Minggu, 23 Mei 2010

Perkenankanlah Aku Mencintai-Mu Semampuku

Oleh : Azimah Rahayu

Tuhanku,
Aku masih ingat, saat pertama dulu aku belajar mencintai-Mu
Lembar demi lembar kitab kupelajari
Untai demi untai kata para ustadz kuresapi
Tentang cinta para nabi
Tentang kasih para sahabat
Tentang mahabbah para sufi
Tentang kerinduan para syuhada
Lalu kutanam di jiwa dalam-dalam
Kutumbuhkan dalam mimpi-mimpi dan idealisme yang mengawang di awan

Tapi Rabbi,
Berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan, dan kemudian tahun berlalu
Aku berusaha mencintai-Mu dengan cinta yang paling utama, namun
Aku masih juga tak menemukan cinta tertinggi untuk-Mu
Aku makin merasakan gelisahku membadai
Dalam cita yang mengawang
Sedang kakiku mengambang, tiada menjejak bumi
Hingga aku terhempas dalam jurang dan kegelapan

Wahai Ilahi,
Kemudian berbilang detik, menit, jam, hari, pekan, bulan dan tahun berlalu
Aku mencoba merangkak, menggapai permukaan bumi dan menegakkan jiwaku kembali
Menatap, memohon dan menghiba-Mu
Allahu Rahim, Ilahi Rabbi,
Perkenankanlah aku mencintai-Mu,semampuku
Allahu Rahman, Ilahi Rabbi,
Perkenankanlah aku mencintai-Mu
Sebisaku

Ilahi,
Aku belum sanggup mencintai-Mu
Dengan kesabaran menanggung derita
Umpama Nabi Ayyub, Musa, Isa, hingga Al-Musthofa
Karena itu izinkan aku mencintai-Mu
Melalui keluh kesah pengaduanku pada-Mu
Atas derita batin dan jasadku
Atas sakit dan ketakutanku

Rabbi,
Aku belum sanggup mencintai-Mu seperti Abu Bakar, yang menyedekahkan seluruh hartanya dan hanya meninggalkan diri-Mu dan rasul-Mu bagi pribadi dan keluarga.
Atau layaknya Umar yang menyerahkan separo harta demi jihad.
Atau Utsman yang menyerahkan seribu ekor kuda untuk syiarkan din-Mu.
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku,
Melalui seratus dua ratus perak yang terulur pada tangan-tangan kecil di perempatan jalan,
Pada wanita-wanita tua yang menadahkan tangan di pojok-pojok jembatan.
Pada makanan-makanan sederhana yang terkirim ke handai tolan.

Ilahi,
Aku belum sanggup mencintai-Mu dengan khusyu'nya sholat salah seorang shahabat Rasul-Mu, hingga tak hirau dia pada anak panah musuh yang terhunjam di kakinya.
Karena itu Ya Allah, perkenankanlah aku tertatih menggapai cinta-Mu,
dalam sholat yang coba kudirikan terbata-bata,
meski ingatan sering melayang ke berbagai permasalahan dunia.

Rabbi,
aku belum dapat beribadah ala para sufi dan rahib, yang membaktikan seluruh malamnya untuk bercinta dengan-Mu.
Maka izinkanlah aku untuk mencintai-Mu, dalam satu dua rokaat Lailku
Dalam satu dua sunnah nafilah-Mu
Dalam desah napas kepasrahan tidurku

Yaa, Maha Rahman,
Aku belum sanggup mencintai-Mu bagai para al hafidz dan hafidzah,
yang menuntaskan kalam-Mu dalam satu putaran malam.
Maka perkenankanlah aku mencintai-Mu semampuku,
melalui selembar dua lembar tilawah harianku
Lewat lantunan seayat dua ayat hafalanku

Allahu Karim,
Aku belum sanggup mencintai-Mu di atas segalanya,
bagai Ibrahim yang rela tinggalkan putra dan zaujahnya,
dan patuhnya pemuda mengorbankan biji matanya
Maka izinkanlah aku mencintai-Mu di dalam segala
Perkenankanlah aku mencintai-Mu dengan mencintai keluargaku, dengan mencintai sahabat-sahabatku,
dengan mencintai manusia dan alam semesta...


judu; tersebut di pinjam dari judul sebuah puisi karya A. Musthofa Bisri