Kamis, 20 Mei 2010

Hanif... hanif...

oleh : Sakti Wibowo
Hanif, sehanif namanya. Teman saya ini seorang yang sederhana, nyaris di segala sikap dan tutur kata.
Apakah engkau tahu pandangannya tentang pernikahan?
“itu adalah sesuatu yang akan didatangkan Allah pada saat diperlukan.”
begitu sederhana, lebih tepat sebagai sikap pasrah. Oleh karena itulah saya bertanya, “tidak
merencanakan?Tidak memilih akhwat mana yang akan kau jadikan ibu dari anak-anakmu?”
Dia hanya tersenyum, “Allah akan mendatangkan berikut segala perangkat yang diperlukan hamba-Nya.”
saya selalu tertegun setiap melihat betapa kehanifan begitu nyata pada dirinya, begitu lurus, begitu tawadu’. Caranya memandang hidup selalu dengan mara yang berbinar-binar, kepercayaan yang
tinggi bahwa Allah punya skenario yang jelas atas hidup seoran gmanusia.
Hanif nyaris tak pernah mengeluh. Saat ia begitu kesulitan mencari pekerjaan, ia tak perlu resah.
Ia selalu bergerak dan itu yang diyakininya bahwa Allah yang akan mendatangkan rizki, di amana
dan kapan pun manusia berada. Rezeki telah jelas alamatnya, tetap dan tepat, tidak akan berkurang
sesuai yang telah dijatahkan, akan didatangkan sesuai dengan waktunya, serta sesuai dengan
keperluannya.
Saya tak berlebihan menyebutnya tak pernah mengeluh. Selepas SMA, Hanif yang satu tingat di
atas saya itu tak mau pergi merantau sebagaimana teman-temannya yang lain, mencari pekerjaan ke
kota.
“aku lebih bermanfaat di sini, Wie! Di kota sudah banyak ustadz, sudah banyak orang yang concern
terhadap dakwah. Sementara di sini, siapa yang akan melakukannya? Lihatlah adik-adik TPA, siapa
yang akan membimbing mereka jika semua pergi.”
Saya mengangguk-anggukan kepala. Saat itu saya tersindir karena saya adalah salah satu dari yang
'pergi'.
“bukahkan engkau juga perlu dunia , Mas?”
“Tentu saja. Tapi, apakah di sini tidak ada dunia?”
“Pekerjaan?Gaji Besar?”
“Di sini aku bekerja. Gaji besar?Kaupikir gajimu lebih besar dari gajiku?”
“Maksudku gaji dalam bentuk uang, Mas, bukan gaji di akhirat. Berdakwah memang perlu dan
penting. Tapi jika aktivis dakwah tidak bekerja, dia akan menjadi beban orang tua, mungkin beban
masyarakat.”
“Aku tidak akan menjadi beban orang tua, apalagi masyarakat”
* * *
hanif memang menbuktikan ucapannya. Dia keluar dari rumah orang tuanya selepas SMA, memilih
ngontrak di sebuah kampung tak seberapa jauh dari rumahnya sendiri. Ia tak pernah mengandalkan harta orangtuanya. Ia bekerja apa saja, berjualan apa saja, sembari terus melebarkan aktivitas dakwahnya.
“Jadilah pohon yang besar, menjadi sarang bagi burung-burung, menjadi tempat berteduh yang
menenangkan, menjadi tempat bergantung, dan bahkan menampung resapan air untuk kemudian
menjadi sumber mata air.”
saya selalu kagum dengan falsafahnya itu. Bukankah memang demikian yang dilakukan Hanif?
Hartanya memang tak seberapa, tepi berapa banyak orang yang bergantung padanya?Berapa banyak orang yang selalu menanti uluran tangannya?
Ia masih tetap ngontrak, satu kamar kecil di sebuah perkampungan sederhana. Ia bergitu dicintai
oleh pemilik kontrakkan – yang beberapa tahun kemudian membebaskannya dari uang kontrak
karena telah menganggapnya sebagai anak.
Hidupnya begitu sederhana – seperi umar – ia terbiasa makan hanya dengan kerupuk dan sambal.
Namun, rumahnya nyaris tak pernah sepi pengunjung.
Telah berapa banyak orang yang di tolongnya memperoleh pekerjaan. Sebagian bahkan menuai
sukses menjadi hartawan. Telah berapa banyak orang diantarkannya meraih kesuksesan? Mereka
yang pernah turun semangatnya kembali meruyak meneladani carnya memandang hidup dengan
berbinar-binar.
“Jangan menjadi buah,” katanya. “Memang selalu buah yang dinanti orang, tetapi setelah dipetik, ia tak lagi bisa berbuat apa-apa.”
dia memang telah menjadi pohon rindang dan rranting tempat bergantung bermacam buah rabum.
Maka, sekali ini, saya kembali bertanya padanya tentang menikah sebab umurnya telah terbilang
cukup. Bahkan, saya yang notabene adik kelasnya telah lebih dulu membina rumah tangga.
:Dia akan didatangkan pada saat yang tepat,” Jawabnya,tetap sederhana.
“Tapi bukankah Allah tidak mengubah nasib suatu kaum jika kaum itu tudak berusaha
mengubahnya?Manusia tidak boleh sekedar menunggu. Ibadah adalah dalam bentuk ikhtiar itu dan menyerahkan hasilnya setelah berusaha dengan cukup.”
“usahaku adalah dengan memperbaiki diriku sebab yang selalu kuyakini adalah bahwa lelaki yang
baik untuk wanita yang baik>”
“Dalam bentuk amal nyata engkau harus mencarinya.”
“Aku mencarinmya dengan dakwah. Jika suatu saat menikah, aku ingin menikah dengan alasan
dakwah, bukan hanya karena aku tertarik kepada wanita itu.”
* * *
Memang begitulah adanya. Boleh jadi, saya tak sependapat dengan dirinya. Namun tak pelak, saya
harus mengagumi caranya memahami konsep kanaah, menerima apa adanya. Baginya memang
dakwah itu berada di atas segala-galanya.
Tahun 1998, tersebutlah... seorang akhwat menyatakan keinginannya untuk dilamar hanif. Saya
mengetahuinya karena terlibat dalam proses itu. Tada ada syak sedikit pun bahwa Hanif akan
menolaknya sebab dengan alasan apa lagikah seoran gikhwan akan menolak wanita ini? Tak ada
yang bisa dicela darinya. Pun, mengingat prinsip Hanif akan dakwah yang demikian,
memparalelkan dengan aktivitas dakwah sang akhwat, sunggh sebuah sinergi dua kekuatan dakwah
yang luar biasa.
Sayang, di akhir proses itu, Hanif menggeleng.
“Kenapa?” Tanya saya, lebih mewakili pertanyaan orang-orang yang mengetahui kelanjutan proses
ini. Ya. Kenapa?
Hanif hanya sedikit memejamkan matanya. “Belum ada kecondongan itu. Belum ada kebulatan
dalam hatiku sebagaimana azamku sebelumnya. Pun, dalam istikharah panjang, belum juga ada
pertanda, apalagi kemantapan yang didatangkan-Nya.”
Kecewalah saya. Kecewalah kami. Kecewalah semua. Namun, kami harus menghargai keputusan
hanif.
* * *
Tahun 1999, setelah melewati diskusi panjang, Hanif memutuskan untuk pindah dari tempat
kontrakannya. Kali ini, bukan lagi kota kami tempat ia berdiam. Saya masih rasakan pancaran
semangat dakwah itu tak surut dari parasnya, dari setiap tindakan yang ia ambil.
Kali ini, alasan kepindahannya adalah proses 'murtadisasi' yang marak di kawasan pesisir selatan.
Daerah bergunung-gunung, yang -menurut mitos- dikutuk dengan kekeringan. Entah, berapa ribu
korban berjatuhan. Mereka yang menggadaikan iman demi satu atau dua tanki air bersih.
Ke sanalah kini Hanif menuju.
“Banyak yang ingin saya sampaikan dari Rasulullah, Wie,”
katanya, “Sebab bukankah Rasul sering menghadapi kekeringan? Ada banyak teladan kisah dalam
menyikapi kekeringan, cara menghemat air minum namun tidak samapai jorok dan mengabaikan
kebersihan... Banyak sekali.”
saya menganggu sebab sebatas itulah saya bisa mendukung. Saya tidak berfikir apapun tentangnya
selain bagaimana ia nanti akan mencukupi kehidupannya. Tinggal di sana, ia akan bekerja apa untuk
menafkahi hidupnya?Berjualan makanan lagi seperti saat di sini, saya merasa tak yakin itu sebuah
solusi cerdas sebab saya bisa menakar tingkat daya beli orang-orang pesisir ini.
Namun, kekhawatiran saya tak terbukti. Hanif jauh lebih cerdas dari saya yang saya sempat
bayangkan. Dengan 'kemahirannya' memikat hati, ia bisa diterima masyarakat yang kini mayoritas
bukan lagi beragama islam. Kepiawaiannya bergabung dengan kelompok mana pun membuat
'tenaganya' laku dan banyak yang menawar. Banyak pekerjaan-pekerjaan kecil yang diamanahkan
kepadanya dan darinya ia memperoleh upah yang -kendati kecil- bisa dipakainya menutup semua
pengeluaran.
Sama seperti sebelumnya, di sini ia ngontrak di sebuah rumash sederhana. Tak sampai menunggu
tahun, ia telah dibebaskan dari uang kontrak sebab pemilik rumah telah menganggapnya sebagai
anak sendiri.
Hal yang menakjubkan adalah... ketika sang pemilik rumah – yang semula adalah korban
murtadisasi itu- menyatakan keinginannya untuk kembali pada islam. Lelaki sepuh itu bahkan di
kemudian hari menjadi salah satu pembelanya. Ya, fitnah untuk Hanif merebak dan membuat orangorang
kampung meradang, naris menggelandangnya ke tanah lapang, laksana maling ayam yang
ditangkap massa.
Saat itu, dengan tegar dan tangan terentang, sang lelaki sepuh berusaha menenangkan massa,
menjadi saksi sekaligus pembela bahwa Hanif tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan. Sebuah
pembelaan yang mahal ia tebus, yakni kebencian orang-orang kampung.
Tibalah waktunya, kabar dari Hanif itu membuat saya terlengak.
“Menikah?”
“Ya. Bukankah aku telah cukup umur untuk menikah, Wie?”
“Tapi...” Tak sempat saya menyelesaikan kalimat. Saya melihat seoran gadis yang ia perkenalkan.
Wanita inikah yang ia pilih?
Saya nyaris tak bisa menerima, lebih tepatnya kecewa. Seorang gadis dengan baju lengan pendek
yang dipadu dengan celana jeans, tanpa penutup kepala, berdiri di sampingnya.
Sungguh, saya tak bisa menerima kalau keputusan ini yang diambil Hanif. Oleh karena itu saya
memburunya ke tempatnya tinggal, menuntut pertanggungjawaban atas pilihan itu.
“Bukankah telah aku katakan, jika suatu saat aku memutuskan untuk menikah, aku ingin menikah
karena dakwah, bukan karena aku tertarik dengan wanita tersebut.”
panjang lebarlah ia bercerita, tentang sang lelaki sepuh yang beberapa kali datang kepadanya,
memintanya untuk menikahi salah seorang putrinya. Sebuah harapan yang luar biasa dari orang tua
yang menginginkan hidayah kembali datang kepada anak-anaknya.
Awalnya saya menyangkal niat itu, dalam sebuah pertaruhan yang saya bilang konyol. Saya bilang
konyol sebab tak ada jaminan apa pun wanita itu akan masuk islam dan berkafah di dalamnya.
“Banyaklah istri Rasulullah yang beliau nikahi dalam keadaan yahudi,” jawab Hanif. “Saya hanya
ingin mengajakmu berpikir sebaliknya janganlah bertanya tentang apa yang akan saya dapatkan jika
saya menikahinya. Namun, bertanyalah apa yang akan islam dapat jika saya tidak menikahinya.”
Allahu Rabbuna...!
memanglah seperti yang ia katakan. Akan sangat banyak akses yang terjadi jika ia menolak
pinangan itu. Efek yang berpengaruh langsung pada Islam itu sendiri.
Ya, memang sekaranglah saat yang tepat baginya untuk menikah, dengan atau tanpa belitan
masalah. Sebab baginya, dakwah adalah di atas segala-galanya.