini hamba yang sombong,untuk urusan besar seperti nikah ini aku sama sekali tidak
melibatkan Alloh. Jadi kalo emang akhirnya menjadi seperti ini itu semua memang akibat
perbuatanku sendiri"
menikah menggapai sakinah dan mawaddah baru
aku sadari setelah rajin mengikuti kajian-kajian guna meng upgrade diri. Sejujurnya aku akui, sama sekali tidak ada kreteria agama saat memilih mas Bimo dulu. Yang penting mas Bimo orang yang
baik, udah mapan, sabar dan sangat mencintaiku. Soal agama, yang penting menjalankan sholat dan
puasa itu sudah cukup. Toh nanti bisa dipelajari bersama-sama itu pikirku dulu. Lagian aku kan juga
bukan akhwat dhek, aku
Cuma wanita biasa, mana mungkin pasang target untuk mendapatkan ikhwan atau laki-laki yang
pemahaman agamanya baik", papar mbak Artha sambil tersenyum getir.
Aku perbaiki posisi dudukku, aku pikir ini pengalaman yang menarik. Rasa penasaran dan sedikit
nggak percaya karena Mbak Artha yang aku kenal sekarang adalah tipikal wanita sholehah, berhijab
rapi, tutur kata lembut, tilawahnya bagus dan smangatnya luar biasa. Benar-benar jauh dari profil
yang di ceritakan tadi. Ternyata benar kata pepatah, bahwa pengalaman adalah guru yang paling
berharga. Mungkin bertolak dari minimnya pengetahuan agama, akhirnya mbak Artha berusaha
keras untuk meng-up grade diri. Dan subahanalloh hasilnya sungguh menakjubkan. Mbak Artha
mekar laksana bunga yang sedang tumbuh di musim semi, tapi siapa sangka ternyata indahnya
bunga itu tak lain karena kotoran-kotoran hewan yang menjadi pupuk disepanjang kehidupannya.
Rupanya harapan mbak Artha untuk bisa menimba ilmu agama bersama-sama sang suami tinggal
impian. Mas Bimo yang diharapkan bisa menjadi katalisator dan penyemangat ternyata hanya jalan
ditempat. Hapalan Juz Amma nya belum bertambah, tilawah Al Qur'an-nya masih belum ada
perbaikan masih belum
lancar. Sementara kesibukannya sebagai Brand Manager di salah satu perusahaan Telco milik asing,
makin menyita waktu dan perhatiannya. Masih syukur bisa mengahabiskan weekend bersama Mbak
Artha dan Raihan anak semata wayang mereka, kadang weekend pun mas Bimo harus ke kantor
atau meeting dan lain-lain. Tidak ada waktu untuk menghadiri majelis taklim, tadarus bersama
bahkan sholat berjama'ah pun nyaris tidak pernah mereka lakukan.
Aku jadi teringat khutbah pernikahanku dengan Mas Adi, waktu itu sang ustad berkata "Rumah
tangga yang didalamnnya ditegakkan sholat berjam'ah antara anggota keluarga serta sering
dikumandangkan ayat-ayat Allloh akan didapati kedamaian dan ketenangan didalamnya"
"Dhek....", suara mbak Artha membuyarkan lamunanku. "Iya mbak, saya masih denger kok. Saya
hanya berpikir ini semua bisa menjadi ladang amal buat mbak Artha", jawabku sigap supaya nggak
terlihat kalau emang lagi ngelamun. "Pada awalnya aku juga berpikir seperti itu dhek. Aku berharap
Mas Bimo
juga memiliki keinginan yang sama dengan ku untuk memperdalam pengetahuan kami terhadap
Islam. Aku cukup gembira ketika mas Bimo menyambut ajakanku untuk sama-sama belajar. Namun
dalam perjalanannya, smangat yang kami miliki berbeda. Mas Bimo seolah jalan ditempat. Sempat
miris hati ini
ketika suatu saat aku meminta beliau menjadi imam dalam sholat magrib. Bacaan suratnya masih
yang itu-itu juga dan masih terbata-bata. Aku baru tau bahwa dia belum pernah khatam Qur'an.
Harusnya kan suami itu imam dalam keluarga ya dhek?", mata mbak Artha mulai berkaca-kaca.
"Apa harapanku terlalu tinggi terhadap suamiku? Bukankah harusnya suami itu adalah Qowwam,
pemimpin bagi istrinya. Lalu bagaimana jika sang pemimpin saja belum memiliki bekal yang cukup
untuk menjadi seorang pemimpin?", suara mbak Artha mulai bergetar.
"Terkadang aku ingin sekali tadarus bersama suami, tapi itu semua nggak mungkin terjadi selama
suamiku tidak mau belajar lagi membaca Al-qur'an. Aku juga merindukan sholat berjama'ah dimana
suami menjadi imannya sementara kami istri dan anak menjadi makmumnya. Apa keinginanku ini
berlebihan dhek?", tampak bulir bening mulai mengalir dipipi mbak Artha.
"Berbagai cara sudah ku coba, supaya Mas Bimo bersemangat memperbaiki diri terutama dalam hal
ibadah. Tentunya dengan sangat hati-hati supaya tidak menyinggung perasaannya dan supaya tidak
berkesan menggurui. Aku mulai rajin mengikuti kajian-kajian keislaman, mencoba sekuat tenaga
untuk
sholat 5 waktu tepat pada waktunya dan tilawah qur'an setelah sholat subuh. Bahkan berusaha
bangun malam menunaikan tahajud serta menjalankan sholat dhuha dipagi hari. Semuanya itu
kulakukan, dengan harapan mas Bimo pun akan menirunya. Aku berharap sekali dia terpacu dan
semangat, melihat
istrinya bersemangat" , papar mbak Artha dengan suara yang agak tinggi.
"Tapi sampai detik ini semuanya belum membuahkan hasil. Aku seperti orang yang berjalan
sendiriian. Tertatih, jatuh bangun berusaha menggapai cinta Alloh. Aku butuh orang yang bisa
membimbingku menuju surga. Dan harusnya orang itu adalah Mas Bimo, suami ku"
Kurangkul pundaknya, sambil berbisik "sabar ya mbak, mudah-mudahan semuai harapanmu akan
segera terwujud". Mbak Artha tampak agak tenang dan mulai melanjutkan ceritanya.
"Dari segi materi materi apa yang Mas Bimo berikan sudah lebih dari cukup, overall Mas Bimo
suami yang baik dan bertanggung jawab. Bahtera rumah tangga kami belum pernah diterpa badai
besar, semuanya berjalan lancar. Sampai disuatu saat mbak mulai menyadari sepertinya bahtera
kami telah kehilangan arah dan tujuan. Kami hanya mengikuti arus kehidupan yang smakin lama
smakin membawa kami kearah yang tidak jelas. Kami sibuk dengan aktifitas kami masing-masing.
Kehangatan, kemesraan, ungkapan sayang yang dulu paling aku kagumi dari Mas Bimo sedikit
demi sedikit terkikis di telan waktu dan kesibukannya. Dan yang lebih parahnya lagi, unsur religi
sama sekali tak pernah di sentuh Mas Bimo sebagai kepala keluarga. Fungsi Qowam sebagai
pemimpin dalam menggapai cinta hakiki dari Sang Pemilik Cinta, terabaikan. Mungkin karena
memang bekalnya yang kurang. Sunguh, harapan menggapai sakinah dan mawaddah serta rahmah
semakin hari kian jauh dari pandangan. Rumah tangga kami bagai tanpa ruh dan kering", suara
mbak Artha mulai bergetar kembali.
Aku jadi speachless nggak tau musti berkata apa lagi. Ternyata ketenangan rumah tangga mbak
Artha, menyimpan suatu bara yang setiap saat bisa membakar hangus semuanya. Hanya karena satu
hal, yaitu alpanya sentuhan spritual dalam berumahtangga. Atau mungkin juga adanya
ketidaksamaan visi atau tujuan
saat awal menikah dulu. Bukankan tujuan kita menikah adalah ibadah untuk menyempurnakan
setengah agama. Idealnya, setelah menikah keimanan, ibadah kita makin meningkat. Karena ada
suami yang akan menjadi murobbi atau mentor bagi istri, atau kalaupun sebaliknya jika istri yang
lebih berilmu tidaklah masalah jika istri yang menjadi mentor bagi suami. Yang penting tujuan
menyempurnakan dien guna menggapai sakinah dan mawaddah melalui cinta dan rahmah makin
hari makin terwujud. Mungkin itulah sebabnya mengapa kreteria agama lebih diutamakan daripada
fisik, harta dan keturunan.
Ternyata cinta saja tak cukup untuk bekal menikah, begitupun dengan harta. Pernikahan merupakan
hubungan secara emosional yang harus ditumbuhkan dengan sangat hati-hati, penuh kepedulian dan
saling mengisi.Bahkan puncak kenikmatan sebuah pernikahan bukanlah dicapai melalui penyatuan fisik saja melainkan melalui penyatuan emosional dan spiritual. Pernikahan adalah sarana pembelajaran yang terus menerus. Baik untuk mempelajari karakter pasangan ataupun untuk meng upgrade diri masing-masing.
"Dhek Lia....", Mbak Artha membuyarkan lamunanku. "Makasih ya dhek dah mau jadi kuping buat
mbak", mbak Artha menggenggam tanganku sambil tersenyum. "Mbak yakin dhek Lia bisa
dipercaya, do'akan supaya aku diberikan jalan yang terbaik sama Alloh".
Aku pun tersenyum, "Insyaalloh mbak, maksih juga dah mau sharing masalah ini dengan saya.
Banyak hikmah yang bisa saya dapat dari cerita mbak. Saya masih harus banyak belajar soal
kehidupan berumah tangga mbak. Jazakillah".
Tak terasa hampir 2 jam kami ngobrol di teras TPA. Kumandang adzan dhuhur, mengakhiri obrolan kami. Sambil menuju tempat wudhu mesjid untuk sholat dhuhur berja'maah kusempatkam
mengirim sms ke mas Adi. "Mas aku kangen, kangen sholat bareng, kangen tadarus bareng cepet
pulang ya Mas. Uhibbukafillahi Ta'ala :)

Hanif... hanif...

oleh : Sakti Wibowo
Hanif, sehanif namanya. Teman saya ini seorang yang sederhana, nyaris di segala sikap dan tutur kata.
Apakah engkau tahu pandangannya tentang pernikahan?
“itu adalah sesuatu yang akan didatangkan Allah pada saat diperlukan.”
begitu sederhana, lebih tepat sebagai sikap pasrah. Oleh karena itulah saya bertanya, “tidak
merencanakan?Tidak memilih akhwat mana yang akan kau jadikan ibu dari anak-anakmu?”
Dia hanya tersenyum, “Allah akan mendatangkan berikut segala perangkat yang diperlukan hamba-Nya.”
saya selalu tertegun setiap melihat betapa kehanifan begitu nyata pada dirinya, begitu lurus, begitu tawadu’. Caranya memandang hidup selalu dengan mara yang berbinar-binar, kepercayaan yang
tinggi bahwa Allah punya skenario yang jelas atas hidup seoran gmanusia.
Hanif nyaris tak pernah mengeluh. Saat ia begitu kesulitan mencari pekerjaan, ia tak perlu resah.
Ia selalu bergerak dan itu yang diyakininya bahwa Allah yang akan mendatangkan rizki, di amana
dan kapan pun manusia berada. Rezeki telah jelas alamatnya, tetap dan tepat, tidak akan berkurang
sesuai yang telah dijatahkan, akan didatangkan sesuai dengan waktunya, serta sesuai dengan
keperluannya.
Saya tak berlebihan menyebutnya tak pernah mengeluh. Selepas SMA, Hanif yang satu tingat di
atas saya itu tak mau pergi merantau sebagaimana teman-temannya yang lain, mencari pekerjaan ke
kota.
“aku lebih bermanfaat di sini, Wie! Di kota sudah banyak ustadz, sudah banyak orang yang concern
terhadap dakwah. Sementara di sini, siapa yang akan melakukannya? Lihatlah adik-adik TPA, siapa
yang akan membimbing mereka jika semua pergi.”
Saya mengangguk-anggukan kepala. Saat itu saya tersindir karena saya adalah salah satu dari yang
'pergi'.
“bukahkan engkau juga perlu dunia , Mas?”
“Tentu saja. Tapi, apakah di sini tidak ada dunia?”
“Pekerjaan?Gaji Besar?”
“Di sini aku bekerja. Gaji besar?Kaupikir gajimu lebih besar dari gajiku?”
“Maksudku gaji dalam bentuk uang, Mas, bukan gaji di akhirat. Berdakwah memang perlu dan
penting. Tapi jika aktivis dakwah tidak bekerja, dia akan menjadi beban orang tua, mungkin beban
masyarakat.”
“Aku tidak akan menjadi beban orang tua, apalagi masyarakat”
* * *
hanif memang menbuktikan ucapannya. Dia keluar dari rumah orang tuanya selepas SMA, memilih
ngontrak di sebuah kampung tak seberapa jauh dari rumahnya sendiri. Ia tak pernah mengandalkan harta orangtuanya. Ia bekerja apa saja, berjualan apa saja, sembari terus melebarkan aktivitas dakwahnya.
“Jadilah pohon yang besar, menjadi sarang bagi burung-burung, menjadi tempat berteduh yang
menenangkan, menjadi tempat bergantung, dan bahkan menampung resapan air untuk kemudian
menjadi sumber mata air.”
saya selalu kagum dengan falsafahnya itu. Bukankah memang demikian yang dilakukan Hanif?
Hartanya memang tak seberapa, tepi berapa banyak orang yang bergantung padanya?Berapa banyak orang yang selalu menanti uluran tangannya?
Ia masih tetap ngontrak, satu kamar kecil di sebuah perkampungan sederhana. Ia bergitu dicintai
oleh pemilik kontrakkan – yang beberapa tahun kemudian membebaskannya dari uang kontrak
karena telah menganggapnya sebagai anak.
Hidupnya begitu sederhana – seperi umar – ia terbiasa makan hanya dengan kerupuk dan sambal.
Namun, rumahnya nyaris tak pernah sepi pengunjung.
Telah berapa banyak orang yang di tolongnya memperoleh pekerjaan. Sebagian bahkan menuai
sukses menjadi hartawan. Telah berapa banyak orang diantarkannya meraih kesuksesan? Mereka
yang pernah turun semangatnya kembali meruyak meneladani carnya memandang hidup dengan
berbinar-binar.
“Jangan menjadi buah,” katanya. “Memang selalu buah yang dinanti orang, tetapi setelah dipetik, ia tak lagi bisa berbuat apa-apa.”
dia memang telah menjadi pohon rindang dan rranting tempat bergantung bermacam buah rabum.
Maka, sekali ini, saya kembali bertanya padanya tentang menikah sebab umurnya telah terbilang
cukup. Bahkan, saya yang notabene adik kelasnya telah lebih dulu membina rumah tangga.
:Dia akan didatangkan pada saat yang tepat,” Jawabnya,tetap sederhana.
“Tapi bukankah Allah tidak mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu tudak berusaha
mengubahnya?Manusia tidak boleh sekedar menunggu. Ibadah adalah dalam bentuk ikhtiar itu dan menyerahkan hasilnya setelah berusaha dengan cukup.”
“usahaku adalah dengan memperbaiki diriku sebab yang selalu kuyakini adalah bahwa lelaki yang
baik untuk wanita yang baik>”
“Dalam bentuk amal nyata engkau harus mencarinya.”
“Aku mencarinmya dengan dakwah. Jika suatu saat menikah, aku ingin menikah dengan alasan
dakwah, bukan hanya karena aku tertarik kepada wanita itu.”
* * *
Memang begitulah adanya. Boleh jadi, saya tak sependapat dengan dirinya. Namun tak pelak, saya
harus mengagumi caranya memahami konsep kanaah, menerima apa adanya. Baginya memang
dakwah itu berada di atas segala-galanya.
Tahun 1998, tersebutlah... seorang akhwat menyatakan keinginannya untuk dilamar hanif. Saya
mengetahuinya karena terlibat dalam proses itu. Tada ada syak sedikit pun bahwa Hanif akan
menolaknya sebab dengan alasan apa lagikah seoran gikhwan akan menolak wanita ini? Tak ada
yang bisa dicela darinya. Pun, mengingat prinsip Hanif akan dakwah yang demikian,
memparalelkan dengan aktivitas dakwah sang akhwat, sunggh sebuah sinergi dua kekuatan dakwah
yang luar biasa.
Sayang, di akhir proses itu, Hanif menggeleng.
“Kenapa?” Tanya saya, lebih mewakili pertanyaan orang-orang yang mengetahui kelanjutan proses
ini. Ya. Kenapa?
Hanif hanya sedikit memejamkan matanya. “Belum ada kecondongan itu. Belum ada kebulatan
dalam hatiku sebagaimana azamku sebelumnya. Pun, dalam istikharah panjang, belum juga ada
pertanda, apalagi kemantapan yang didatangkan-Nya.”
Kecewalah saya. Kecewalah kami. Kecewalah semua. Namun, kami harus menghargai keputusan
hanif.
* * *
Tahun 1999, setelah melewati diskusi panjang, Hanif memutuskan untuk pindah dari tempat
kontrakannya. Kali ini, bukan lagi kota kami tempat ia berdiam. Saya masih rasakan pancaran
semangat dakwah itu tak surut dari parasnya, dari setiap tindakan yang ia ambil.
Kali ini, alasan kepindahannya adalah proses 'murtadisasi' yang marak di kawasan pesisir selatan.
Daerah bergunung-gunung, yang -menurut mitos- dikutuk dengan kekeringan. Entah, berapa ribu
korban berjatuhan. Mereka yang menggadaikan iman demi satu atau dua tanki air bersih.
Ke sanalah kini Hanif menuju.
“Banyak yang ingin saya sampaikan dari Rasulullah, Wie,”
katanya, “Sebab bukankah Rasul sering menghadapi kekeringan? Ada banyak teladan kisah dalam
menyikapi kekeringan, cara menghemat air minum namun tidak samapai jorok dan mengabaikan
kebersihan... Banyak sekali.”
saya menganggu sebab sebatas itulah saya bisa mendukung. Saya tidak berfikir apapun tentangnya
selain bagaimana ia nanti akan mencukupi kehidupannya. Tinggal di sana, ia akan bekerja apa untuk
menafkahi hidupnya?Berjualan makanan lagi seperti saat di sini, saya merasa tak yakin itu sebuah
solusi cerdas sebab saya bisa menakar tingkat daya beli orang-orang pesisir ini.
Namun, kekhawatiran saya tak terbukti. Hanif jauh lebih cerdas dari saya yang saya sempat
bayangkan. Dengan 'kemahirannya' memikat hati, ia bisa diterima masyarakat yang kini mayoritas
bukan lagi beragama islam. Kepiawaiannya bergabung dengan kelompok mana pun membuat
'tenaganya' laku dan banyak yang menawar. Banyak pekerjaan-pekerjaan kecil yang diamanahkan
kepadanya dan darinya ia memperoleh upah yang -kendati kecil- bisa dipakainya menutup semua
pengeluaran.
Sama seperti sebelumnya, di sini ia ngontrak di sebuah rumash sederhana. Tak sampai menunggu
tahun, ia telah dibebaskan dari uang kontrak sebab pemilik rumah telah menganggapnya sebagai
anak sendiri.
Hal yang menakjubkan adalah... ketika sang pemilik rumah – yang semula adalah korban
murtadisasi itu- menyatakan keinginannya untuk kembali pada islam. Lelaki sepuh itu bahkan di
kemudian hari menjadi salah satu pembelanya. Ya, fitnah untuk Hanif merebak dan membuat orangorang
kampung meradang, naris menggelandangnya ke tanah lapang, laksana maling ayam yang
ditangkap massa.
Saat itu, dengan tegar dan tangan terentang, sang lelaki sepuh berusaha menenangkan massa,
menjadi saksi sekaligus pembela bahwa Hanif tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan. Sebuah
pembelaan yang mahal ia tebus, yakni kebencian orang-orang kampung.
Tibalah waktunya, kabar dari Hanif itu membuat saya terlengak.
“Menikah?”
“Ya. Bukankah aku telah cukup umur untuk menikah, Wie?”
“Tapi...” Tak sempat saya menyelesaikan kalimat. Saya melihat seoran gadis yang ia perkenalkan.
Wanita inikah yang ia pilih?
Saya nyaris tak bisa menerima, lebih tepatnya kecewa. Seorang gadis dengan baju lengan pendek
yang dipadu dengan celana jeans, tanpa penutup kepala, berdiri di sampingnya.
Sungguh, saya tak bisa menerima kalau keputusan ini yang diambil Hanif. Oleh karena itu saya
memburunya ke tempatnya tinggal, menuntut pertanggungjawaban atas pilihan itu.
“Bukankah telah aku katakan, jika suatu saat aku memutuskan untuk menikah, aku ingin menikah
karena dakwah, bukan karena aku tertarik dengan wanita tersebut.”
panjang lebarlah ia bercerita, tentang sang lelaki sepuh yang beberapa kali datang kepadanya,
memintanya untuk menikahi salah seorang putrinya. Sebuah harapan yang luar biasa dari orang tua
yang menginginkan hidayah kembali datang kepada anak-anaknya.
Awalnya saya menyangkal niat itu, dalam sebuah pertaruhan yang saya bilang konyol. Saya bilang
konyol sebab tak ada jaminan apa pun wanita itu akan masuk islam dan berkafah di dalamnya.
“Banyaklah istri Rasulullah yang beliau nikahi dalam keadaan yahudi,” jawab Hanif. “Saya hanya
ingin mengajakmu berpikir sebaliknya janganlah bertanya tentang apa yang akan saya dapatkan jika
saya menikahinya. Namun, bertanyalah apa yang akan islam dapat jika saya tidak menikahinya.”
Allahu Rabbuna...!
memanglah seperti yang ia katakan. Akan sangat banyak akses yang terjadi jika ia menolak
pinangan itu. Efek yang berpengaruh langsung pada Islam itu sendiri.
Ya, memang sekaranglah saat yang tepat baginya untuk menikah, dengan atau tanpa belitan
masalah. Sebab baginya, dakwah adalah di atas segala-galanya.

Saya Lebih Suka Kehilanga

oleh : Sakti Wibowo

“Tahukah, seberapa luas ruang dalam hatiku yang kusediakan untukmu dan seberapa luas ruang
yang kusediakan untuknya?” tanyaRusdi, kepada Eka.
Tengah malam telah usai ketika itu dan waktu berenang menuju shubuh.
Sepi sudah lama merasuk. Dalam hening yang dihiasi tak-tik jarum jam atau dengus serangga
malam di kejauhan, napas pun jelas terdengar helanya.
Gugup, mata Eka berusaha menyembunyikan gejolak dalam perasaannya sendiri.
“Ruang untuknya begitu luas,” lanjut Rusdi, kali ini dengan binar mata yang redup. “jauh lebih luas
dari ruang yang kusediakan untukmu.” Ia kembali menghela nafas sejenak. “Hanya saja, engkau
harus tahu bahwa ruang yang kecil ini telah berpenghuni. Engkau telah berdiam di dalamnya.
Sementara ruang yang luas itu... Masih menunggu penghuninya datang, berdiam, ataukah malah
sebaliknya, terbang tak tahu kemana tujuannya.”
Saya berada diantara dua karib ini. Keduanya adalah orang yang begitu dekat dengan saya, kendati belum begitu lama saya mengenalnya. Namun, sungguh, dari keduanya, saya belajar begitu banyak makna persaudaraan; kata yang begitu mudah untuk diucapkan, tatapi amat sulit direalisasikan.
Eka, tak begitu banyak yang bisa saya ceritakan darinya, memiliki senyum yang sangat bersahabat. Dalam setiap kesempatan ia tak pernah melupakan 'bahasa' universal itu untuk memanjakan orangorang di sekitarnya dengan 'persaudaraan'.
Bahkan, saya pun, yang belum genap dua bulan mendapat 'jatah' senyum 'menentramkan' miliknya, tak bisa menyangkal bahwa ia memiliki karakter yang cool dan friendly, menawarkan rasa nyaman.
Sementara Rusdi, apa yanghendak saya bincangkan tentangnya?Ia seorang kawan yang cukup uzur didera problem-problem kehidupan. Jika boleh dibilang, parasnya kuyu, lelah dengan cobaan. Rimpuh nian. Empat tahun lalu pernikahan yang ia bina kandas di tengah jalan, meyisakan sakit dan keluh yang begitu panjang. Terkadang, relung luka itu terlihat vegitu menggua di wajahnya, sorot mata, dan tutur katanya.
Hingga, akhirnya... saya menemukan binar itu. Pada suatu pagi, sapaan surya sungguh senada
dengan rekah senyum Rusdi.
“Apakah saya jatuh cinta?” tanyanya seperti tak yakin.
Gembira saya menyadari ada yang kembali 'tumbuh' dalam hatinya yang sekian lama mati.
Memang, boleh dibilang demikian. Kekecewaannya pada kegagalan pernikahan lalu membuat ia
membatasi diri. Bahkan ia cenderung tertutup, tak mau ikut dalam pusaran perbincangan atau
anjuran untuk membina keluarga baru. Saat itu, ia selalu berkata dengan nada pesimis,”Adakah
menikah lagi untuk saya setelahbegitu banyak hal terjadi?Saya takingin mengatakan saya trauma,
hanya saja saya berpikir ada baiknya saya merenungi makna kesendirian. Barangkali itu takdir saya. Toh, saya pernah menikah dan darinya saya diberi-Nya keturunan.”
Telah begitu banyak yang menganjurkannya untuk menikah lagi, tetapi semua itu seperti menembus dinding yang tebal dan menbal. “Dengan menikah lagi, mungkin engkau akan lebih mudah melupakan sakit hati atas pengkhianatan itu,”anjur saya, berulang-ulang kepadanya, di masa-masa lalu. Selama itu pula saya hanya mendapat gelengan. “Entahlah, aku tak yakin apakah aku akan menikah lagi atau tidak. Aku tak ingin dibilang cengeng. Aku juga tidak mengharamkan pernikahan. Tidak, tentu saja, sebab menikah adalah sunah Rasul. Hanya saja, aku harus berpikir seribu kali untuk memutuskannya, sebab aku tak siap untuk mengulangi kegagalan.”
Entah berapa waktu yang ia perlukan untuk berpikir seribu kali itu. Yang saya lihat bahwa ia telah
melewati bilangan tahun keempat percerainnya yang menyakitkan.
“Aku masih menikmati kesendirian semacam ini, Wie!”
katanya. “Memang, terkadang tumbuh rasa sakit setiap mengingat anakku tidak bisa kuambil untuk
kurawat. Namun, paling tidak, aku bisa tumbuhkan sugesti bahwa suatu saat nanti aku akan
memiliki kesempatan berdekatan dengan si Kecil. Ia akan mengerti bahwa aku mencintainya, lewat
surat cinta yang selalu kukirimkan padanya bersama angin, bersama doa, bersama mimpi-mimpi.”
Hingga, akhirnya perubahan yang selalu saya harapkan itu pun datanglah. Saya mendapatinya telah
terpinang cinta. Cinta sering membuat kita menjelma kanak-kanak. Binar itu, adalah binar pemuda
yang jatuh cinta. Manik-manik di matanya berpadu dengan gelisah yang mematri di nyaris segala
sikap.
“Aku tidak menyangkan akan segelisah ini, Wie!,” katanya.
“adakah yang berubah?”
Dan... ia menyebut sebuah nama.
“Kharismanya sungguh luar biasa. Kedewasaan yang terpancar, kebijakan dan kewibawaan dalam
setiap kata yang diucapkannya,” pujinya bulat-bulat.
Ratih, nama gadis itu. Seorang akhwat yang mengagumkan, bukan oleh kecantikan atau
kecerdasan-kendati dua hal itu memang ada padanya- melainkan kesederhanaan dan kedewasaan
yang begitu alami. Saya pun mengakui bahwa Ratih nyaris memiliki segala hal yang mungkin
membuat lelaki manapun jatuh cinta.
“Kenapa tidak meminangnya segera?” tanya saya, lebih bersifat anjuran yang bersifat memaksa.
Kerlingnya, sebelum menjawab, “Aku ingin mengumpulkan keberanian terlebih dahulu.”
Saya berharap, sungguh, agar Rusdi secepatnya mampu menyusun keping-keping hatinya. Saya
ingin secepat mungkin bangkit dari puing-puing duka masa lalu sebab saya tahu hidupnya masih
harus terus berlanjut.
Ada banyak mashlahat yang bisaia raih dengan berkeluarga.
Ada banyak potensi dalam dirinya yang akan berkembang jika ia memiliki pendamping yang tepat.
Seperti selalu saya yakini, menikah adalah sebuah sinergi dakwah. Menikah akan memunculkan
sebuah kekuatan baru lii'laikalimatillah!.
Itulah yang sering kami bincangkan bertiga: saya, Rusdi, dan Eka.
Hingga... tanpa kami duga, sebuah pesan pendek malam itu menguakkan sebuah rahasia. Sebuah
peristiwa haru yang membuat saya terpekur lama, diam-diam menghela napas, mengagumi betapa
sungguh saya diperkenalkan-Nya dengan orang-orang yang berjiwa besar.
Terlengak saya. Saat itu, dengan terbata-bata dan berusaha mengendalikan kegugupannya, Eka
meminta handphone-nya dari tangan saya. Memang, saking dekatnya hubungan kami bertiga, nyaris
tak ada yang kami sembunyikan dari masing-masing. Oleh karenanya pula, kami nyaris tak
mempermasalahkan pesan-pesan singkat dalam handphone kami akan dibaca siapa.
Sayalah yang membuka pesan saat dering handphone Eka mengabarkan pesan baru masuik. Dari
sanalah saya tahu bahwa Eka tengah menjalani masa ta'aruf dengan seorang akhwat, melalui
seorang perantara. Dan ... akhwat itu tiada lain adalah Ratih.
Nyaris tiada kata yang bisa saya ucap. Terbata-bata saya berusaha menyelamatkan kepanikan di
wajah saya, serta berberapa kata yang sempat terlontaar, sehingga cukup nyata didengar Rusdi.
Rusdi? Bagaimana reaksinya?
“Jadi...,” suaranya cekat, “selama ini engkau sedang berproses dengannya?”
Gugup yang sama.
“I-iya...!” Eka berusaha menjawabnya. Cukup lama sunyi menyelingin kata-katanya. “T-tapi saya
lebih suka untuk membatalkan proses ini demi seorang saudara saya.”
tanpa saya duga, Rusdi segera meraih tangan Eka, menggenggamnya erat, dan berkata dengan suara
yang dipenuhi getar. “Alangkah bodohnya saya, alangkah butanya saya, dan... alangkah tidak-tahudirinya
saya jika itu saya lakukan. Sungguh, saya akan berhenti dengan perasaan saya.”
“Tidak! Tidak boleh! Dia sangat berarti bagimu! Tidak demikian dengan saya.” Malam yang begitu
dramatis. Keduanya berpelukan dalam suasana haru.
“Biarkan saya mengalah!” tegas Rusdi. “saya akan mundur dan saya sudah mentap dengan
keputusan saya. Saya hanya butuh waktu untuk mengendalikan perasaan.”
lantas dengan denggan, Eka menjawab, “Saya tidak mau jika engkau mundur hanya karena saya.”
Mata Rusdi mencari wajah Eka. “Apa salahnya? Bukankah Abu Bakar dan Utsman pernah menahan
diri dari Hafshah karena keduanya mendengar Rasulullah pernah menyebut nama putri Umar bin
Khathab itu?”
Alangkah...
saya bersyukur menjadi saksi dari peristiwa menyentuh ini. Sungguh, betapa sulit saya dapati di
masa kini, persaudaraan yang begini erat! Kedekatan memang tidak mutlak dibentuk oleh lamanya
orang saling mengenal-sebabyang saya tahu, Eka dan Rusdi belum genap satu bulan saling
mengenal- tetapi oleh kualitas semangat ukhuwah islamiyah di dalamnya.
Lantas, dalam konsep ukhuwah, tradisi itsar begitu ditekankan oleh sang qudwah, Muhammad.
Inilah itsar itu...

DOKTER HATI

Jika rasa benci atau cinta yang berlebihan tanpa sebab yang jelas adalah salah satu penyakit yang harus diobati, itu sudah ku tahu dari dulu. Tapi kalau di obatinya adalah dengan cara dadamu di usap, kepalamu di pegang sembari di doakan agar kebencian di hatimu terhadap seseorang bisa hilang, seumur hidup baru kali ini ku rasakan.

Aneh memang...

Bagaimana rasa benci terhadap salah satu pelajar yang aku mengajar di kelasnya bisa datang begitu tiba-tiba, tanpa ada sebab bahkan tanpa aba-aba. Aku tiba-tiba tidak ingin memandang wajahya, pusing mendengar suaranya. Bahkan sungguh baru ku tahu bahwa aku bisa benar-benar muntah tatkala secara tidak sengaja melihat wajahnya.

Lebih anehnya lagi dia termasuk pelajar terbaik di kelasnya, cerdas, aktif, penurut dan yang jelas dia tidak pernah bermasalah apapun denganku. Dia pasti bertanya-tanya dan bingung ketika kemudian aku memintanya untuk duduk di barisan belakang dan tidak tepat dihadapanku. Karena aku bahkan tidak bisa berkonsentrasi sama sekali dalam kondisi seperti ini. Dia dan juga teman-teman sekelasnya pasti bingung ketika aku memintanya untuk menuliskan saja pertanyaan yang akan dia lontarkan agar tidak mendengar suaranya yang bisa membuat isi perutku naik ke dada dan mernyebabkan mual secara mendadak begitu saja.

Jangan kau kira aku tak ada usaha apa-apa ntuk menghilangkannya. Berulang kali aku merenung, berperang dengan diri sendiri dan mencoba menenangkan hati saat kebencian itu memanas-manasi. Usahaku tidakmembuahkan hasil.

Doa dan dzikir selalu kubaca setiap kali terpikir bahwa ini merupakan salah satu ujian untukku. Namun semuanya belum cukup untuk emenghilangkan rasa itu.

Setengah mati kucoba sembunyikan kebencian ini darinya, namun sepertinya dia mulai merasakannya juga. Dia lebih banyak diam disepanjang mata pelajaranku. Duduk paling belakang dan tak lagi terlihat tersenyum seperti biasanya.

Ya Allah...aku telah melukai hatinya, aku telah menyakiti perasaannya.

Teman sekamarku yang juga seorang ustadzah mulai merasakan ketidaknyamanan ini, ku ceritakan padanya keanehan yang terjadi lengkap dengan pembelaan bahwa rasa itu muncul tiba-tiba dan tanpa sebab apa-apa.

Dan entah apa yang ada di dalam benaknya, hingga suatu siang sepulang dari masjid selepa sholat Dhuhur ia memintaku berkemas dan kemudian kami berdua bergegas pergi menemui seorang wanita berusia 60-an tahun, temanku ini memanggilnya dengan panggilan Hubabah Umairoh.

Kami menunggu cukup lama di ruang tamu karena beliau masih menemui tamu yang lain sebelum kami kemudian di persilahkan menemui beliau di ruang tengah rumahnya.

“Therapis?Dokter jiwa?psikolog?atau bahkan dukun?”aku menerka-nerka.

Namun bayangan itu hilang seketika saat aku melihat sosoknya. Beliau adalah seoarang wanita dengan wajah keibuan, bicaranya lembut, dan penuh senyuman. Di hadapannya aku merasa seolah bertemu dengan seseorang yang telah lama aku kenal.

Siang itu masih dengan memakai mukena selepas sholat Dhuhur, beliau menyambut kami dengan hangat lalu menanyakan kabar Alhabib Umar bin Hafidz guru kami. Kemudian dengan penuh perhatian beliau, mendengarkan apa yang di tuturkan temanku mengenai diriku tentang rasa benci yang tiba-tiba kurasakan sebagai sesuatu yang tidak wajar, mengingat aku sebelumnya tidak pernah membenci seseorang tanpa sebab yang jelas.

Beliau lalu berdiri menghampiriku, memegang kepalaku sembari menggumamkan doa-doa dan dzikir, tak lama kemudian beliau duduk di hadapanku, mengusap dadaku sambil tidak berhenti berdoa. Dan beliau mengakhiri bacaan-bacaannya dengan meminta kami semua membaca surat Al Fatihah bersama.

“Ada 2 orang yang paling banyak di dengki oleh orang lain di atas muka bumi ini “ kata beliau sembari menuangkan teh di cangkir kecil dan menghidangkannya di hadapan kami.

“Orang yang berharta dan orang yang berilmu” lanjut beliau.

“Jika kamu jadi salah seorang dari mereka, pandai-pandailah menjaga sikap saat bergaul dan berurusan dengan orang lain. Pandai-pandai pulalah menyimpan rasa. Karena bahkan orang yang terlihat di cintai oleh kedua orang inipun akan menimbulkan iri dengki dari yang lainnya. Sepertinya itulah yang terjadi padamu” katanya bijak.

Kami pulang setelah memperoleh anjuran beliau untuk membaca beberapa dzikir saat suasana hati sedang tidak menentu.

Dan Subhanallah...

Apa yang kemudian terjadi sesampainya di asrama sungguh luar biasa. Di pintu masuk aku berjumpa dengan pelajar yang pagi tadi perasaanku padanya masih di penuhi dengan kebencian. Aku pandang wajahnya dan dia menunduk takut, ku cari kebencian yang seminggu ini menyiksaku dan menyiksanya tentu saja, namun rasa itu sungguh-sungguh tak lagi bersisa, sudah hilang entah ke mana.

Aku langsung menyalami dan memeluknya, sementara dia kebingungan, tak mengerti apa yang terjadi

“Maafkan aku...” kataku

“ada apa Ustadzah?” tanyanya kebingungan

“Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi yang pasti aku minta maaf padamu atas semua kesalahanku yang kamu tahu atuapun tidak” jawabku lirih sambil melepaskan pelukanku darinya.

7 tahun berlalu sejak kejadian itu...

Salah satu agenda kegiatan kunjungan kami ke Hadhromaut adalah berziarah kepada para sesepuh yang masih ada. Selain meminta nasihat, kami gunakan kesempatan yang berharga ini untu memohon agar mereka berkenan mendoakan kami. Dan nama Hubabah Umairoh aku masukkan dalm daftar kunjungan tersebut.

Alhamdulilah, sekembalinya aku ke tanah air, aku mendapat kepercayaan setahun sekali dari sebuah biro perjalanan haji dan umrah untuk membimbing jamaah mereka yang hendak menunaikan ibadah umrah. Rombongan yang terdiri dari kurang lebih 30-an orang itu aku pimpin menunaikan ibadah umrah sekaligus berziarah ke negeri Hadhramaut tempat aku dulu pernah menuntut ilmu.

Kami duduk di hadapan Hubabah Umairoh dan meminta beliau mendoakan kami. Belia terlihat jauh lebih tua dari saat ku temui beberapa tahun silam. Keriput di wajahnya semakin dalam, hanya semangat dan kepercayaan dirinya terhadap Allah yang ku lihat tetap sama.

Aku berusaha menterjemahkan percakapan rombonganku kepada beliau dan percakapan beliau kepada mereka. Dan ketika semuanya usai, aku berkata berkata beliau:

“Sekarang giliranku, Hubabah” kataku sambil mendekat

“Doakan agar Allah berkenan mengaruniakan aku keturunan. Hampir 4 tahun aku menikah belum juga di karuniai anak.”

Beliau mendengarkan dengan seksama lalu berujar dengan santai;

“Halimah...

Tidaklah kamu merasa hidup ini sudah begitu sibuk?ada banyak hal di dunia ini menyibukkan kita dari ibadah kepada Allah. Dari 24 jam sehari semalam yang Allah berikan hanya beberapa jam yang tersisa kita gunakan untuk-Nya. Apakah engkau masih ingin menambah kesibukanmu pula dengan urusan anak?”

Aku tercenung mendengar ucapannya yang tidak ku sangka...

Beliau lalu melanjutkan;

“Aku menikah, dan dari sejak awal pernikahanku, aku selalu berharap jika dengan kehadiran anak-anak akan menyibukkanku dari-Nya, maka tanpa karunia anakpun, aku tak apa-apa...aku tak ingin di tersibukkan dengan selain-Nya.”

“Tapi bukankah mereka akan jadi penerus amal kebaikan kita tatkala kita mati nantinya?”kataku membela diri

‘Tak adakah hal lain yang bisa menggantikannya? Ilmu yang kita ajarkan dan di amalkan bahkan oleh generasi mendatrang setelah kita, doa oang banyak yang kita pernah berbuat baik padanya, amal jariyah yang kita lakukan dan kemanfaatannya terus di rasakan?”

Aku terdiam dan berpikir panjang...

Hubabah Umairoh tak menyisakan argumen untukku menjawab ucapannya.

“Tapi...tapi aku masih menginginkannya...walau mungkin hanya untuk sekedar kesempurnaan menjadi seorang wanita”kataku setengah terbata-bata

“Benar Anakku, aku memahamimu...karenanya aku akan tetap mendoakanmu..,namun yakin dan selalu percayalah, bahwa apapun yang Dia pilihkan untukmu itu merupakan hal terbaik yang Dia karuniakan. Dia mengetahui segalanya...dan kita tidak mengetahui apapun sesungguhnya...”

Kata-kata bijaknya selalu ku kenang sampai saat ini, dan sampai saat ini pula aku selalu berdoa kiranya allah berkenan memanjangkan umurnya agar masih banyak orang-orang sepertiku yang bisa memetik pelejaran darinya. Tentang tujuan hidup sesungguhnya..tentang tawakkal, tentang keikhlasan...tentang segala hal...meski entah, apakah orang seperti beliau berharap masih ingin lebih lama hidup di muka bumi ini atau justru sudah merindukan kematian sebagai jembatan pertemuannya dengan Sang Pencipta.

Pentingkah...?
Bila hidup adalah sebuah danau yang tenang
Atau suatu bak air yang keruh ?
Ia tak abadi
Jutaan bintang hidup tanpa cemas
Merpati tak tahu,
Apakah ia makan nati malam?
Tetapi ia tetap bersenandung
Dari gajah sampai unggas
Semua adalah hasil ciptaan tuhan
Dan bergantung kepadaNya
Pemberi rizki yang Maha Agung
(Jalaluddin Ar Rumi)


Anakku...
Bahagiamu letaknya di sini...
Di hatimu sendiri
Bukan pada indah pemandangan
Di tatap mata
Bukan pada sanjungan merdu
Di dengar telinga
Bukan pada kelembutan
Yang dapat kau raba
Ia tak bisa di deteksi panca indra

Sebaliknya, anakku...
Kala hatimu bahagia
Gurun-gurun pasir tak ubah taman bunga
Cacian dan makian serasa senandung belaka
Semua yang kau sentuh terasa bak sutra

Bahagiamu dekat saja, Nak...
Di hatimu sendiri
Tak perlu kau cari ia
Jauh-jauh di sana...

Hubabah tiflah, ajarkan aku berdoa sepertimu...

Hubabah tiflah, ajarkan aku berdoa sepertimu...

Allah berfirman :
Seruanmu memanggil namaKu
Adalah jawabanKu.

Kerinduanmu padaKu
Adalah pesanKu untukmu

Segala upayamu
untuk menggapaiKu
pada hakikatnya adalah
upayaKU menggapaimu

ketakutan dan cintamu
adalah simpul untuk
mendapati Aku

dalam keheningan
yang mengelilingi setiap seruan :
” Allah ”
Menanti seribu jawaban :
” disinilah Aku ”

Lebaran pertamaku di perantauan tanpa ketupat, tanpa opor, tanpa sambal goreng kesukaan, tanpa kue-kue kering makanan khas lebaran. Tanpa orangtua, tanpa saudara, tanpa teman-teman sepermainan. Tanpa siapapun yang sebelumnya ku kenal kecuali kakak laki-lakiku yang memang bersamanya aku merantau ke negeri orang.

Dengan baju baru yang dibelikan kakak semalam, aku berjalan keluar rumah sendirian. Kakakku sudah lebih dulu keluar, ada acara uwadh semacam open house, silaturahim antara ’ulama dan masyarakat.

” khusus laki-laki” jawabnya ketika ku utarakan niatku ikut bersamanya.

Maka, akupun berjalan sendirian. Takbir Idul Fitri sudah tidak lagi terdengar, karena selepas sholat Ied pagi tadi masjid-masjid sudah berhenti mengumandangkan takbir. Dari kejauhan tampak deretan pohon kurma yang tidak sedang berbuah. Sekarang, musim dingin dan pohon-pohon kurma baru akan berbuah pada musim panas. Kabarnya angin panas padang pair yang bisa di sebut Samum (nama angin yang mengeluarkan hawa panas) itulah yang membuat masak buah kurma. Pantas saja pohon kurma tak berbuah di negeri Indonesia. Angin di sana tidak panas malah sejuk menerpa wajah.

Jalanan terlihat lengang hanya sesekali saja kulihat mobil-mobil pribadi yang mungkin membawa penumpangnyza bersilaturahim saling berkunjung pada lebaran seperti ini.

Ku ketuk pintu rumah Ustadzah Zainab Al Khotib. Seorang ustadzah dari Taiz, sebuah kota pertanian didaerah Yaman Selatan yang kini menetap di Tarim dan menajar di Daruz Zahra ( nama lembaga pendidikan agama semacam pesantren putri ) Ma’had di mana aku bersekolah di sana. Suaminya seorang ustadz dan pengurus Darul Musthofa, yayasan yang membawahi Daruz Zahra. Kebetulan kemarin disaat berjumpa dengannya di masjid, sewaktu sama-sama sholat Tarawih terakhir, beliau mengajakku -mungkin karena kasihan terhadap anak baru yang berlebaran sendirian- berkunjung ke beberapa orangtua di negeri ini.

Senyum Muhammad putra ustadzah segera menyambutku kala ia membukakan pintu.

” kamu Halimah dari Indonesia ya?” tanyanya dengan dialek arab yang fasih. Usianya ku taksir sekitar 7 tahun.

Aku mengangguk mengiyakan dan diapun segera berlari kedalam memberi tahukan ibunya setelah sebelumnya mempersilahkan aku masuk dan duduk di ruang tamu. Sebuah ruangan tanpa kursi khas negeri arab hanya bantal-bantal tebal tersusun sebagai sandaran.

Tak lama Ustadzah Zainab menemuiku dengan sebaki nampan penuh makanan. Ada berbagai jenis Halawa ( kue manis biasanya terbuat dari wijen), kacang-kacangan, gela (sejenis kwaci) dan secangkir kecil teh dengan ni’na ( daun mint) minuman khas daerah ini.

Setelah berbasa-basi sebentar menanyakan keadan dan aku menjawabnya dengan bahasa arab ala kadarnya kerena baru kurang lebih sebulan aku tinggal di negeri ini, Ustadzah Zainab menerangkan padaku siapa yang akan kami kunjungi hari ini.

”Kita biasa memanggilnya Hubabah Tiflah” katanya.

” Seorang perempuan tua, ahli ibadah yang lisannya tak pernah berhenti berdzikir. Orang-orang biasa memanggilnya dengan nama itu (dalam bahasa arab artinya bayi) mungkin karena beliau sampai di masa tuanya masih tetap seperti bayi, tak pernah menyakiti siapapun.”

Rumah itu sangat sederhana kalau tidak malah bisa dibilang miskin papa. Tak ada permadani tebal atau sandaran-sandaran empuk layaknya rumah-rumah yang lain pada umumnya. Hanya karpet tipis yang mulai lapuk menutupi tanah tak bersemen di bawahnya. Dindingnya hanya separoh yang di cat. Selebihnya berwarna coklat asli tanah yang di laburkan begitu saja. Ada tumpukan bantal dan selimut usang di sudut ruang. Kurasa di ruangan itu pula mereka bisa tidur di malam hari. Sungguh keadaan yang memprihatinkan. Sangat tidak sesuai dengan raut wajah mereka yang menyambut kami kala masuk rumah tadi. Senyum mereka begitu lepas tanpa beban, tawa ceria anak-anak kecilpun tetap terdengar, sambutan berupa pelukan dan dibarengi ucapan ahlan wa sahlan terdengar berulang-ulang seolah kami adalah kerabat dekat yang selalu dinanti bertandang. Sungguh....Aku jadi betul-betul menyadari memang benar bahwa kebahagiaan tak selalau di ukur dengan materi.

Sekilas ku dengar Ustadzah Zainab memperkenalkan aku kepada keluarga itu sebelum akhirnya menarik tanganku menemui seorang wanita tua yang duduk bersandar di sudut ruangan.

Wanita itu segera tersenyum demi menyadari keberadaan kami. Aku berpikir ini pasti Hubabah Tiflah yang di ceritakan Ustadzah Zainab di rumahnya tadi. Usianya ku taksir diatas tujuh puluhan. Kulitnya sawo matang berkeriput.

Dan Ya Allah...
Ternyata beliau buta...
Pantas saja beliau tidak ikut berdiri bersama yang lain kala menyambut kadatangan kami. Aku perhatikan raut wajahnya. Dia tidak cantik, namun dari wajahnya terlihat seolah tak pernah ada beban atau masalah apapun dalam hidupnya. Beliau betul-betul seperti bayi. Aku diam di hadapannya, tak tahu harus berbuat apa. Hingga tatkala ku lihat Ustadzah Zainab duduk dan mencium tangan wanita itu, akupun cuma mengikuti saja di belakangnya dan sambil kupegangi tangannya, aku memperkenalkan diri.

”Halimah dari Indonesia” kataku dengan lahjah (dialek) yang ketara bukan orang arab tentunya.

Dia balas memegang erat tanganku lama sekali hingga ku rasa hangat tangannya menjalari tanganku. Lalu dia meraba-raba wajahku dengan kedua tangannya. Mungkin untuk mempermudah beliau membayangkan rupaku.

Kemudian diletakkannya tangan kanannya di dadaku, dan lalu ia mendoakanku. Dia terus berdoa dan tak henti-hentinya berdoa untukku. Seolah saat itu tidak ada yang lebih penting baginya kecuali aku. Perempuan asing yang bahkan baru ia kenal beberapa menit yang lalu. Ia masih saja berdoa dengan satu kalimat sederhana. Ya, ia berdoa dengan satu kalimat saja. Satu kalimat doa yang tak akan pernah ku lupa. Apalagi tatkala kemudian di iringinya doa tersebut dengan linangan air mata. Sungguh membuat aku terpana, lemas tak mampu bahkan untuk mengangkat tanganku mengaminkan doanya...

”Semoga Allah takkan pernah tega menyengsarakanmu, Anakku...” Doa itu terus di ulangnya berkali-kali dengan cucuran air mata...

Ya Allah, sampai kapanpun, dimanapun, jangan pernah tega untuk menyengsarakan hidupnya... ” katanya lagi dan lagi dengan air mata yang membanjiri wajah tuanya. Membuatku tak kuasa membendung luapan air mata dan akupun ikut menangis terguguk di lantai itu juga.

”Ya Allah...kabulkan doanya.” teriakku dalam hati. Jangan pernah tega menyengsarakan aku sekarang, nanti dan selamanya, disini dan di sana. Di dunia ini ataupun hari setelahnya.

Tangisku tumpah ruah. Ku kutuki diri dan dosa-dosa yang cukup membuat Allah murka dan berkemungkinan membuatku sengsara. Aku malu atas gunung-gunung dosa yang ku timbun tak habis-habisnya.

”Ya Allah, dan maafkan aku hanya tak mengerti bagaimana berdoa pada-Mu. Maafkan aku yang jika untuk keselamatan diriku harus ada orang lain yang memohonkan dengan linangan air mata. Sesuatu yang bahkan tak ku ingat pernah ku lakukan ”

”Dan terimakasih Ya Allah...Kau perkenalkan aku pada wanita ini yang berdoa untukku ribuan kali lebih baik dariku.”

”Terimakasih unruk airmata kesungguhannya yang mungkin tak ku dapat dari orang-orang yang mengaku mencintaiku sekalipun.”

”Terimakasih pula telah Kau bawa aku ke rumah ini. Rumah yang aku yakini di mata malaikat-malaikat-Mu lebih indah dari rumah bermarmer mewah namun penghuninya tak pandai mensyukuri nikmat-Mu.”

”Terimakasih Ya Allah untk sebuah pelajaran berharga”

”Doamu untuk sesama adalah hadiah terindah yag dapat kau berikan padanya.”

SYARIFAH HALIMAH ALAYDRUS

SYARIFAH HALIMAH ALAYDRUS

Halimah alaydrus, wanita kelahiran Indramayu Jawa Barat 30 tahun lalu ini, sejak kecil memutuskan untuk mempelajari ilmu agama di beberapa pesantren daripada menyelesaikan pendidikan formalnya. Darullughoh Wadda’wah di Bangil-Pasuruan Jawa Timur adalah pesantren pertamanya, kemudian At Tauhidiyah Tegal dan Al Anwar Sarang Rembang Jawa Tengah. Pendidikan terakhirnya di Daruz Zahra Tarim-Hadhramaut Yaman. Di sana selain mengikuti proses belajar, juga di percaya untuk mengajar.

Saat ini dengan dukungan suami, keluarga dan sahabat-sahabatnya, selain aktif dan sibuk mengajar diberbagai majlis ta’lim di DKI Jakarta dan sekitarnya, juga melakukan Rihlah Da’wah dan Ilmiah di berbagai propinsi di Indonesia, Singapura, Malasyia dan Oman.

“Bidadari Bumi” adalah buku pertama yang di tulis disela-sela kesibukannya mengajar dan berdakwah.

Tentang bidadari bumi

Oleh Syarifah Halimah Alaydrus

Jika dalam hidup ini ada kebahagiaan yang harus saya bagi pada sesama, maka mungkin inilah saat yang tepat bagi saya untuk mencoba.

Perjumpaan dengan wanita-wanita mulia disela-sela masa belajar saya di Tarim, sebuah kota kecil di propinsi Hadhramaut, merupakan satu anugrah Allah yang tak terkira dari sekian banyak anugrah-Nya yang membahagiakan hati saya. Rasanya seperti mimpi indah yang menjadi nyata. Sebab ternyata wanita-wanita mulia itu ada, mereka hidup di masa saya dan saya berjumpa dengan mereka, menerima banyak mutiara-mutiara berharga dai pelajaran dan perjalanan hidup mereka…
Ya, mereka bukan wanita-wanita dari negeri dongeng, bukan bidadari yang ada di surga sana, mereka ada di sini. Di bumi ini…

Mereka adalah para bidadari bumi.

Memang sejak kecil hingga remaja, saya saya selalu kesulitan untuk mencari sosok wanita idola untuk saya teladani dalam mengarungi kehidupan ini. Benar, bahwa saya-seperti juga yang lain tentunya-sudah di kenalkan dengan semisal Sayyidah Khodijah istri Nabi atau Sayyyidah Fatimah puteri Nabi yang bukan hanya sekedar wanita mulia bahkan mereka adalah pemimpin para wanita surga. Tapi bukankah zaman mereka berbeda…? Sementara saya membutuhkan contoh yang lebih dekat dan nyata dengan kehidupan zaman sekarang ini. Saya membutuhkan Khodijah dan Fatimah abad 20 begitulah kira-kiranya…

Maka ketika pada akhirnya saya berjumpa satu demi satu dengan wanita-wanita yang saya ceritakan nanti, ada keinginan dalam hati saya untuk berbagi cerita tentang pengalaman saya ini agar tatkala ada anak yang kesulitan mencari idola seperti halnya saya di masa lalu, maupun remaja atau perempuan di usia berapapun yang saat ini sibuk mengekor kepada wanita yang kurang tepat karena tak punya pilihan idola yang seharusnya, maka cerita-cerita tentang mereka ini semoga bisa memberi inspirasi dan penyemangat bahwa di zaman sekarang ini saat maksiat dan dosa menjadi sesuatu yang lumrah dan merajalela di mana-mana ternyata masih banyak wanita-wanita bak mutiara berkilau yang begitu indah menjalani kehidupannya. Dan tentu saja jika mereka bisa melakukanya kitapun tentu bisa belajar menteladani mereka.

Saya tidak sedang mencoba menyajikan suatu hal yang muluk tentang wanita sempurna yang bisa kita jadikan teladan dalam semua aspek kehidupannya, karena bahkan diantara mereka ada yang tidak benar-benar saya ketahui seluruh hidupnya. Namun sekelumit dari kisah yang saya ceritakan ini paling tidak memberi gambaran tentang satu potret kehidupan nyata yang akan bisa kita praktekkan dalam satu sisi kehidupan kita.

Bagi saya, pribadi mereka adalah orang-orang yang mengerti tentang makna dan tujuan hidup yang Allah anugrahkan bagi mereka. Mereka berupaya menjadikan dunia ini sebagai ladang amal untuk menuai hasilnya di masa yang akan datang, di masa setelah kematian. Setidaknya, itu menurut saya, namun seperti apapun penilaian anda tentang mereka, mari kita sama-sama membaca dan kemudian berkaca agar hidup kita menjadi lebih bermakna dan tidak lagi menyia-nyiakan karunia hidup yang telah Allah anugrahkan kepada kita.

Mari menjadi hamba Allah yang mulia.

Mahabbah dengan Sederhana...

Ust. Anismata

"De'... de'... Selamat Ulang Tahun..." bisik seraut wajah tampan tepat di hadapanku. "Hmm..." aku
yang sedang lelap hanya memicingkan mata dan tidur kembali setelah menunggu sekian detik tak
ada kata-kata lain yang terlontar dari bibir suamiku dan tak ada sodoran kado di hadapanku.
Shubuh ini usiaku dua puluh empat tahun. Ulang tahun pertama sejak pernikahan kami lima bulan
yang lalu. Nothing special. Sejak bangun aku cuma diam, kecewa. Tak ada kado, tak ada black
forest mini, tak ada setangkai mawar seperti mimpiku semalam. Malas aku beranjak ke kamar
mandi. Shalat Subuh kami berdua seperti biasa. Setelah itu kuraih lengan suamiku, dan selalu ia
mengecup kening, pipi, terakhir bibirku. Setelah itu diam. Tiba-tiba hari ini aku merasa bukan apa-apa,
padahal ini hari istimewaku. Orang yang aku harapkan akan memperlakukanku seperti putri
hari ini cuma memandangku.
Alat shalat kubereskan dan aku kembali berbaring di kasur tanpa dipan. ku memejamkan mata,menghibur diri, dan mengucapkan. Happy Birthday to Me... Happy Birthday to Me.... Bisik hatiku
perih. Tiba-tiba aku terisak. Entah mengapa. Aku sedih di hari ulang tahunku. Kini aku sudah menikah. Terbayang bahwa diriku pantas mendapatkan lebih dari ini. Aku berhak punya suami yang mapan, yang bisa mengantarku ke mana-mana dengan kendaraan. Bisa membelikan blackforest, bisa membelikan aku gamis saat aku hamil begini, bisa mengajakku menginap di sebuah resort di malam dan hari ulang tahunku. Bukannya aku yang harus sering keluar uang untuk segala kebutuhan sehari-hari, karena memang penghasilanku lebih besar. Sampai kapan aku mesti bersabar, sementara itu bukanlah kewajibanku.
"De... Ade kenapa?" tanya suamiku dengan nada bingung dan khawatir.
Aku menggeleng dengan mata terpejam. Lalu membuka mata. Matanya tepat menancap di mataku..Di tangannya tergenggam sebuah bungkusan warna merah jambu. Ada tatapan rasa bersalah dan malu di matanya. Sementara bungkusan itu enggan disodorkannya kepadaku.
"Selamat ulang tahun ya De'..." bisiknya lirih. "Sebenernya aku mau bangunin kamu semalam, dan
ngasih kado ini... tapi kamu capek banget ya? Ucapnya takut-takut.
Aku mencoba tersenyum. Dia menyodorkan bungkusan manis merah jambu itu. Dari mana dia
belajar membukus kado seperti ini?! Batinku sedikit terhibur.. Aku buka perlahan bungkusnya
sambil menatap lekat matanya. Ada air yang menggenang.
"Maaf ya de, aku cuma bisa ngasih ini. nnnng... Nggak bagus ya de?" ucapnya terbata. Matanya
dihujamkan ke lantai.
Kubuka secarik kartu kecil putih manis dengan bunga pink dan ungu warna favoritku. Sebuah tas
selempang abu-abu bergambar Mickey mengajakku tersenyum. Segala kesahku akan sedikitnya
nafkah yang diberikannya menguap entah ke mana. Tiba-tiba aku malu, betapa tak bersyukurnya
aku.
"Jelek ya de'? Maaf ya de'... aku nggak bisa ngasih apa-apa.... Aku belum bisa nafkahin kamu
sepenuhnya. Maafin aku ya de'..." desahnya.
Aku tahu dia harus rela mengirit jatah makan siangnya untuk tas ini. Kupeluk dia dan tangisku
meledak di pelukannya. Aku rasakan tetesan air matanya juga membasahi pundakku. Kuhadapkan wajahnya di hadapanku. Masih dalam tunduk, air matanya mengalir. Rabbi... mengapa sepicik itu pikiranku? Yang menilai sesuatu dari materi? Sementara besarnya karuniamu masih aku pertanyakan.
"A' lihat aku...," pintaku padanya. Ia menatapku lekat. Aku melihat telaga bening di matanya. Sejuk dan menenteramkan. Aku tahu ia begitu menyayangi aku, tapi keterbatasan dirinya menyeret dayanya untuk membahagiakan aku. Tercekat aku menatap pancaran kasih dan ketulusan itu. "Tahu nggak... kamu ngasih aku banyaaaak banget," bisikku di antara isakan. "Kamu ngasih aku seorang suami yang sayang sama istrinya, yang perhatian. Kamu ngasih aku kesempatan untuk meraih surga-Nya.. Kamu ngasih aku dede'," senyumku sambil mengelus perutku. "Kamu ngasih aku sebuah keluarga yang sayang sama aku, kamu ngasih aku mama...." bisikku dalam cekat.
Terbayang wajah mama mertuaku yang perhatiannya setengah mati padaku, melebihi keluargaku
sendiri. "Kamu yang selalu nelfon aku setiap jam istirahat, yang lain mana ada suaminya yang
selalu telepon setiap siang," isakku diselingi tawa. Ia tertawa kemudian tangisnya semakin kencang di pelukanku.
Rabbana... mungkin Engkau belum memberikan kami karunia yang nampak dilihat mata, tapi rasa
ini, dan rasa-rasa yang pernah aku alami bersama suamiku tak dapat aku samakan dengan mimpi mimpiku akan sebuah rumah pribadi, kendaraan pribadi, jabatan suami yang oke, fasilitas-fasilitas .Harta yang hanya terasa dalam hitungan waktu dunia. Mengapa aku masih bertanya. Mengapa
keberadaan dia di sisiku masih aku nafikan nilainya. Akan aku nilai apa ketulusannya atas apa saja yang ia berikan untukku? Hanya dengan keluhan? Teringat lagi puisi pemberiannya saat kami baru
menikah... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... .

Rabu, 19 Mei 2010

Mbok Yem

Oleh: A. Mustofa Bisri

Alhamdulillah, sebelum wukuf di Arafah aku bisa menemukan ibu dan adikku di pondokan mereka di Mekkah. Mereka tinggal di kamar yang sempit bersama 4 pasang suami-istri. Masing-masing menempati kapling semuat dua orang yang hanya diberi sekat kopor-kopor. Di tengah-tengah ada sedikit ruang kosong yang dipenuhi bermacam-macam makanan dan peralatan makan. Ibu memperkenalkan saya kepada kawan-kawan kelompoknya.

Ini anak saya yang belajar di Mesir;" katanya bangga. "Sudah empat tahun tidak pulang."

Malu-malu saya menyalami mereka satu per satu. Di antara mereka itu ada dua sejoli yang sudah sangat tua. Lebih tua dari ibu. Yang laki-laki dan dipanggil Mbah Joyo lebih tua lagi. Beberapa tahun lebih tua dari Mbok Yem, istrinya. Berbeda dengan Mbah Joyo yang agak pendiam, Mbok Yem orangnya ramah dan banyak bicara, mendekati ceriwis.

Yang kemudian menarik perhatian, sekaligus membuatku agak geli, adalah kemesraan kedua sejoli itu. Mereka laiknya pengantin baru saja. Seperti tidak menghiraukan senyum-senyum dan lirikan-lirikan menggoda kawan-kawannya yang memperhatikan mereka, Mbok Yem menggelendot manja di pundak Mbah Joyo.

"Pak, kita beruntung ya," katanya sambil mengelus rambut suaminya yang putih bagai kapas. "Nak Mus ini belajar agama di Mesir, dia bisa menjadi muthawwif kita dan membimbing manasik kita." Lalu ditujukan kepadaku, "Bukan begitu, Nak Mus?"

Aku mengangguk saja sambil tersenyum.

"Kalau perlu Nak Mus pasti tidak keberatan mengantar kita ke mana-mana," katanya lagi. "Nanti Mbok Yem bikinkan sayur asem kesukaan Mbah Joyo. Mbok Yem paling ahli bikin sayur asem. Tanyakan Mbah Joyo ini, lidahnya sampai njoget jika Mbok Yem masak sayur asem."

"Tapi dia juga baru sekarang ini ke Mekkah," tukas ibuku. "Jadi di sini pengalamannya tidak lebih banyak dari kita-kita ini."

"Ya, tapi Nak Mus kan pasti pandai bahasa Arab; jadi tak akan kesasar dan bisa menolong kita jika belanja. Kita tak perlu lagi menawar-nawar pakai bahasa isyarat, kaya orang bisu."

Orang-orang pada ketawa.

"Tapi, Nak Mus ini kan tidak tinggal di sini bersama kita," kata salah seorang jamaah sambil menyodorkan segelas teh. "Terima kasih!" aku menyambut teh panas yang disodorkan.

"Ya, Nak Mus tinggalnya di mana?" tanya yang lain.

"Saya tinggal bersama kawan-kawan mahasiswa yang lain," kataku, "tapi tidak jauh dari sini kok. Saya bisa sering kemari."

"Nah, Pak, nanti kita bisa jalan-jalan ke mana saja tanpa khawatir," kata Mbok Yem lagi sambil memijit-mijit lengan Mbah Joyo. "Kita punya pengawal yang masih muda dan bisa berbahasa Arab."

"Kamu ini bagaimana," Mbah Joyo yang dari tadi hanya diam dan senyum-senyum tiba-tiba angkat bicara. "Nak Mus ke sini ini kan bukan untuk kamu saja. Tapi terutama untuk ibu dan adiknya yang sudah lama tidak bertemu. Mereka pasti ingin berkangen-kangenan."

"Ya, saya tahu," sahut Mbok Yem sambil mleroki suaminya. "Saya juga tidak bermaksud menguasai Nak Mus sendiri. Maksud saya kita bisa nginthil, ikut bersama-sama ibu dan mbak bila mereka ke masjid atau ke mana saja."

"Enak saja!"

"Sudah, sudah," kata ibuku memotong. "Sudah jam setengah sebelas. Ayo kita siap-siap ke masjid!"
***

Alhamdulillah, sejak di Arafah saya bisa bergabung bersama rombongan ibu. Malam menjelang wukuf, kami sudah sampai ke padang luas yang menjadi seperti lautan tenda itu. Beberapa orang tampak letih. Justru Mbok Yem dan Mbah Joyo --anggota rombongan yang paling tua-- sedikit pun tidak memperlihatkan tanda-tanda kelelahan. Bahkan pancaran semangat dua sejoli ini tampak jelas seperti mempermuda usia mereka. Ketika paginya, saya ajak mereka keluar kemah untuk melihat suasana Arafah yang begitu luar biasa. Meski mentari belum begitu mengganggu dengan sengatan panasnya, dia telah memberikan cahayanya yang benderang pada hamparan putih Arafah. Sejauh mata memandang, putih-putih tenda dan putih-putih kain ihram mendominasi pemandangan. Di sana-sini bercuatan bendera-bendera negara atau sekadar tanda rombongan jamaah tertentu. Dari kejauhan tampak "bukit manusia" dengan puncak sebuah tugu yang juga berwarna putih. "Apakah itu Jabal Rahmah?"

"Ya, itulah Jabal Rahmah."

"Apa betul itu tempat pertemuan pertama Bapa Adam dengan Ibu Hawa setelah mereka turun dari sorga?"

"Wallahu a’lam ya, tapi memang banyak yang percaya."

"Apa kita akan ke sana?"

"Ah, tak perlu. Lagi pula itu jauh. Kelihatannya saja dekat. Wukuf yang penting di Arafah, beristighfar dan berdoa. Di sini saya kira kita bisa lebih khusyuk."

Ketika kembali ke kemah, tampaknya kawan-kawan jamaah masih membawa kesan mereka dari melihat panorama yang belum pernah mereka saksikan itu.

"Orang kok sekian banyaknya itu dari mana saja ya?"

"Ya, ada yang hitam sekali, putih sekali, yang coklat, malah ada yang seperti tomat kemerah-merahan."

"Sekian banyak orang kok pakaiannya putih-putih semua, masya Allah!"

Semua yang berbicara itu mengarahkan pandangannya kepadaku, seolah-olah komentarku memang mereka tunggu. Atau ini hanya perasaanku saja. Tapi aku bicara juga. "Kata guru saya, inilah gambaran mini nanti saat kita di padang Makhsyar, ketika semua orang dibangunkan dari alam kubur. Tak ada kaya tak ada miskin; tak ada orang besar tak ada orang kecil; tak ada bangsawan tak ada jelata; semuanya sama. Semuanya digiring di padang terbuka seperti di Arafah ini. Bedanya, di sini masih ada tenda dan naungan-naungan lain; di sana kelak, tidak. Masing-masing orang akan dimintai pertanggungjawaban atas amal perbuatannya selama hidup di dunia."

Aku berhenti, karena kudengar ada isak tangis yang semakin lama semakin mengeras. Ternyata tangis Mbok Yem di pangkuan Mbah Joyo yang juga terlihat berkaca-kaca kedua matanya. Seisi kemah pun terdiam. Sampai datang seorang petugas kloter menyuruh semuanya bersiap-siap untuk acara salat bersama --Dhuhur dan Asar-- dan melanjutkan ritual wukuf dengan berdzikir dan berdoa.

Aku perhatikan, sejak selesai acara salat dan berdoa bersama, hingga akhirnya masing-masing berdzikir dan berdoa sendiri-sendiri, Mbok Yem dan Mbah Joyo terus menangis dan hanya mengulang-ulang astaghfirullah, astaghfirullah... Memohon ampun kepada Allah. Tak terdengar kedua sejoli tua ini berdzikir atau berdoa yang lain.
***
Malam ketika arus air bah kendaraan dan manusia mengalir dari Arafah ke Muzdalifah dan Mina, di atas bus kami sendiri, hanya terdengar talbiyah dan takbir. Kecuali sepasang mulut yang masih terus beristighfar. Mulut Mbok Yem dan Mbah Joyo.

Menjelang dini hari kami sampai wilayah Muzdalifah. Dari kejauhan, kerlap-kerlip lampu tampak semakin memperindah panorama Masy’aril Haram. Bus kami berhenti dan rombongan berhamburan turun dalam gelap, mencari batu-batu kerikil untuk melempar Jamrah. Ibu aku minta tetap di bus, aku dan adikku saja yang turun. Yang lain ternyata turun semua. Beberapa di antaranya ada yang sudah siap dengan lampu senter kecil dan kantong kain tempat batu-batu kerikil. Di sana-sini terlihat beberapa kendaraan juga sedang parkir, menunggu para penumpangnya mencari kerikil.

"Jangan jauh-jauh!" terdengar suara ketua rombongan memperingatkan. Orang-orang tidak mau mendengarkan. Bukan karena apa-apa. Mereka sudah telanjur tidak simpati kepada petugas yang menurut mereka hanya pandai bicara saja. Tak pernah ngurus jamaah. Menemui jamaah hanya kalau mau menarik pungutan ini-itu yang tidak jelas peruntukannya.

Tapi ketika sudah cukup lama dan masih banyak yang ke sana-kemari, aku dan beberapa orang yang sudah dari tadi selesai mencari kerikil, ikut membantu ketua rombongan meneriaki dan bertepuk-tepuk tangan; memperingatkan mereka agar segera naik kendaraan. Apalagi sopir bus --orang Mesir-- sudah ngomel-ngomel terus sambil naik-turun bus, tidak sabar. Apalgi kendaraan-kendaraan yang lain pun sudah cabut bersama para penumpangnya menuju Mina.

Mereka akhirnya kembali juga naik bus, meski ada di antara mereka yang sambil menggerutu, "Sopir kok didengerin. Ini kan ibadah. Di sini aturannya kita kan menginap. Mengapa buru-buru?"

"Sudahlah, mungkin si sopir mempertimbangkan padatnya lalu-lintas, takut terlambat sampai Mina," aku mencoba menyabarkan si penggerutu."Lagi pula kita kan di sini sudah melewati jam 12. Jadi sudah terhitung menginap."

Tiba-tiba, ketika ketua rombongan baru mengabsen dan menghitung jamaah, terdengar Mbok Yem teriak histeris, "Mbah Joyo! Mana Mbah Joyoku?!" Seketika semuanya baru menyadari bahwa Mbah Joyo belum kembali. Mbok Yem meloncat turun dari bus sambil terus menangis dan menjerit-jerit memanggil-manggil suaminya. Hampir seisi bus ikut turun. Ibu dan adikku mengikutiku mengejar Mbok Yem, mencoba menenangkannya.

"Tenanglah, Mbok Yem," bujuk ibuku sambil merangkul perempuan tua itu. "Mbah Joyo tidak ke mana-mana. Kita pasti akan menemukannya."

"Iya, Mbok," adikku ikutan membujuk. "Kalau pun Mbah Joyo kesasar, di sini ada petugas khusus yang ahli menemukan orang kesasar. Percayalah."

"Ya, Mbok, kalau memang betul-betul kesasar, saya nanti yang akan menghubungi polisi atau petugas yang lain," aku menimpali. "Mbah Joyo pasti kembali bersama kita lagi."

Aku sendiri dan mungkin juga ibu dan adikku tidak begitu yakin dengan apa yang kami katakan. Namun alhamdulillah, meski masih terisak dan bicara sendiri, Mbok Yem bisa agak tenang. "Mbah Joyo itu penyelamatku!" desisnya berkali-kali.

Kepala rombongan dan beberapa orang lelaki, termasuk sopir, yang mencoba mencari sampai di luar area tempat mereka tadi mencari kerikil, sudah kembali tanpa hasil. Ada yang menduga Mbah Joyo mungkin kesasar naik kendaraan lain yang diparkir di dekat mereka. Kita berunding dan sepakat akan meneruskan perjalanan sambil mencari. Semua kembali naik bus. Mbok Yem yang dibimbing ibu dan adikku, sebentar-sebentar masih menoleh ke arah padang gelap Muzdalifah. Ibu mengawani duduk dan masih terus merangkul sahabat tuanya yang kini diam saja itu.
***
Subuh, kami baru sampai Mina. Semuanya terlihat letih, lebih-lebih Mbok Yem. Untung, tidak lama mencari, kami telah sampai kemah maktab kami. Dan, begitu masuk kemah, bukan main terkejut kami. Kami melihat Mbah Joyo sedang duduk bersila menyantap buah anggur dari pinggan besar yang penuh aneka buah-buahan. (Selain anggur, ada apel, jeruk, pisang, buah pir, dll).

Mbok Yem langsung menjerit, "Mbah Joyo!" dan menghambur serta memeluk dan menciumi suaminya itu sambil menangis gembira. Mbah Joyo sendiri hanya tersenyum-senyum agak malu-malu. Sejenak yang lain masih terpaku keheranan. Baru kemudian meluncur hampir serempak, "Alhamdulillaaaah!"

Semuanya kemudian merubung Mbah Joyo yang masih terus dipeluk, dielus, dan diciumi Mbok Yem. Semuanya gembira.

"Sudah dulu, Mbok Yem," tegur ketua rombongan, "nanti dilanjutkan kangen-kangenannya. Biarlah Mbah Joyo bercerita dulu." Kemudian kepada Mbah Joyo, "Mbah Joyo, Sampeyan ke mana saja semalam?"

"Iya, Mbah," sela yang lain, "Sampeyan salah masuk bus ya?!"

"Kok tahu-tahu Mbah Joyo sudah sampai di sini ini ceritanya bagaimana?" tanya yang lain lagi.

"Mbah Joyo sudah melempar jumrah ’aqabah?"

Mbah Joyo mengangguk sambil tersenyum. "Lihat, kan saya sudah pakai piyama!" Kemudian bercerita seperti sedang menceritakan sebuah dongeng.

"Saya tidak kesasar dan tidak salah naik bus. Saya bertemu dengan seorang muda yang gagah dan ganteng dan diajak naik kendaraannya yang bagus sekali. Saya bilang bahwa saya bersama rombongan kawan dan istri saya. Dia bilang sudah tahu dan meyakinkan saya bahwa nanti saya akan ketemu juga di Mina. Bapak sudah tua, katanya, nanti capek kalau naik bus. Akhirnya saya ikut. Sampai Mina saya dibawa kemari, disuruh istirahat sebentar. Saya tertidur entah berapa lama. Tahu-tahu menjelang subuh saya dibangunkan dan diajak melempar jumrah ’aqabah. Setelah itu saya diantar kemari lagi. Sambil meninggalkan buah-buahan ini, dia pamit dan katanya sebentar lagi kalian akan datang. Dan ternyata dia benar."

"Dia itu siapa, Mbah? Orang mana?"

"Wah iya. Saya lupa menanyakannya. Soalnya begitu ketemu dia itu langsung akrab. Jadi saya kemudian sungkan dan akhirnya, sampai dia pergi, saya lupa menanyakan nama dan asalnya."

"Ajaib!"
***

Sesudah selesai melempar jumrah ’aqabah, rupanya jamaah sudah tak tahan lagi. Mereka bergelimpangan melepas lelah. Dan tak lama terdengar suara ngorok dari sana-sini. Kulihat Mbok Yem sendiri yang tampak masih segar dan ceria. Dia malah bercerita sambil memijit kaki ibuku. "Mumpung Mbah Joyo tidur," katanya. Sementara aku dan adikku ikut mendengarkan sambil tiduran. Namun tersentuh cerita Mbok Yem, tak terasa kami berdua akhirnya terduduk juga.

Rupanya Mbok Yem yakin apa yang dialami Mbah Joyo itu merupakan anugerah Allah yang ada kaitannya dengan amal perbuatannya. Dia menceritakan mengapa dia sampai histeris ketika Mbah Joyo hilang di Muzdalifah. Mbok Yem ternyata dulunya adalah WTS --sekarang "diperhalus" istilahnya menjadi Pekerja Seks Komersial-- dan Mbah Joyo adalah "langganan"-nya yang dengan sabar membuatnya sadar, mengentasnya dari kehidupan mesum itu, dan mengawininya. Lalu Mbok Yem dan Mbah Joyo memulai kehidupan yang sama sekali baru. Di samping mendampingi Mbah Joyo bertani, Mbok Yem berjualan pecel, kemudian meningkat dengan membuka warung makan kecil-kecilan. Dan sebagian dari hasil pekerjaan mereka itu, mereka tabung sedikit demi sedikit. Bahkan mereka rela hidup tirakat, demi mencapai cita-cita mereka: naik haji. Mereka mempunyai keyakinan bahwa dosa-dosa mereka hanya bisa benar-benar diampuni, apabila beristighfar di tanah suci, di Masjidil Haram, di Arafah, di Muzdalifah, dan di Mina. Seperti kata pak kiai di kampungnya, haji yang mabrur tidak ada balasannya kecuali surga. Ternyata baru setelah setua itu, uang yang mereka tabung cukup untuk ongkos naik haji.

"Alhamdulillah, Mbah Joyo tidak benar-benar hilang," kata Mbok Yem mengakhiri ceritanya. "Sehingga kami berdua masih berkesempatan menyempurnakan ibadah haji kami. Semoga Allah memudahkan. Setelah selesai nanti, kami ikhlas, kalau Yang Maha Agung hendak memanggil kami kapan saja. Syukur di sini, di tanah suci ini."

Mbok Yem mengusap airmatanya, airmata bahagia, baru kemudian pelan-pelan dibaringkan tubuhnya di sisi ibuku. ***

Pernikahan Dini Dalam Perspektif Agama dan Negara

Ditulis oleh Yusuf Fatawie*


Isu pernikahan dini saat ini marak dibicarakan. Hal ini dipicu oleh pernikahan Pujiono Cahyo Widianto, seorang hartawan sekaligus pengasuh pesantren dengan Lutviana Ulfah. Pernikahan antara pria berusia 43 tahun dengan gadis belia berusia 12 tahun ini mengundang reaksi keras dari Komnas Perlindungan Anak. Bahkan dari para pengamat berlomba memberikan opini yang bernada menyudutkan. Umumnya komentar yang terlontar memandang hal tersebut bernilai negatif.

Di sisi lain, Syeh Puji, begitu ia akrab disapa berdalih untuk mengader calon penerus perusahaannya. Dia memilih gadis yang masih belia karena dianggap masih murni dan belum terkontaminasi arus modernitas. Lagi pula dalam pandangan Syeh Puji, menikahi gadis belia bukan termasuk larangan agama.

Sebenarnya kalau kita mau menelisik lebih jauh, fenomena pernikahan dini bukanlah hal yang baru di Indonesia, khususnya daerah Jawa. Penulis sangat yakin bahwa mbah buyut kita dulu banyak yang menikahi gadis di bawah umur. Bahkan—jaman dulu—pernikahan di usia ”matang” akan menimbulkan preseden buruk di mata masyarakat. Perempuan yang tidak segera menikah justru akan mendapat tanggapan miring atau lazim disebut perawan kaseb.

Namun seiring perkembangan zaman, image masyarakat justru sebaliknya. Arus globalisasi yang melaju dengan kencang mengubah cara pandang masyarakat. Perempuan yang menikah di usia belia dianggap sebagai hal yang tabu. Bahkan lebih jauh lagi, hal itu dianggap menghancurkan masa depan wanita, memberangus kreativitasnya serta mencegah wanita untuk mendapatkan pengetahuan dan wawasan yang lebih luas.

Pernikahan Dini menurut Negara

Undang-undang negara kita telah mengatur batas usia perkawinan. Dalam Undang-undang Perkawinan bab II pasal 7 ayat 1 disebutkan bahwa perkawinan hanya diizinkan jika pihak pria mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan pihak perempuan sudah mencapai umur 16 (enam belas tahun) tahun.[1]

Kebijakan pemerintah dalam menetapkan batas minimal usia pernikahan ini tentunya melalui proses dan berbagai pertimbangan. Hal ini dimaksudkan agar kedua belah pihak benar-benar siap dan matang dari sisi fisik, psikis dan mental.

Dari sudut pandang kedokteran, pernikahan dini mempunyai dampak negatif baik bagi ibu maupun anak yang dilahirkan. Menurut para sosiolog, ditinjau dari sisi sosial, pernikahan dini dapat mengurangi harmonisasi keluarga. Hal ini disebabkan oleh emosi yang masih labil, gejolak darah muda dan cara pikir yang belum matang. Melihat pernikahan dini dari berbagai aspeknya memang mempunyai banyak dampak negatif. Oleh karenanya, pemerintah hanya mentolerir pernikahan diatas umur 19 tahun untuk pria dan 16 tahun untuk wanita.

Pernikahan Dini menurut Islam

Hukum Islam secara umum meliputi lima prinsip yaitu perlindungan terhadap agama, jiwa, keturunan, harta, dan akal. Dari kelima nilai universal Islam ini, satu diantaranya adalah agama menjaga jalur keturunan (hifdzu al nasl). Oleh sebab itu, Syekh Ibrahim dalam bukunya al Bajuri menuturkan bahwa agar jalur nasab tetap terjaga, hubungan seks yang mendapatkan legalitas agama harus melalui pernikahan. Seandainya agama tidak mensyari’atkan pernikahan, niscaya geneologi (jalur keturunan) akan semakin kabur.[2]

Agama dan negara terjadi perselisihan dalam memaknai pernikahan dini. Pernikahan yang dilakukan melewati batas minimnal Undang-undang Perkawinan, secara hukum kenegaraan tidak sah. Istilah pernikahan dini menurut negara dibatasi dengan umur. Sementara dalam kaca mata agama, pernikahan dini ialah pernikahan yang dilakukan oleh orang yang belum baligh.

Terlepas dari semua itu, masalah pernikahan dini adalah isu-isu kuno yang sempat tertutup oleh tumpukan lembaran sejarah. Dan kini, isu tersebut kembali muncul ke permukaan. Hal ini tampak dari betapa dahsyatnya benturan ide yang terjadi antara para sarjana Islam klasik dalam merespons kasus tersebut.

Pendapat yang digawangi Ibnu Syubromah menyatakan bahwa agama melarang pernikahan dini (pernikahan sebelum usia baligh). Menurutnya, nilai esensial pernikahan adalah memenuhi kebutuhan biologis, dan melanggengkan keturunan. Sementara dua hal ini tidak terdapat pada anak yang belum baligh. Ia lebih menekankan pada tujuan pokok pernikahan.

Ibnu Syubromah mencoba melepaskan diri dari kungkungan teks. Memahami masalah ini dari aspek historis, sosiologis, dan kultural yang ada. Sehingga dalam menyikapi pernikahan Nabi Saw dengan Aisyah (yang saat itu berusia usia 6 tahun), Ibnu Syubromah menganggap sebagai ketentuan khusus bagi Nabi Saw yang tidak bisa ditiru umatnya.

Sebaliknya, mayoritas pakar hukum Islam melegalkan pernikahan dini. Pemahaman ini merupakan hasil interpretasi dari QS. al Thalaq: 4. Disamping itu, sejarah telah mencatat bahwa Aisyah dinikahi Baginda Nabi dalam usia sangat muda. Begitu pula pernikahan dini merupakan hal yang lumrah di kalangan sahabat.

Bahkan sebagian ulama menyatakan pembolehan nikah dibawah umur sudah menjadi konsensus pakar hukum Islam. Wacana yang diluncurkan Ibnu Syubromah dinilai lemah dari sisi kualitas dan kuantitas, sehingga gagasan ini tidak dianggap. Konstruksi hukum yang di bangun Ibnu Syubromah sangat rapuh dan mudah terpatahkan.[3]

Imam Jalaludin Suyuthi pernah menulis dua hadis yang cukup menarik dalam kamus hadisnya. Hadis pertama adalah ”Ada tiga perkara yang tidak boleh diakhirkan yaitu shalat ketika datang waktunya, ketika ada jenazah, dan wanita tak bersuami ketika (diajak menikah) orang yang setara/kafaah”.[4]

Hadis Nabi kedua berbunyi, ”Dalam kitab taurat tertulis bahwa orang yang mempunyai anak perempuan berusia 12 tahun dan tidak segera dinikahkan, maka anak itu berdosa dan dosa tersebut dibebankan atas orang tuanya”.[5]

Pada hakekatnya, penikahan dini juga mempunyai sisi positif. Kita tahu, saat ini pacaran yang dilakukan oleh pasangan muda-mudi acapkali tidak mengindahkan norma-norma agama. Kebebasan yang sudah melampui batas, dimana akibat kebebasan itu kerap kita jumpai tindakan-tindakan asusila di masyarakat. Fakta ini menunjukkan betapa moral bangsa ini sudah sampai pada taraf yang memprihatinkan. Hemat penulis, pernikahan dini merupakan upaya untuk meminimalisir tindakan-tindakan negatif tersebut. Daripada terjerumus dalam pergaulan yang kian mengkhawatirkan, jika sudah ada yang siap untuk bertanggungjawab dan hal itu legal dalam pandangan syara’ kenapa tidak ?

Penutup

Substansi hukum Islam adalah menciptakan kemaslahatan sosial bagi manusia pada masa kini dan masa depan. Hukum Islam bersifat humanis dan selalu membawa rahmat bagi semesta alam. Apa yang pernah digaungkan Imam Syatiby dalam magnum opusnya ini harus senantiasa kita perhatikan. Hal ini bertujuan agar hukum Islam tetap selalu up to date, relevan dan mampu merespon dinamika perkembangan zaman.[6]

Permasalahan berikutnya adalah baik kebijakan pemerintah maupun hukum agama sama-sama mengandung unsur maslahat. Pemerintah melarang pernikahan usia dini adalah dengan pelbagai pertimbangan di atas. Begitu pula agama tidak membatasi usia pernikahan, ternyata juga mempunyai nilai positif. Sebuah permasalahan yang cukup dilematis.

Menyikapi masalah tersebut, penulis teringat dengan gagasan Izzudin Ibn Abdussalam dalam bukunya Qowa’id al Ahkam. Beliau mengatakan jika terjadi dua kemaslahatan, maka kita dituntut untuk menakar mana maslahat yang lebih utama untuk dilaksanakan.[7]

Kaedah tersebut ketika dikaitkan dengan pernikahan dini tentunya bersifat individual-relatif. Artinya ukuran kemaslahatan di kembalikan kepada pribadi masing-masing. Jika dengan menikah usia muda mampu menyelamatkan diri dari kubangan dosa dan lumpur kemaksiatan, maka menikah adalah alternatif terbaik. Sebaliknya, jika dengan menunda pernikahan sampai pada usia ”matang” mengandung nilai positif, maka hal itu adalah yang lebih utama. Wallahu A’lam

*) Penulis adalah santri Lirboyo Kediri asal Pati.

Daftar Pustaka :

1. UU Perkawinan di www.depag.go.id .
2. Ibrahim, al Bajuri hlm. 90 vol. 2 Toha Putra, Semarang.
3. Ibnu Hajar al ’Asqalani, Fathul Bari vol.9 hlm.237 Darul Kutub Ilmiah, Beirut.
4. Jalaluddin Suyuthi, Jami’ al Shaghir hlm.210 Darul Kutub Ilmiah, Beirut.
5. Ibid, hlm.501.
6. Imam Syatibi, al Muwafaqot hlm.220 Darul Kutub Ilmiah, Beirut.
7. Izzudin Ibn Abd. Salam, Qowa’id al Ahkam hlm.90 vol.II Darul Kutub Ilmiah, Beirut.

Mario Teguh


Tak disangka-sangka Motivator ulung pembawa acara Golden Ways di Metro TV ternyata seorang muslim sejati. Mungkin selama ini kita menyangka beliau adalah seorang yang beragama nasrani atau budha bahkan banyak yang menyangka sebagai seorang pendeta, karena dalam setiap acaranya Mario Teguh selalu mengunakan kata “Tuhan” untuk menggantikan kalimat “Allah”.

Fakta Mario teguh seorang muslim atau beragama islam terungkap tatkala Metro TV menyiarkan acara Mario Teguh pada Minggu 19 Juli 2009 yang topiknya seputar ibadah Umrah yang dipandunya. Terlihat Mario teguh sedang berada di Madinah sambil mengenakan pakaian berhaji dan bertasbeh.

Jati diri Mario Teguh sebagai seorang muslim juga diperkuat dengan wawancara yang dimuat di situs sufinews.com
Berikut artikel yang sudah dilansirkan oleh sufinews.com tentang keislaman Mario Teguh.

Formula yang anda tawarkan seperti Emotional Question (EQ) nya Daniel Goldman, begitu?

Kira-kira begitulah. Tapi saya mengistilahkannya dengan Emotional Intelegents atau Kecerdasan Emosi.

Jabarannya seperti apa?

Banyak cara yang ditawarkan orang dalam melatih responcibility seorang klien. Ada orang yang dilatih untuk berespon agresif terhadap stimuli. Ada juga yang berlatih merespon dengan cara melarikan diri. Ada pula yang menggunakan pendekatan bersembunyi atau mencari pembenaran diri pada apapun. Pada pendekatan yang terakhir ini apapun dibenarkan sebagai dukungan terhadap kebenaran diri karena mendapat serangan dari lingkungan. Nah paradigma ini yang biasanya dibangun dalam budaya. Sehingga muncul budaya kalau tidak setuju diam saja, nanti kalau sudah keterlaluan baru kita bereaksi. Nah ini mengakibatkan sekelompok orang untuk diam selama tidak setuju dan kalau sudah tidak tahan baru bereaksi dengan reaksi yang lebih agresif dan anarkis.

Kecerdasan emosi itu bukan semata kemampuan seseorang mengendalikan emosi pada tempat dan waktu tertentu. Dalam Kecerdasan Emosi seseorang dibekali semacam peta baku yang menjadi “rujukan” untuk respons terhadap spekuli, atau respons terhadap hubungan. Seorang anak yang sudah memiliki Peta Kecerdasan Emosi tidak akan berespons negatif ketika dihina sebab dalam dirinya sudah ada peta bahwa hanya orang yang rendah saja yang marah ketika direndahkan orang lain. Seseorang yang sudah memiliki Peta Kecerdasan Emosi tidak akan berespons negatif ketika dikatakan bodoh oleh pihak lainnya sebab dalam Peta Emosi yang dimilikinya ada petunjuk bahwa hanya orang bodoh saja yang mengatakan orang lain bodoh. Kalau secara kolektif bangsa ini di isi oleh individu-individu yang bereaksi positif terhadap apapun yang terjadi dilingkungan kita, yakinlah kehidupan berbegara dan berbangsa ini akan lebih damai dan syahdu.

Jadi, penyemangatan yang kita bicarakan adalah penyemangatan yang memiliki muara pada pengertian-pengertian baik dan positif, bukan dari acara hingar bingar seperti musik keras atau teriak-teriak atau loncat-loncat atau melalui obat atau minuman yang membantu artificial kita untuk merasa kelihatannya seperti bersemangat. Penyemangatan yang demikian ini sesaat saja sifatnya.

Di Jepang ada sebuah toko barang antik yang disediakan untuk para eksekutif yang tengah dilanda amarah. Disitu, orang boleh memecah berbagai jenis keramik yang ada dengan harapan setelah itu orang akan merasa lega karena amarahnya telah ditumpahkan pada barang-barang yang dipecahnya. Anda menghindari pendekatan macam ini?

Ya. Seperti yang saya katakan barusan, pendekatan macam itu temporal saja sifatnya. Dan ini bukan pemecahan. Marah hanya bisa diobati dengan memaafkan. Menahan amarah tanpa memaafkan hanya akan menambah penyakit saja.

Tapi dalam konsep tasawuf, memaafkan itu harus dilatih terus menerus seiring dengan tumbuhnya “kedewasaan ruhaniah” seseorang. Masih dalam konteks tasawuf, memaafkan itu hasil perjuangan dari pengendalian kekuatan ghadhab (amarah) yang berada diantara dua tekanan; pengecut dan pemberang. Bagaimana menurut Anda?

Nah disinilah letak perbedaan antara Ilmu Kejiwaan Barat dengan Ilmu Kejiwaan dalam agama.

Ilmu Kejiwaan Barat tidak menyertakan komponen keyakinan yang murni sebagai mekanisme manusia sebagai sebuah sistem, sedang Ilmu Kejiwaan dalam agama menyertakan proses bahwa manusia itu bagian dari sebuah keberadaan yang lebih besar, yakni Tuhan. Dan apa yang Anda
sampaikan itu adalah bagian dari Ilmu Kejiwaan dalam agama.

Apa yang Anda katakan itu memang sudah seharusnya demikian bagi orang yang sudah mengakui keberadaan Tuhan. Karena kalau kita sudah menerima Tuhan, semua waktu, tempat, keadaan dan kesempatan dipersembahkan hanya untuk Tuhan. Alasan kita tersenyum di pagi hari kepada isteri dan anak-anak, menyambut mereka dengan santun, berusaha datang tepat waktu untuk memenuhi janji, itu semua bukan semata-mata karena didasari atas kesantunan kita sebagai manusia, melainkan kita ingin mengabdi kepada-Nya.
Kembali pada “memaafkan” yang Anda katakan, dia sebenarnya akibat dan bukan sifat.

Memaafkan adalah sebuah peralihan dari pusat ego kepada altruisme. Orang-orang altruis dalam al-Quran disebut sebagai orang-orang yang berbuat baik (al-muhsinun; red). Semakin jelas disini bahwa memaafkan tak bisa direkayasa secara artificial dengan upacara pemutihan seperti acara halal bi halal misalnya. Serupa dengan memaafkan, kesabaran pun demikian. Ia bukan sifat tapi akibat. Ya, akibat dari karena ia mengerti resiko, mengerti reaksi yang tidak proporsional. Orang yang penyabar dan pemaaf itu sebenarnya cermin dari pengertian luas yang ia miliki. Karenanya kalau ada orang dilahirkan enggak bisa marah, itu bukan
kesabaran tapi ketidaknormalan.

Saat memberikan terapi atau memotivasi, diantara Ilmu Kejiwaan Barat dan Ilmu Kejiwaan dalam agama, mana yang anda gunakan?

Kalau Anda perhatikan penjelasan saya diatas, sebenarnya “peta” yang ada dalam Kecerdasan Emosional yang saya tawarkan merupakan gugusan pilar dari kebenaran, keindahan dan kebaikan. Hal ini didasari oleh fitrah kehidupan bahwa manusia dalam hidup itu tak lepas dari menginginkan kebaikan, menyukai keindahan dan mencari kebenaran. Tapi dalam realitas kehidupan, tiga hal ini lebih sering dirasakan oleh manusia sebagai tiga hal yang berdiri sendiri-sendiri. Misalnya kebenaran yang dicari ternyata malah membawa kepedihan, keindahan yang disukainya ternyata tidak membawa kebaikan, atau kebaikan yang diusahakan malah bertentangan dengan kebenaran. Pada saat yang demikian manusia tidak dapat menikmati keadaan itu secara sempurna lalu mengidap split personality atau kepribadian yang terpecah belah. Nah kira-kira melalui apa manusia dapat menemukan dan merasakan kebenaran, keindahan dan kebaikan sejati (haqiqi; red)? Dalam beragama bukan?!

Wah penjelasan Anda nyufi banget loh ?!

Ha…ha…ha…terimakasih, Mas. Tapi terus terang. Dalam menjalankan tugas (baik sebagai pembicara publik maupun motivator) saya menghindari komponen-komponen komunikasi yang terlalu mengindikasikan agama Islam secara formal atau verbal.

Kenapa ?

Buat saya, ketika kita betul-betul dengan sadar sesadarnya mengatakan “ya!” terhadap keberadaan dan keesaan Allah (laa ilaaha illallaah; red) kita tak perlu repot-repot lagi memikirkan lebel-lebel formal ketuhanan. Pokoknya terus berlaku jujur, menjaga kerahasiaan klien, menganjurkan yang baik, menghindarkan perilaku, sikap dan pikiran buruk, saya rasa ini semua pilihan orang-orang beriman. Itu alasan pertama.

Alasan kedua, Islam itu agama rahmat untuk semesta alam loh. Berislam itu mbok yang keren abis gitu loh! Maksudnya, jadi orang Islam mbok yang betul-betul memayungi (pemeluk) agama-agama lain. Agama kita itu sebagai agama terakhir dan penyempurna bagi agama-agama sebelumnya. Agama kita puncak kesempurnaan agama. Dan karenanya kita harus tampil sebagai pembawa berita bagi semua. Kita tidak perlu mengunggul-unggulkan agama kita yang memang sudah unggul dihadapan saudara-saudara kita yang tidak seagama dengan kita.

Bagaimana Islam bisa dinilai baik kalau kita selaku muslim lalu merendahkan agama (dan pemeluk) agama lain.

Apakah dalam pandangan Anda semua agama itu sama ?

Ha…ha…ha…ya jelas tidak sama toh, Mas. Tapi oleh Tuhan manusia diberi kebebasan memilih diantara ketidaksamaan itu. Saya tidak akan mengatakan bahwa perbedaan itu rahmat, tapi saya akan menunjukkan Windows Operating System yang dikeluarkan Microsoft. Masih ada toh?

Mas orang yang masih menggunakan Windows 95? Masih ada juga kan orang yang menggunakan Windows 98 atau Windows 2000? Dan Anda sendiri sekarang menggunakan Windows XP kan?. Begitu juga dengan agama-agama Tuhan, Mas. Ada versi-versi yang sesuai untuk zamannya, untuk kelengkapan fikiran di zaman itu dan disana ada jenis kemampuan masing-masing orang dalam menyikapinya. Masak Anda mau memaksa orang lain untuk memakai XP pada orang yang kemampuannya cuma sebatas memiliki Windows 95? Tidak toh!? Alangkah indahnya kalau semua orang Islam ketika bicara dapat diterima semua pemeluk agama lain.

Contohnya seperti apa pembicaraan yang dapat diterima semua pemeluk agama ?

“Anda adalah direktur utama dari perusahaan jasa milik Anda sendiri. Anda adalah CEO dari kehidupan Anda sendiri. Anda sebenarnya, sepenuhnya bertanggungjawab atas bisnis kehidupan Anda dan apapun yang akan terjadi pada diri Anda sendiri. Anda bertanggungjawab atas semuanya antara lain, produksi, pemasaran, keuangan, RND dan lain sebagainya diperusahaan kehidupan Anda. Demikian pula Anda sendirilah yang menentukan berapa besar gaji Anda, berapa income Anda. Bila Anda tidak puas dengan penghasilan yang Anda terima, Anda bisa melihat didekat cermin Anda dan menegosiasikan pada bos Anda, yakni Anda sendiri yang ada didalam cermin,” begitu kira-kira. Nah, menurut saya etos demikian tak dapat dibantah oleh semua ajaran agama-agama yang ada didunia.

Anda ingin mengatakan bahwa dibalik cermin tersebut ada impian masa depan dan perencanaan strategis, begitu ?

Ya, tepat sekali. Salah satu pengamatan penting yang dapat ditemukan pada suatu perusahaan atau individu adalah perusahaan yang dapat mengetahui nilai utamanya dan dapat membuat perencanaan ke depan serta mengetahui apa yang harus dikerjakan dalam mencapai misi dan visi perusahaan.

Demikian pula dengan “perusahaan” Anda. Anda harus memiliki “impian” masa mendatang serta membuat perencanaan strategis yang harus dijalankan sesuai dengan proses yang direncanakan, sehingga Anda bisa mengerjakan apa yang harus Anda kerjakan dan bukan yang Anda senang kerjakan.

Jadi, menurut anda apa asset paling utama untuk perusahaan dan indvidu ?

Asset yang paling utama bagi suatu perusahaan dan individu adalah reputasi. Pemasaran adalah persaingan antar persepsi yang ada dibenak pelanggan dan bukan persaingan antara produk yang sebenarnya. Jadi, reputasi dan persepsi suatu perusahaan atau individu adalah sesuatu yang amat penting dalam mencapai kesuksesan.

Jika ditemukan kegagalan, dimana letak masalahnya?

Saya melihat hanya sales people yang gagal, yang disebabkan karena mereka banyak menghabiskan waktu untuk melakukan sesuatu yang kurang memberikan nilai-nilai kunci pada perusahaan kehidupan mereka. Sebaliknya, bagi para sales people yang sukses, umumnya mereka
fokus pada aktifitas yang banyak memberikan nilai-nilai tambah dalam perusahaan kehidupannya.

Termasuk memberi nilai tambah estetika untuk perusahaan yang bernama Republik Indonesia karena kemerosotan perilaku bangsanya yang terjadi disana-sini?

Ha…ha…ha… Dalam sekali anda! Tapi memang benar, pengalaman estetika itu memang menjadi soal yang mendesak bagi masyarakat kita akhir belakangan ini. Sehingga mata pendidikan estetika pun menjadi pendidikan yang layak diakselarasi. Estetika bukan sebatas menyangkut kesenian semata, ini adalah peristiwa kebudayaan. Estetika itu awalnya adalah ketakjuban manusia dihadapan alam. Lalu alam itu mengajarkan bermacam-macam persoalan agar manusia meniru dan menduplikasinya. Sejak itulah lahir peristiwa kesenian.

Didalam kesenian jiwa manusia diperkenalkan kepada nilai-nilai yang lebih luhur. Dari keluhuran seni, manusia tergerak untuk mencari pengalaman yang lebih tinggi dan bertemulah dengan pengalaman reliji. Dari seni pindahlah mereka kepada agama. Dari sekedar pengalaman estetik maka menginjaklah manusia kedalam pengalaman relejius.

Sama seperti para ahli tasawuf saat membahas cahaya dari proses manusia bahwa hidup adalah sebuah tamsil agung tentang perjalanan seorang manusia menembus lorong dirinya sendiri, tanpa kawan, tanpa bekal, tanpa lentera…..?

Ha…ha…ha…. Anda lebih paham soal itu. Kembali kepada pendidikan estetika tadi, itulah pendidikan yang hasilnya akan kita nikmati dalam bentuk nilai kepatuhan publik kepada hukum, tertib sosial, sikap mental masyarakat yang hidup dan menjunjung tinggi kedaulatan umum. Dan bangsa ini akan menjadi bangsa yang peka terhadap alam dan kemanusiaan.

Sekaligus menjadi bangsa yang tampil lebih kuat dihadapan hasutan budaya pop dan tidak mudah memuja sesuatu yang sejatinya biasa-biasa saja cuma karena ia di populerkan oleh media massa ?

Ya. Hasil pendidikan itu membuat bangsa ini mudah mengenali sesuatu yang sejatinya indah dan gerah ketika melihat limbah.

Dengan cara apakah pendidikan estetika ini harus dijalankan?

Oleh karena estetika itu lebih luas dari hanya mengenali lukisan cantik, tidak mudah memang untuk menyingkapnya. Tapi jika mau sederhana mulailah dari diri kita dan masing-masing komponen bangsa untuk kemudian para pemimpin yang besar visi estetik nya dan kesuksesan pun siap untuk dijelang.

Apa arti sukses menurut anda ?

Perjalanan 50 tahun hidup yang sudah saya jalani menyimpulkan bahwa sukses itu tidak selalu berarti mendapat piala atau pujian, meski tak ada salahnya jika kita mendapatkan keduanya.

Hanya saja itu semua bukan kriteria dari sukses itu sendiri. Karenanya tak jarang orang kemudian sulit menemukan kesuksesan-kesuksesan yang pernah diraihnya.

Secara sederhana sukses adalah bagaimana kita keluar dari comfort zone kita dan mencoba menjadi lebih baik dari sebelumnya. Dengan definisi ini Anda akan melihat begitu banyak kesuksesan yang bisa Anda lihat pada diri Anda. Kalau kemarin Anda baru bisa membantu satu orang, hari ini Anda bisa membantu dua dan besok Anda bisa membantu lebih banyak lagi, maka anda sukses. Dengan perasaan yang positif mengenai kesuksesan yang pernah Anda raih, maka Anda akan merasa semakin sukses dan semakin percaya diri dengan cita-cita, visi dan misi hidup Anda.

Saya sangat tidak setuju dengan ungkapan, “Biarlah kita sekarang susah, asal nanti kita sukses”. Ini jelas enggak pernah bakal sukses. Saya bertanya, dimana anak tangganya?

Bukankah untuk meraih kesuksesan besar harus diawali dengan kesuksesan kecil dan sedang?.

Ada pepatah yang mengatakan, “Sukses akan melahirkan sukses yang lain.” Nah dari pepatah ini dapat diambil pelajaran, apabila kita semakin mudah untuk melihat kesuksesan kita dari hal-hal yang kecil, maka mudah bagi kita untuk mengumpulkan, mengakumulasikan dan melangkah mencapai sukses yang lebih besar. Percaya dech, dengan sukses kecil-kecil itu, cepat atau lambat sukses yang lebih besar akan menjemput Anda.

Tapi sayang, umumnya, masyarakat kita menilai sukses seseorang dari ukuran-ukuran materi seperti merek mobil yang digunakan, mewahnya rumah yang dimiliki dan lain sebagainya.

Bagaimana komentar Anda ?

Ini jelas penilaian yang harus diluruskan sebab akan ada akibatnya; jika tidak kaya atau bergelimang harta maka seseorang tidak dikatakan sukses. Sehingga pada akhirnya berlomba-lomba setiap orang untuk mencari kekayaan yang lepas dari cara yang halal atau yang haram karena ia takut kalau dikatakan tidak sukses. Jika kekayaan itu sudah diraihnya, pasti ia mudah terlena dengan kekayaan itu. Dengan angkuh, ia mengklaim bahwa kekayaan yang ada padanya itu hasil jerih payahnya sendiri. Ia lupa bahwa kekayaan sesungguhnya bukanlah sebab melainkan akibat dari sukses yang diraihnya. Hemat saya, orang yang angkuh dengan apa yang dicapainya sebenarnya dia tidak berencana untuk mencapai kesuksesan-kesuksesan yang lain.

Tandanya apa sich seseorang yang terjebak pada keangkuhan atau kesombongan?

Konon tidak seorang pun bisa masuk sorga kalau hatinya tinggi, arogansinya besar dan harga dirinya bengkak. Orang-orang arogan tidak bisa masuk sorga. Kira-kira begitulah secara spiritual. Tetapi didunia pekerjaan pun orang-orang yang kemudian masuk dalam jebakan kesombongan dan arogansi ditandai dengan perasaan luar biasa hebat, perasaan paling top, perasaan paling hebat, bahkan lupa sebenarnya dia sudah merasa lebih besar dari pada sejatinya. Perusahaan-perusahaan dan orang-orang demikian biasanya mulai mengalami proses penjatuhan atau proses penurunan.

Jadi, sombong itu awal dari kejatuhan individual maupun kejatuhan perusahaan?

Ya, awal dari kejatuhan individual atau kejatuhan perusahaan adalah ketika mereka lupa diri, arogansi dan sombong. Itulah yang bisa diungkapkan dari sejarah bisnis. Pada banyak produk-produk yang dulu terkenal, pemimpin besar, market leader, tapi kemudian sekarang hilang dari peredaran. Kenapa? Jawabanya adalah ketika mereka terjebak dalam kesombongan yang membuatnya rasa puas diri.

Dengan kata lain, sebaliknya, jika kita ingin maju kita harus rendah hati?

Iya.

Rendah hati yang anda maksud?

Ya, dia sejenis perasaan dimana kita bukan yang paling top, meski barangkali kita sudah duduk di tempat yang top.

Maksudnya ?

Bisa saja seorang duduk dikursi Presiden misalnya, Gubernur misalnya, pokoknya sudah paling top. Lalu dia tetap menunjukkan kerendahan hati, itu rendah hati namanya. Sebaliknya, jika seseorang duduk pada tempat yang tinggi, seperti pada jabatan-jabatan itu, namun ia arogan, maka orang tersebut berubah menjadi tirani, berubah menjadi dictator, bahkan fasis.

Seseorang yang duduk dikedudukan tinggi tetapi rendah hati maka dia berubah menjadi pelayan, orang tersebut menyenangkan kita. Jadi sekali lagi, seorang yang rendah hati tidak merasa sudah paling tinggi meskipun barangkali dia sudah ditempat paling tinggi. Dengan kata lain, kerendahan hati adalah tidak menuntut apa yang tidak patut bagi kita sesuai dengan kedudukan kita. Mendahulukan orang lain dengan menolak mendahulukan apa yang patut bagi kita sesuai dengan kedudukan kita, itu kerendahan hati. Kerendahan hati adalah sebuah syarat dimana kita bisa belajar lebih lanjut. Ketinggian hati adalah sebuah kondisi dimana kita tidak belajar lagi karena sudah merasa paling top, paling pinter, paling luar biasa.

Penjelasan Anda mengingatkan saya akan nasehat Sufi Besar, Imam Ibnu ‘Atha’illah, yang mengatakan, “Tanamkanlah ujudmu dalam bumi yang sunyi sepi, karena sesuatu yang tumbuh dari benda yang belum ditanam, tidak sempurna hasilnya.” Pertanyaannya, bagaimana memupuk rasa rendah hati dalam diri kita ?

O, ya ? Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk memupuk kerendahan hati diantaranya adalah dengan menyadari kembali bahwa seluruh yang kita punyai adalah anugerah-Nya, berkah-Nya atau rahmat-Nya. Karenanya katakan pada diri sendiri, “Aku masih ingin belajar”, “Aku masih ingin mendapatkan input dari sekelilingku”, “Aku masih ingin mendapatkan pengetahuan-pengetahuan dari mana saja agar dapat lebih baik”.

Jika ditilik dari kehidupan kita, umat Islam, nampaknya metode memupuk kerendahan hati yang Anda sampaikan masih menjadi problem besar tersendiri ya ?

Persis seperti yang saya perhatikan selama ini. Saudara-saudara kita sesama muslim masih terlalu asyik dengan dunianya sendiri dan bergaul hanya pada lingkungannya sendiri. Malah yang lebih memprihatikan, dengan sesama muslim kalau ngundang pembicara dia tanya dulu, “Orang itu madzhabnya apa?.” Dia tidak akan menerima orang yang tidak satu madzhab, satu aliran, dengannya. Padahal dinegara-negara maju sudah menjadi pemandangan yang biasa orang-orang Yahudi mengundang pembicara Islam, Hindu atau Kristiani, atau sebaliknya.

Mereka sudah mantap dengan iman mereka sehingga mereka tidak khawatir dengan pembicara yang datang dari luar komunitas mereka. Mereka sangat yakin, bahwa dengan cara demikian (menghadirkan pembicara “orang luar”), mereka dapat memperkaya wacana dan kehangatan batin.

Kita, atau persisnya sebagian umat Islam, lupa bahwa salah satu cara mensyukuri perbedaan ditunjukkan bukan pada lisan akan tetapi dengan mendengarkan pendapat orang lain yang beda keyakinan agamanya.

Anda punya pengalaman keberislaman Anda?

Iya. Pernah beberapa peserta saya mengklaim materi yang baru saja selesai saya sampaikan menurut sudut pandang keyakinan agama mereka. Seorang peserta yang beragama Kristiani mengatakan bahwa materi saya ada juga di ajarkan dalam Injil. Peserta lain yang beragama Islam mengaku bahwa materi yang saya sampaikan ada di Al-Quran surat al-Maidah. Peserta yang Budha menganggap bahwa materi saya itu penerapan dari Dharma-dharma Budha. Saya hanya mengembalikan semua apresiasi itu kepada-Nya.

Pengalaman lain ?

Masih banyak orang yang salah faham terhadap Islam. Ada satu pengalaman yang mengherankan sekaligus membuat saya prihatin. Dalam satu seminar di acara coffee break isteri saya didatangi salah seorang peserta penganut agama Kristen yang taat. Masih kepada isteri saya, orang itu memberi komentar bahwa saya menerapkan ajaran Injil dengan baik. Lalu dengan lembut, penuh kehati-hatian, isteri saya memberitahu bahwa saya seorang muslim. Sontak orang itu terperanjat saat mengetahui bahwa saya seorang muslim. Yang membuat isteri saya (dan kemudian juga saya) prihatin adalah ucapannya, “Loch, kok ada ya orang Islam yang baik macam Pak Mario!?”

Jika sebagaian dari kita umat Muslim bisa menyampaikan dakwah sperti Mario Teguh, sudah tentu stigma negatif tentang Islam akan berkurang, Mau…?

Sumber : sumbawanews.com