Hubabah tiflah, ajarkan aku berdoa sepertimu...
Allah berfirman :
Seruanmu memanggil namaKu
Adalah jawabanKu.
Kerinduanmu padaKu
Adalah pesanKu untukmu
Segala upayamu
untuk menggapaiKu
pada hakikatnya adalah
upayaKU menggapaimu
ketakutan dan cintamu
adalah simpul untuk
mendapati Aku
dalam keheningan
yang mengelilingi setiap seruan :
” Allah ”
Menanti seribu jawaban :
” disinilah Aku ”
Lebaran pertamaku di perantauan tanpa ketupat, tanpa opor, tanpa sambal goreng kesukaan, tanpa kue-kue kering makanan khas lebaran. Tanpa orangtua, tanpa saudara, tanpa teman-teman sepermainan. Tanpa siapapun yang sebelumnya ku kenal kecuali kakak laki-lakiku yang memang bersamanya aku merantau ke negeri orang.
Dengan baju baru yang dibelikan kakak semalam, aku berjalan keluar rumah sendirian. Kakakku sudah lebih dulu keluar, ada acara uwadh semacam open house, silaturahim antara ’ulama dan masyarakat.
” khusus laki-laki” jawabnya ketika ku utarakan niatku ikut bersamanya.
Maka, akupun berjalan sendirian. Takbir Idul Fitri sudah tidak lagi terdengar, karena selepas sholat Ied pagi tadi masjid-masjid sudah berhenti mengumandangkan takbir. Dari kejauhan tampak deretan pohon kurma yang tidak sedang berbuah. Sekarang, musim dingin dan pohon-pohon kurma baru akan berbuah pada musim panas. Kabarnya angin panas padang pair yang bisa di sebut Samum (nama angin yang mengeluarkan hawa panas) itulah yang membuat masak buah kurma. Pantas saja pohon kurma tak berbuah di negeri Indonesia. Angin di sana tidak panas malah sejuk menerpa wajah.
Jalanan terlihat lengang hanya sesekali saja kulihat mobil-mobil pribadi yang mungkin membawa penumpangnyza bersilaturahim saling berkunjung pada lebaran seperti ini.
Ku ketuk pintu rumah Ustadzah Zainab Al Khotib. Seorang ustadzah dari Taiz, sebuah kota pertanian didaerah Yaman Selatan yang kini menetap di Tarim dan menajar di Daruz Zahra ( nama lembaga pendidikan agama semacam pesantren putri ) Ma’had di mana aku bersekolah di sana. Suaminya seorang ustadz dan pengurus Darul Musthofa, yayasan yang membawahi Daruz Zahra. Kebetulan kemarin disaat berjumpa dengannya di masjid, sewaktu sama-sama sholat Tarawih terakhir, beliau mengajakku -mungkin karena kasihan terhadap anak baru yang berlebaran sendirian- berkunjung ke beberapa orangtua di negeri ini.
Senyum Muhammad putra ustadzah segera menyambutku kala ia membukakan pintu.
” kamu Halimah dari Indonesia ya?” tanyanya dengan dialek arab yang fasih. Usianya ku taksir sekitar 7 tahun.
Aku mengangguk mengiyakan dan diapun segera berlari kedalam memberi tahukan ibunya setelah sebelumnya mempersilahkan aku masuk dan duduk di ruang tamu. Sebuah ruangan tanpa kursi khas negeri arab hanya bantal-bantal tebal tersusun sebagai sandaran.
Tak lama Ustadzah Zainab menemuiku dengan sebaki nampan penuh makanan. Ada berbagai jenis Halawa ( kue manis biasanya terbuat dari wijen), kacang-kacangan, gela (sejenis kwaci) dan secangkir kecil teh dengan ni’na ( daun mint) minuman khas daerah ini.
Setelah berbasa-basi sebentar menanyakan keadan dan aku menjawabnya dengan bahasa arab ala kadarnya kerena baru kurang lebih sebulan aku tinggal di negeri ini, Ustadzah Zainab menerangkan padaku siapa yang akan kami kunjungi hari ini.
”Kita biasa memanggilnya Hubabah Tiflah” katanya.
” Seorang perempuan tua, ahli ibadah yang lisannya tak pernah berhenti berdzikir. Orang-orang biasa memanggilnya dengan nama itu (dalam bahasa arab artinya bayi) mungkin karena beliau sampai di masa tuanya masih tetap seperti bayi, tak pernah menyakiti siapapun.”
Rumah itu sangat sederhana kalau tidak malah bisa dibilang miskin papa. Tak ada permadani tebal atau sandaran-sandaran empuk layaknya rumah-rumah yang lain pada umumnya. Hanya karpet tipis yang mulai lapuk menutupi tanah tak bersemen di bawahnya. Dindingnya hanya separoh yang di cat. Selebihnya berwarna coklat asli tanah yang di laburkan begitu saja. Ada tumpukan bantal dan selimut usang di sudut ruang. Kurasa di ruangan itu pula mereka bisa tidur di malam hari. Sungguh keadaan yang memprihatinkan. Sangat tidak sesuai dengan raut wajah mereka yang menyambut kami kala masuk rumah tadi. Senyum mereka begitu lepas tanpa beban, tawa ceria anak-anak kecilpun tetap terdengar, sambutan berupa pelukan dan dibarengi ucapan ahlan wa sahlan terdengar berulang-ulang seolah kami adalah kerabat dekat yang selalu dinanti bertandang. Sungguh....Aku jadi betul-betul menyadari memang benar bahwa kebahagiaan tak selalau di ukur dengan materi.
Sekilas ku dengar Ustadzah Zainab memperkenalkan aku kepada keluarga itu sebelum akhirnya menarik tanganku menemui seorang wanita tua yang duduk bersandar di sudut ruangan.
Wanita itu segera tersenyum demi menyadari keberadaan kami. Aku berpikir ini pasti Hubabah Tiflah yang di ceritakan Ustadzah Zainab di rumahnya tadi. Usianya ku taksir diatas tujuh puluhan. Kulitnya sawo matang berkeriput.
Dan Ya Allah...
Ternyata beliau buta...
Pantas saja beliau tidak ikut berdiri bersama yang lain kala menyambut kadatangan kami. Aku perhatikan raut wajahnya. Dia tidak cantik, namun dari wajahnya terlihat seolah tak pernah ada beban atau masalah apapun dalam hidupnya. Beliau betul-betul seperti bayi. Aku diam di hadapannya, tak tahu harus berbuat apa. Hingga tatkala ku lihat Ustadzah Zainab duduk dan mencium tangan wanita itu, akupun cuma mengikuti saja di belakangnya dan sambil kupegangi tangannya, aku memperkenalkan diri.
”Halimah dari Indonesia” kataku dengan lahjah (dialek) yang ketara bukan orang arab tentunya.
Dia balas memegang erat tanganku lama sekali hingga ku rasa hangat tangannya menjalari tanganku. Lalu dia meraba-raba wajahku dengan kedua tangannya. Mungkin untuk mempermudah beliau membayangkan rupaku.
Kemudian diletakkannya tangan kanannya di dadaku, dan lalu ia mendoakanku. Dia terus berdoa dan tak henti-hentinya berdoa untukku. Seolah saat itu tidak ada yang lebih penting baginya kecuali aku. Perempuan asing yang bahkan baru ia kenal beberapa menit yang lalu. Ia masih saja berdoa dengan satu kalimat sederhana. Ya, ia berdoa dengan satu kalimat saja. Satu kalimat doa yang tak akan pernah ku lupa. Apalagi tatkala kemudian di iringinya doa tersebut dengan linangan air mata. Sungguh membuat aku terpana, lemas tak mampu bahkan untuk mengangkat tanganku mengaminkan doanya...
”Semoga Allah takkan pernah tega menyengsarakanmu, Anakku...” Doa itu terus di ulangnya berkali-kali dengan cucuran air mata...
Ya Allah, sampai kapanpun, dimanapun, jangan pernah tega untuk menyengsarakan hidupnya... ” katanya lagi dan lagi dengan air mata yang membanjiri wajah tuanya. Membuatku tak kuasa membendung luapan air mata dan akupun ikut menangis terguguk di lantai itu juga.
”Ya Allah...kabulkan doanya.” teriakku dalam hati. Jangan pernah tega menyengsarakan aku sekarang, nanti dan selamanya, disini dan di sana. Di dunia ini ataupun hari setelahnya.
Tangisku tumpah ruah. Ku kutuki diri dan dosa-dosa yang cukup membuat Allah murka dan berkemungkinan membuatku sengsara. Aku malu atas gunung-gunung dosa yang ku timbun tak habis-habisnya.
”Ya Allah, dan maafkan aku hanya tak mengerti bagaimana berdoa pada-Mu. Maafkan aku yang jika untuk keselamatan diriku harus ada orang lain yang memohonkan dengan linangan air mata. Sesuatu yang bahkan tak ku ingat pernah ku lakukan ”
”Dan terimakasih Ya Allah...Kau perkenalkan aku pada wanita ini yang berdoa untukku ribuan kali lebih baik dariku.”
”Terimakasih unruk airmata kesungguhannya yang mungkin tak ku dapat dari orang-orang yang mengaku mencintaiku sekalipun.”
”Terimakasih pula telah Kau bawa aku ke rumah ini. Rumah yang aku yakini di mata malaikat-malaikat-Mu lebih indah dari rumah bermarmer mewah namun penghuninya tak pandai mensyukuri nikmat-Mu.”
”Terimakasih Ya Allah untk sebuah pelajaran berharga”
”Doamu untuk sesama adalah hadiah terindah yag dapat kau berikan padanya.”