Oleh : Salim Akhukum fillah
Seringkali aku merasa jengah dan sungkan
Bicara tentang saudara kita yang terhimpit derita kemiskinan
Sebab sesungguhnya mereka lebih terhormat di mata alam
Sebab sesungguhnya mereka mungkin lebih berharga di mata Tuhan...
(Ebiet G. Ade)
Seperti Mas Ebiet, saya juga merasa jengah dan sungkan. Amat sangat. Lebih lagi ketika saya harus berbicara tentang akhlaq. Alloh... Ijinkan kemudian saya mencoba bukan untuk berbagi,tapi untuk belajar bersama. Bahkan saya yang harusnya lebih banyak belajar dari antum. Gumam saya,seperti akhir bait Mas Ebiet, "Akan ku tulis tebal-tebal, pelajaranmu lewat diam. Akan kusimpan dalam-dalam pelajaranmu lewat diam."
Tetapi mau tak mau,jemari harus menari di atas tuts. Maka biarlah ia sedikit bercerita tentang orang lain yang begitu mulia. Ini tempat bercermin diri,meski cermin itu jauh di langit sana dan kita sedang berada di jurang atau di dasar sumur yang gelap. Tetap ada seberkar cahaya, insyaalloh,jika kita memang mau menyambut cahaya.
"Tiadakah engkau perhatikan bagaimana Alloh telah membuat suatu perumpamaan. Kalimat yang baik adalah umpama pohon yang baik. Akarnya teguh dan cabangnya sampai ke langit. Ia memberikan buahnya di tiap musim dengan izin Rabbny..." (Ibrahim 24-25)
Bangunan iman kita seperti pohon ini. Ada 'aqidah yang menghunjam, teguh, terpatri dalam benak. Ia tersembunyi. Tetapi eksis. Keyakinan yang teguh pada Alloh, mengakar ke sumber kehidupannya. Ada ibadah yang pengaruhnya dinikmati banyak orang. Sholat yang mencegah keji dan munkar. Puasa yang mengajarkan empati pada sesama. Zakat yang mengajak semua untuk berbagi. Dan haji, yang membuat kita semua sinergi, merasa kecil di hadapan Alloh Yang Maha Besar. Dahan-dahan ibadah ini sampai ke langit, menjulang menyadarkan.
Nah, sekarang buah itu. Akhlaq. Seorang mukmin memberikan buahnya pada setiap musim, pada segala kondisi dengan ijin Alloh. Siratan yang indah tentang manisnya kemanfaatan bergaul bersamanya. Semua sisi hidupnya manis dinikmati orang-orang di sekitarnya. Ia, bermanfaat kapan saja, dalam kondisi apapun.
Diamnya bermanfaat, bicaranya apalagi. Cemberutnya bermanfaat, senyumnya bermanfaat. Tawanya bermanfaat, tangisnya bermanfaat. Gembiranya bermanfaat, sedihnya bermanfaat. Sabarnya bermanfaat, marahnya memberi pelajaran. Duduknya bermanfaat, berdirinya bermanfaat. Dalam tidurnya ada manfaat, terjaganya lebih-lebih lagi. Berjalannya memberi manfaat, berhentinya memberi manfaat. Saat ada banyak nikmat menyambangi, ia berbagi. Saat mushibah menimpa, ada banyak pelajaran dari dirinya. Saat luang, ia memberi manfaat sebagaimana saat sibuk. Saat muda memberi manfaat, sampai pun saat tua. Saat sehat memberi manfaat, begitupun saat sakit. Saat kaya memberi manfaat, tak kurang juga di saat miskin. Saat hidup memberi manfaat, begitupun saat wafat. Semua sisinya memberi manfaat bagi sekelilingnya.
Ah, akhlaq. Betapa jauh kita darinya. Tetapi yang menjadi acuan setidak-tidaknya, "Seorang mukmin itu adalah seseorang, di mana orang lain senantiasa merasa aman dari lisan dan tangannya." jikapun 'belum berbuah',minimal kita tak berduri dan tak beracun. Nah, kira-kira sulit tidak?
Alhamdulillah tatimmushshôlihåt.. Astaghfirulloha 'alå kulli dzanbin..